Oleh : Dita Dwi Indriani Mahasiswa Peternakan Universitas Andalas
Pengolahan hasil ternak merupakan salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya pangan yang bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperpanjang masa simpan bahan pangan. Telur sebagai komoditas unggas memiliki kandungan protein tinggi dan nilai biologis yang baik, namun bersifat mudah rusak (perishable). Tanpa penanganan yang tepat, telur dapat mengalami penurunan mutu yang berdampak pada kualitas konsumsi. Oleh karena itu, diperlukan pengenalan inovasi pengolahan sederhana sejak dini sebagai bagian dari edukasi pangan kepada generasi muda.
Salah satu bentuk pengolahan yang mudah dipahami dan dipraktikkan oleh siswa Sekolah Dasar adalah pembuatan telur asin. Metode ini merupakan teknik pengawetan tradisional melalui proses penggaraman. Garam berperan dalam menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk dengan cara menurunkan aktivitas air (water activity) pada telur. Selain memperpanjang masa simpan, proses ini juga menghasilkan cita rasa khas yang meningkatkan daya tarik konsumsi.
Dalam praktik kegiatan, media pengasinan yang digunakan berupa campuran garam dan batu bata yang telah dihaluskan. Garam berfungsi sebagai agen pengawet alami melalui mekanisme osmosis dan difusi, sehingga mampu menekan aktivitas mikroorganisme serta mengurangi kadar air dalam telur. Sementara itu, serbuk batu bata berperan sebagai media pembawa (carrier) yang membantu melekatkan garam secara merata pada permukaan cangkang telur dan menjaga konsistensi adonan selama proses pemeraman. Penggunaan media ini dipilih karena mudah diperoleh, ekonomis, dan efektif dalam mendukung proses penetrasi garam ke dalam telur.
Pelaksanaan program sosialisasi dan praktik pembuatan telur asin kepada siswa bertujuan untuk memperkenalkan konsep dasar pengolahan pangan secara sederhana dan aplikatif. Melalui pendekatan partisipatif, siswa tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam tahapan pembuatan, mulai dari pemilihan telur yang baik, pembersihan, proses pelapisan dengan media pengasinan, hingga pemahaman mengenai masa pemeraman sebelum telur direbus dan dikonsumsi.
Dampak Edukatif dan Pembentukan Karakter :
Kegiatan edukasi pembuatan telur asin memberikan dampak positif dalam aspek pembelajaran kontekstual. Siswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga kualitas bahan pangan serta mengetahui bahwa bahan sederhana dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Proses ini juga mengenalkan prinsip dasar sains secara praktis, seperti konsep difusi dan pengawetan alami, yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak.
Selain aspek pengetahuan, kegiatan ini turut berkontribusi dalam pembentukan karakter siswa. Praktik langsung mendorong sikap teliti, disiplin, kerja sama, serta tanggung jawab dalam mengikuti setiap tahapan proses. Edukasi berbasis praktik semacam ini menjadi sarana efektif dalam menumbuhkan kreativitas dan rasa ingin tahu anak terhadap pengolahan pangan.
Lebih lanjut, pengenalan keterampilan sederhana sejak usia sekolah dasar dapat menjadi fondasi dalam menumbuhkan jiwa kewirausahaan di masa depan. Meskipun kegiatan ini bersifat edukatif, siswa diperkenalkan pada konsep nilai tambah produk, sehingga mereka memahami bahwa pengolahan dapat meningkatkan manfaat dan nilai suatu bahan pangan.
Dengan demikian, pembuatan telur asin dalam konteks kegiatan edukasi tidak semata-mata merupakan aktivitas teknis, melainkan media pembelajaran yang integratif antara ilmu pengetahuan, keterampilan praktis, dan pembentukan karakter. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa memiliki kesadaran sejak dini mengenai pentingnya pemanfaatan sumber daya pangan secara optimal serta menghargai proses pengolahan hasil ternak sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.





No comments:
Post a Comment