Sumbar, 50 Kota.
Ranah Minang, Sumatera Barat gempar dengan peristiwa sebuah lobang besar di Kabupaten 50 Kota.
Setelah peristiwa bencana Sumatera, Sumut, Aceh, Sumbar, banjir dan tanah longsor di akhir Nopember 2025, kini Sumbar kembali digemparkan oleh peristiwa fenomena alam sebuah lobang besar di Jorong Tepi, Situjuah, 50 Kota, viral di media sosial, dan platform media berita lokal dan nasional sejak 4, Janauari 2026.
Terkait dengan kabar tentang lobang besar di Situjuah, awak media ini Obral Chaniago (Wartawan) mengkonfirmasikan langsung pada ahlinya, ahli geologi, yakni Dian Hadiansyah, ST, MT, di wawancarai khusus dengan posisi sebagai Fungsional Penyelidik Bumi Ahli Muda, Bidang Air Tanah dan Geologi, Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sumbar, Dian Hadiyansyah, ST, MT mengupas fenomena alam lobang besar di Situjuah di kantornya, ketika dikonfirmasi pada Selasa, 6 Januari 2026.
Ahli Geologi jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), Dian Hadiyansyah, menurutnya, "yang kami tau adalah dari photo media sosial, fenomena alam sebuah lobang di 50 Kota, lobang tersebut dengan slinder 7 meter, kedalaman 5 meter. Perihal ini berdasarkan asumsi kami dalam waktu dekat ini akan turun kelapangan, tanah terban ini merupakan fenomena inhole", katanya.
Fenomena geologi, dibawah itu sudah ada rongga, rongga itu biasanya pelarutan batuan atau dari erosi batuan. Ketika batuan terbentuk erosi meninggalkan atap, dimana diatas permukaan tanah merupakan sawah bercocok tanam, maka atap ambruk.
Terkait dengan peristiwa geologi di Jorong Tepi Nagari Situjuah Kecamatan Situjuah Kabupaten 50 Kota, ujarnya, "ada kemungkinan batu kapur atau batu gamping sebagaimana seperti batu kapur yang ada di lokasi penambangan batu kapur bahan semen di Semen Padang", lanjutnya, lagi.
Dugaannya, inhole ini merupakan, ada sungai batu kapur bawah tanah yang saling terkoneksi, atau bisa juga disebut "air hilang" seperti kejadian pada daerah lain. Tapi, sebenarnya, air itu bukan hilang, melainkan inlet air masuk ke rongga gua bawah tanah berbentuk mata air ditumpukkan pasir bawah tanah.
Dan, kemungkinan juga merupakan batu karts. Sesuai ilmu geologi posisi batu kapur jauh di bawah tapi muncul dipermukaan.
Tentang peristiwa yang baru terjadi di Jorong Tepi, Situjuah, ada kemungkinan usia batu kapur tersebut yang jauh di bawah tanah sudah lebih 300 juta tahun dengan berbagai peristiwa alam sebelumnya, seperti ditutupi oleh endapan debu vulkanik.
Inilah dugaan dua kemungkinan yang kami belum tau pasti, karena akan berencana turun kelapangan untuk menyelidiki peristiwa yang sebenarnya.
Namun, dapat dipastikan sebelumnya, di bawah kawah dari lobang itu merupakan batu kapur, atau batu karts, atau pun batuan dari semburan gunung api beberapa waktu yang tak ditentukan. Tapi, materialnya yang pasti, kami pun belum tau pasti karena akan berencana turun menyelidiki.
"Saran untuk mitigasinya, masyarakat dapat menjauhi beberapa jarak aman terlebih dahulu, jangan sampai beramai-ramai mendekati bibir lobang. Karena, kita kan juga belum tau seperti apa kawah atau rongga tanah yang berbentuk gua dibawah tanah tersebut", ajaknya.
"Apakah kawahnya merupakan vertikal lurus, atau dibawah tanah tersebut lebih luas lagi rongga bawah tanah", sebut Dian.
Khusus lobang ini teramat diperlukan terlebih dahulu sebuah penelitian geofisika.
Hingga sekarang peristiwa lobang di Jorong Tepi, Situjuah itu sudah ada tanggapan dari Badan Geologi Pusat melalui platform media sosial Ig lembaga tersebut, lobang di Jorong Tepi Situjuah, merupakan rongga berbentuk buluh atau memanjang.
"Sesuai info yang viral di media sosial, airnya naik lagi dan merembes keatas permukaan atap lobang, ini peristiwa yang sangat, yang harus menjadi catatan lebih penting lagi", seyogianya lobang itu di pagar, agar bibir lobang tidak runtuh. Karena kita ingin tau nantinya, termasuk penyelidik geologi tanah, dan badan pusat geologi perlu tau sejauh mana batas lobang tersebut.
"Kalau sekira sisi bibir lobang itu runtuh, sulit kita nanti menentukan sejauh mana batas lobang tersebut. Lobang besar Situjuah, 50 Kota bakal diteliti Badan Geologi, masyarakat jangan terlalu dekat dengan lobang", pungkasnya.(Obral Chaniago).


































0 Comments