Merawat Kebhinekaan: Toleransi Beragama di Kampus dan Masyarakat - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Wednesday, June 10, 2026

Merawat Kebhinekaan: Toleransi Beragama di Kampus dan Masyarakat

Oleh: Muhammad Ridho Andesky mahasiswa ilmu politik universitas Andalas 


Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan kekayaan agama yang sangat beragam di dunia. Dari Sabang hingga Merauke, jutaan penduduknya hidup berdampingan dengan berbagai keyakinan mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, hingga kepercayaan lokal yang telah ada jauh sebelum negara ini berdiri. Keberagaman ini bukan hanya sekadar angka statistik; ia juga merupakan warisan sejarah serta identitas bangsa. Namun, warisan yang berharga ini tidak dapat berkembang tanpa satu pilar yang penting: toleransi. Tanpa sikap saling menghargai antar berbagai agama, keberagaman yang seharusnya menjadi kekuatan bisa berpotensi menimbulkan perpecahan.


Kampus sering dijuluki sebagai "miniatur negara" dan penyebutan ini memiliki alasan yang tepat. Di tempat ini, ribuan mahasiswa dari beragam suku, daerah, dan agama berinteraksi dan belajar bersama dalam satu ekosistem akademis. Lingkungan ini menjadikan kampus sebagai tempat yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai toleransi sejak awal.

Praktik toleransi di lingkungan kampus dapat dilihat dari tindakan sederhana namun bermakna. Misalnya, ketika seorang mahasiswa Muslim meminta izin untuk keluar sejenak guna melaksanakan salat Jumat dan teman-teman dari agama lain memahami serta menghormati hal tersebut, itulah contoh konkret dari toleransi. Begitu pula saat forum diskusi akademis mempertemukan mahasiswa dengan keyakinan berbeda, namun tetap berlangsung dengan sikap yang tenang dan argumentasi yang sehat bukan dengan menyerang satu sama lain.

Organisasi kemahasiswaan yang inklusif juga memainkan peran yang sangat penting. Unit kegiatan mahasiswa yang terbuka untuk semua kelompok, tanpa memandang latar belakang agama, menciptakan ruang kebersamaan yang alami. Di sinilah benih persahabatan antariman mulai ditanam persahabatan yang nantinya akan menjadi modal ketika mahasiswa memasuki masyarakat yang lebih luas.


Di luar kampus, tantangan toleransi beragama muncul dalam kehidupan sehari-hari yang lebih rumit. Masyarakat Indonesia sebenarnya telah lama memiliki budaya kebersamaan yang menjadi wadah alami bagi toleransi. Contohnya, semangat gotong royong telah menyatukan warga dari berbagai agama untuk membangun jembatan, membersihkan lingkungan, atau membantu tetangga yang mengalami musibah tanpa mempertanyakan latar belakang agama satu sama lain.

Kerukunan antar tetangga yang berbeda agama juga terlihat dalam perayaan-perayaan agama. Saat umat Muslim merayakan Lebaran, tetangga non-Muslim ikut membantu persiapan acara; sebaliknya, saat Natal atau Nyepi tiba, giliran tetangga lainnya yang memberikan ruang dan penghormatan. Tindakan kecil ini adalah contoh nyata dari toleransi.

Hal penting lainnya adalah menghindari prasangka buruk terhadap penganut agama lain. Stereotip dan generalisasi negatif sering kali menjadi awal dari perpecahan. Dengan menjalin komunikasi yang terbuka dan memandang sesama manusia secara utuh bukan hanya sebagai representasi agama mereka masyarakat dapat menciptakan keharmonisan yang berkelanjutan.


Di era digital, toleransi menghadapi tantangan baru yang signifikan. Misinformasi dan ujaran kebencian yang menyebar cepat melalui media sosial sering kali menyebabkan kecurigaan serta permusuhan antaragama. Narasi provokatif disebarkan dengan sangat cepat, dan sayangnya, banyak yang mempercayainya tanpa memverifikasi informasi terlebih dahulu.

Solusinya terletak pada dua aspek utama: pendidikan dan komunikasi. Pendidikan digital perlu diberikan sejak dini supaya masyarakat bisa membedakan antara informasi yang sahih dan yang menyesatkan. Selain itu, perlu digalakkan forum dialog antarumat beragama baik di universitas maupun lingkungan sosial agar pemahaman satu sama lain tidak dibangun atas asumsi, tetapi berdasarkan interaksi dan pemahaman yang sebenarnya.


jadi,Toleransi antar umat beragama adalah tanggung jawab bersama yang tidak terbatas pada usia atau latar belakang. Di dunia kampus maupun di masyarakat, setiap orang memiliki peran untuk menjaga keragaman ini. Indonesia yang damai bukanlah sesuatu yang datang begitu saja tetapi merupakan pilihan yang harus kita ambil setiap hari. Mulailah dari hal-hal kecil: sapa tetangga, hargai perbedaan, dan jaga tutur kata serta tindakan kita di dunia maya.

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS