Nama: Kelompok 3 Project Bahasa Indonesia
Jurusan: Ilmu Politik Fakultas: Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Lingkungan perguruan tinggi menjadi ruang bagi bertemunya berbagai latar belakang budaya, karakter, dan pola komunikasi mahasiswa. Sebagai salah satu institusi perguruan tinggi terkemuka, Universitas Andalas memegang peran penting dalam membentuk etika berkomunikasi mahasiswa agar mencerminkan sikap seorang intelektual.
Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, kajian ini bertujuan untuk melihat lebih dalam bagaimana mahasiswa Ilmu Politik angkatan 2025 menggunakan bahasa mereka sehari-hari, mulai dari bentuk pilihan kata, ranah interaksi, hingga faktor yang memengaruhi cara berbicara di lingkungan kampus.
Secara konseptual, kesantunan berbahasa bukan sekadar menggunakan kata-kata yang manis atau halus, melainkan sebuah kesadaran etis untuk menghargai perasaan dan menjaga harga diri orang yang diajak bicara. Merujuk pada teori Maksim Leech, hal ini terlihat jelas saat mahasiswa berusaha meminimalkan beban atau kesulitan orang lain, menawarkan bantuan tanpa terkesan menggurui, serta menahan diri untuk tidak bersikap defensif saat menerima kritik dari dosen. Konsistensi ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman mendasar yang kuat bahwa tutur kata yang baik adalah kunci untuk menjaga keharmonisan hubungan sosial.
Dalam praktiknya di ranah formal, penerapan etika berbahasa ini terwujud nyata dalam interaksi akademik yang terstruktur, seperti saat diskusi kelas atau presentasi ilmiah. Mahasiswa secara konsisten memanfaatkan penanda kesantunan (politeness markers) seperti kata "izin bertanya" atau "mohon maaf mengganggu". Pilihan kata ini digunakan untuk menghormati posisi dosen serta menjaga jarak profesional yang sehat, baik kepada pengajar maupun sesama rekan kuliah. Cara berkomunikasi yang tertib dan penuh rasa hormat ini pada akhirnya menciptakan atmosfer ruang kelas yang sangat kondusif bagi pertukaran ide dan gagasan.
Namun, narasi ideal mengenai kesantunan ini menampilkan dinamika yang berbeda ketika memasuki ranah informal dan dunia digital. Saat berkumpul di luar jam kuliah, mahasiswa sengaja mengubah gaya bicara menjadi lebih santai, sering menggunakan singkatan, serta mencampurkan kode bahasa lokal (bahasa Minang).
Di sisi lain, ruang digital seperti grup WhatsApp membawa tantangan tersendiri. Ketiadaan intonasi suara dan ekspresi wajah menuntut kehati-hatian ekstra agar pesan teks tidak memicu salah paham, sehingga mahasiswa otomatis menerapkan strategi bahasa ganda yang disesuaikan di dalam grup tersebut. Meskipun gaya ekspresi bahasanya berubah-ubah tergantung situasi, mahasiswa menunjukkan kedewasaan etis yang baik ketika harus mengelola perbedaan pendapat di ruang digital. Saat terjadi perdebatan atau ketidaksepakatan di grup chat kelas, mayoritas mahasiswa tidak langsung menyerang pendapat lain, melainkan menggunakan kalimat pelindung (buffer) untuk menghargai opini sebelumnya sebelum menyisipkan pandangan pribadi. Sikap ini membuktikan bahwa keinginan kolektif untuk menjaga kerukunan dan menghindari konflik masih dipegang.
Lahirnya keragaman gaya bahasa dan tingkat kesopanan ini tentu tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi secara simultan oleh berbagai variabel sosial. Faktor-faktor seperti status peran lawan bicara, tingkat kedekatan hubungan, situasi komunikasi, hingga jenis media yang digunakan secara otomatis memetakan orientasi bahasa mahasiswa. Lebih jauh lagi, internalisasi nilai budaya Minangkabau yang kental dengan ajaran tata krama dengan nilai-nilai “Kato Nan Ampek” turut menjadi jangkar moral yang memperkuat karakter berbahasa mahasiswa di Universitas Andalas.
Oleh karena itu, penguatan kesantunan berbahasa menjadi sangat penting untuk menjembatani perbedaan gaya komunikasi di berbagai ranah interaksi tersebut. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa etika berbahasa tidak sekadar dipandang sebagai formalitas kaku yang hanya dipakai saat berhadapan dengan dosen di dalam kelas, melainkan dapat terinternalisasi secara organik dalam ekspresi digital maupun percakapan santai sehari-hari.
Sebab, hanya melalui lingkungan akademik yang menjunjung tinggi etika berkomunikasi dan rasa saling menghormati, kita dapat menciptakan landasan yang kokoh bagi iklim pendidikan yang lebih baik. Kesantunan berbahasa yang kuat adalah prasyarat untuk melahirkan generasi emas ilmu politik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara etis, santun secara sosial, serta siap memimpin masa depan bangsa dengan penuh integritas.





No comments:
Post a Comment