Oleh :ANISA KURNIA Nim : 2501041002
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN. UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026
Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Dalam praktik kebidanan modern, waktu sering diperlakukan sebagai variabel teknis: hitungan pembukaan, menit kontraksi, jam observasi, hingga tenggat rujukan. Namun, di balik angka-angka itu, waktu sejatinya tidak pernah netral. Ia membawa makna emosional, sosial, dan kemanusiaan yang mendalam bagi ibu, bayi, dan bidan itu sendiri.
Di sinilah kebidanan menghadapi tantangan besar: bagaimana merawat kehidupan dalam sistem yang semakin menuntut kecepatan.
Bidan hari ini bekerja di ruang yang serba cepat.
Standar operasional harus dijalankan presisi, laporan harus lengkap, target pelayanan harus tercapai. Tidak jarang, kecepatan menjadi simbol profesionalisme.
Ibu yang melahirkan “cepat” dianggap sukses, persalinan yang “terkontrol” dianggap ideal. Namun pertanyaannya, apakah semua proses kelahiran memang harus tunduk pada logika kecepatan?
Persalinan bukan sekadar rangkaian fase biologis. Ia adalah peristiwa eksistensial dalam hidup seorang perempuan.
Tubuh bekerja, emosi bergolak, ketakutan dan harapan bercampur menjadi satu.
Dalam konteks ini, waktu yang dibutuhkan setiap ibu tidak bisa diseragamkan.
Ketika bidan dipaksa melihat jam lebih sering daripada wajah ibu, relasi manusiawi perlahan terpinggirkan.
Di sinilah dilema kebidanan muncul. Bidan memahami bahwa pendekatan individual adalah kunci asuhan bermutu, tetapi sistem sering kali tidak memberi ruang untuk itu.
Ruang bersalin penuh, tenaga terbatas, administrasi menumpuk. Akhirnya, kebidanan berisiko berubah dari praktik empati menjadi praktik mekanis.
Padahal, kekuatan utama kebidanan justru terletak pada kemampuan hadir secara utuh.
Kecepatan memang penting dalam kondisi kegawatdaruratan. Tidak ada yang menyangkal nilai ketepatan tindakan medis.
Namun, ketika kecepatan menjadi norma di semua situasi, kita patut bertanya: apa yang hilang?
Yang sering terlewat adalah waktu untuk mendengar. Mendengar keluhan ibu tanpa tergesa. Mendengar kecemasan yang tidak tercatat di lembar observasi.
Mendengar intuisi kebidanan yang lahir dari pengalaman dan kepekaan.
Opini ini berangkat dari keyakinan bahwa bidan bukan sekadar pengelola proses biologis, tetapi penjaga ritme kehidupan. Ritme ini tidak selalu cepat. Ada kalanya ia lambat, membutuhkan kesabaran, membutuhkan keberanian untuk tidak terburu-buru. Menahan diri untuk menunggu sering kali lebih sulit daripada bertindak cepat. Namun justru di situlah profesional isme kebidanan diuji.
Pendidikankebidanan seharusnya tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga keberanian etis. Keberanian untuk bersuara ketika prosedur tidak sepenuhnya berpihak pada ibu. Keberanian untuk mempertahan kan praktik yang humanis di tengah tekanan sistem. Keberanian untuk menyadari bahwa efisiensi tidak selalu identik dengan kualitas.
Selain itu, masyarakat juga perlu mengubah cara pandang terhadap persalinan. Narasi tentang kelahiran “cepat dan instan” sering kali menempatkan ibu dalam tekanan psikologis. Ketika proses tidak sesuai ekspektasi, ibu merasa gagal.
Di sini peran bidan sangat penting sebagai edukator yang meluruskan pemahaman: setiap persalinan memiliki waktunya sendiri, dan semua proses yang dilalui dengan aman adalah keberhasilan.
Kebidanan yang bermakna adalah kebidanan yang mampu menyeim bangkan jam dan rasa.
Menggunakan waktu sebagai alat keselamatan, bukan sebagai alat tekanan. Bidan yang baik bukan hanya yang cekatan, tetapi yang hadir. Hadir secara fisik, emosional, dan profesional.
Pada akhirnya, masa depan kebidanan tidak hanya ditentukan oleh kemajuan teknologi atau kebaruan regulasi, tetapi oleh pilihan nilai yang dipegang para bidan. Apakah kebidanan akan menjadi praktik yang serba cepat namun dingin, atau tetap menjadi ruang hangat bagi kehidupan yang baru dimulai?
Ketika bidan mampu memaknai waktu bukan sekadar satuan menit, tetapi sebagai ruang kemanusiaan, maka kebidanan akan tetap relevan, berdaya, dan bermartabat di tengah dunia yang terus berlari tanpa henti


































0 Comments