Mahasiswa adalah kelompok yang memiliki kecerdasan dan pemikiran, serta memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sebagai orang yang mampu mengubah dan mengawasi masyarakat. Namun, di dunia nyata, tidak semua mahasiswa bisa menjalankan peran tersebut dengan baik dan maksimal. Beberapa mahasiswa masih menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma akademik maupun norma sosial yang berlaku. Fenomena ini menunjukkan bahwa para mahasiswa, terutama yang sedang dalam masa remaja akhir, masih bisa terpengaruh dan melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan norma atau kenakalan remaja.
Kenakalan remaja yang dilakukan oleh mahasiswa tidak selalu berupa tindakan kejahatan berat, tetapi juga bisa muncul dalam bentuk pelanggaran di bidang akademik dan sosial yang sering terjadi dan dianggap lumayang dalam kehidupan di kampus. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap mahasiswa Ilmu Politik Universitas Andalas Angkatan 2025 Kelas A, ditemukan berbagai bentuk perilaku yang tidak sesuai dengan norma dan sering terjadi di lingkungan perkuliahan mereka.
Perilaku menyimpang yang paling umum terjadi adalah ketidakhadiran dan ketidakpatuhan terhadap aturan yang berlaku di lingkungan pendidikan. Perilaku itu mencakup datang terlambat ke kelas, tidak hadir sama sekali, memberi tahu orang lain untuk menggantikan nama saat absen, tidak menyerahkan tugas tepat waktu, menjiplak karya orang lain, dan mencontek saat ujian. Banyak mahasiswa merasa tindakan itu biasa saja, sehingga mereka terus melakukannya tanpa merasa salah. Padahal, tindakan itu bisa merusak integritas akademik dan mengurangi kualitas pendidikan di lingkungan kampus.
Selain melanggar aturan akademik, juga terjadi perilaku yang agresif dan tindakan penyimpangan sosial lainnya, seperti menggunakan bahasa kasar kepada dosen atau teman, menyebarkan ucapan negatif di media sosial, melakukan perundungan (bullying), hingga tindakan cyberbullying. Perkembangan teknologi digital membuat cara anak muda bermain dan bersikap semakin beragam, karena sering kali media sosial digunakan tanpa ada pengawasan dan tanggung jawab.
Dalam beberapa situasi, perilaku menyimpang bisa muncul sebagai tindakan yang merugikan diri sendiri, seperti meminum minuman beralkohol, berjudi, dan menggunakan narkotika. Meskipun bukan hal yang sering terjadi, tindakan tersebut masih mendapat perhatian karena bisa menyebabkan dampak negatif pada kesehatan fisik, mental, dan masa depan para mahasiswa.
Fenomena perilaku menyimpang di kalangan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak aspek, baik yang berasal dari dalam diri mereka sendiri maupun dari luar. Faktor internal terkait dengan keadaan individu mahasiswa, seperti kurangnya kesadaran diri, kontrol diri yang lemah, motivasi belajar yang rendah, sifat malas, kesulitan dalam manajemen waktu, stres akibat tugas akademik, dan ketidakmampuan dalam menghadapi tekanan di kampus. Perpindahan dari sekolah ke perkuliahan juga membuat beberapa mahasiswa tidak siap untuk menghadapi kebebasan serta tanggung jawab yang lebih besar.
Di sisi lain, faktor eksternal berasal dari lingkungan sosial mahasiswa. Pengaruh teman sebaya menjadi salah satu elemen yang paling kuat. Mahasiswa sering kali menirukan perilaku kelompok demi diterima dalam pertemanan mereka. Ketika kelompok tersebut memiliki kebiasaan buruk, maka kemungkinan individu untuk terjerumus dalam perilaku menyimpang pun meningkat.
Keluarga juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter mahasiswa. Kurangnya perhatian, pengawasan, dan komunikasi dalam keluarga dapat membuat mahasiswa mencari pelarian di luar rumah dan lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Aspek lingkungan akademik pun berkontribusi pada munculnya perilaku menyimpang, terutama jika kontrol terhadap pelanggaran akademik lemah dan pembinaan karakter belum dilaksanakan secara maksimal.
Perkembangan teknologi dan media sosial juga menjadi faktor baru yang mempengaruhi perilaku mahasiswa. Akses informasi yang mudah membuat mahasiswa lebih mudah terpapar konten negatif, budaya instant, dan perilaku yang tidak sejalan dengan etika akademik. Selain itu, teknologi sering disalahgunakan untuk praktik plagiarisme dan berbagai bentuk ketidakjujuran akademik lainnya.
Untuk mengatasi perilaku menyimpang di kalangan mahasiswa, perlu dilakukan upaya pencegahan dan penanganan secara komprehensif. Tindakan preventif dapat dilakukan melalui pendidikan karakter, penguatan etika dan integritas akademik, peningkatan literasi digital, serta penyediaan kegiatan positif yang dapat mengembangkan potensi mahasiswa. Suasana kampus juga harus diciptakan agar menjadi lingkungan akademik yang mendukung, sehingga mahasiswa merasa nyaman dan termotivasi untuk berkembang dengan baik.
Selain itu, pendekatan represif juga diperlukan, seperti memberikan sanksi terhadap pelanggaran yang dilakukan mahasiswa. Penerapan aturan yang jelas bertujuan untuk memberikan efek jera dan menjaga ketertiban di lingkungan kampus. Namun, penanganan perilaku menyimpang tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman. Mahasiswa yang melanggar juga perlu mendapatkan pendekatan kuratif melalui konseling, pembinaan, dan pendampingan untuk membantu mereka memperbaiki diri.
Dengan demikian, kenakalan remaja di kalangan mahasiswa adalah fenomena sosial yang dipengaruhi oleh berbagai faktor dan tidak boleh diabaikan. Perilaku menyimpang yang dibiarkan dapat merusak lingkungan akademik dan memengaruhi masa depan mahasiswa itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara mahasiswa, keluarga, dosen, dan pihak kampus dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang disiplin, sehat, dan berintegritas agar mahasiswa dapat tumbuh menjadi generasi muda yang bertanggung jawab dan berkualitas.





No comments:
Post a Comment