Ticker

6/recent/ticker-posts

Kebidanan di Tengah Budaya Diam Ketika Suara Perempuan Perlu Didengarkan



 Oleh : Siti Mariyam.                                   Nim : 2501041019

 PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN.  FAKULTAS ILMU KESEHATAN.   UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026



Kebidanan selama ini dikenal sebagai profesi yang lekat dengan kehangatan, empati, dan pendampingan. Namun di balik citra tersebut, praktik kebidanan masih menghadapi persoalan laten yang jarang dibicarakan secara terbuka, yakni budaya diam. 

Banyak perempuan menjalani kehamilan dan persalinan tanpa benar-benar menyuarakan apa yang mereka rasakan, bukan karena tidak memiliki pendapat, tetapi karena merasa tidak punya ruang untuk berbicara. Di sinilah kebidanan memiliki peran penting sebagai penjembatan suara perempuan dalam sistem kesehatan.

Dalam banyak layanan kesehatan, perempuan sering dianggap pasif. 

Mereka mengikuti instruksi, menerima keputusan, dan menjalani prosedur tanpa penjelasan yang memadai. Situasi ini tidak selalu disebabkan oleh niat buruk tenaga kesehatan, melainkan oleh sistem yang terbiasa bekerja satu arah. Kebiasaan inilah yang perlahan membentuk budaya diam, di mana perempuan merasa berbicara hanya akan memperlambat proses atau dianggap merepotkan.

Padahal, kehamilan dan persalinan adalah pengalaman personal yang sangat kompleks. Tidak semua keluhan bisa diukur dengan alat medis, dan tidak semua kekhawatiran muncul di hasil pemeriksaan. 

Ketika suara perempuan diabaikan, maka pelayanan kebidanan berisiko kehilangan aspek terpentingnya: memahami manusia di balik kasus klinis.

Bidan berada pada posisi yang strategis untuk mematahkan budaya diam ini. Kedekatan bidan dengan perempuan memberi peluang besar untuk membangun komunikasi yang setara. Namun peluang ini tidak selalu dimanfaatkan secara optimal. 

Tekanan administratif, keterbatasan waktu, dan beban kerja sering kali membuat dialog menjadi hal yang dikorbankan. Akibatnya, bidan terjebak dalam rutinitas teknis dan kehilangan peran reflektif

Opini ini berpandangan bahwa kebidanan yang kuat bukan hanya tentang kemampuan bertindak cepat, tetapi juga tentang keberanian mendengarkan. Mendengarkan bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan sikap profesional yang menuntut kesabaran dan kepekaan. 

Ketika bidan memberi ruang bagi perempuan untuk berbicara, sesungguhnya mereka sedang memperkuat kualitas asuhan itu sendiri.

Penting untuk disadari bahwa perempuan yang merasa didengar cenderung lebih kooperatif, lebih percaya, dan lebih tenang dalam menjalani proses persalinan. Kondisi psikologis ini berdampak langsung pada proses fisiologis. 

Dengan kata lain, mendengarkan bukan hanya soal empati, tetapi juga strategi kesehatan yang rasional dan efektif.

Sayangnya, budaya diam juga diperkuat oleh narasi sosial. Perempuan sering diajarkan untuk “tahan”, “ikut saja kata tenaga kesehatan”, atau “yang penting bayinya selamat”. 

Narasi semacam ini secara tidak langsung menormalkan pengalaman tidak nyaman dan mengabaikan kesehatan mental ibu. Di sinilah bidan memiliki peran edukatif untuk mengubah cara pandang tersebut, baik kepada pasien maupun masyarakat luas.

Pendidikan kebidanan perlu menyiapkan bidan sebagai komunikator yang andal. Keterampilan ini tidak kalah penting dibandingkan tindakan klinis. 

Mahasiswa kebidanan perlu dibiasakan untuk berdialog, bukan hanya memberi instruksi. Proses ini akan membentuk bidan yang percaya diri, empati, dan berorientasi pada perempuan sebagai subjek utama pelayanan.

 Selain itu, institusi kesehatan perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung komunikasi dua arah. 

Tanpa dukungan sistem, bidan akan terus berada dalam dilema antara idealisme dan realitas. Memberi ruang waktu, mengurangi beban administrasi yang tidak esensial, dan menghargai kualitas interaksi akan sangat membantu meningkatkan mutu pelayanan kebidanan.

Kebidanan sejatinya bukan praktik yang membungkam, melainkan yang memberdayakan. Setiap perempuan berhak memahami apa yang terjadi pada tubuhnya dan berhak menyuarakan perasaannya tanpa takut dihakimi. Ketika bidan berani melawan budaya diam, kebidanan tidak hanya menyelamatkan nyawa, tetapi juga memulihkan martabat.

Pada akhirnya, kualitas kebidanan tidak semata diukur dari keberhasilan prosedur, tetapi dari sejauh mana perempuan merasa didengar dan dihargai. 

Di tengah sistem yang sering terburu-buru, mendengarkan mungkin tampak sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatan sejati kebidanan.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS