Ticker

6/recent/ticker-posts

Kebidanan dan Hak Perempuan: Mengapa Pendampingan Tidak Bisa Digantikan Prosedur



 oleh : Azalia delva azzahra Nim : 2501041028

PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026


Dosen Pengampu :  Dr. Amar Salahuddin, M.Pd

 


Setiap hari, ribuan perempuan menjalani kehamilan dan persalinan dengan satu harapan sederhana: merasa aman dan diperlakukan dengan hormat. Namun dalam praktik pelayanan kesehatan, harapan ini tidak selalu terpenuhi. 

Di tengah upaya menekan angka kematian ibu dan bayi, kebidanan kerap terjebak pada rutinitas prosedur dan target administratif. Padahal, kebidanan bukan hanya soal keselamatan klinis, melainkan juga tentang pemenuhan hak dan martabat perempuan.

 

Bidan adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan perempuan dalam fase reproduksi. Mereka hadir sejak masa kehamilan, persalinan, hingga nifas. Kedekatan ini menempatkan bidan pada posisi strategis, bukan hanya sebagai pelaksana tindakan medis, tetapi juga sebagai pendamping yang memberi rasa aman. Sayangnya, sistem pelayanan yang serba cepat sering kali membuat fungsi pendampingan ini terpinggirkan.

 

Dalam banyak kasus, perempuan datang ke fasilitas kesehatan dengan rasa cemas, takut, bahkan trauma. Mereka bukan sekadar “pasien” yang membutuhkan pemeriksaan fisik, tetapi individu dengan latar belakang sosial dan emosional yang kompleks. Ketika bidan tidak memiliki cukup waktu untuk mendengarkan atau menjelaskan dengan empatik, pengalaman persalinan bisa berubah menjadi peristiwa yang menegangkan dan membekas negatif.

 

Kebijakan kesehatan selama ini memang banyak bertumpu pada angka dan indikator. Pendekatan ini penting untuk mengukur capaian, tetapi berisiko menutupi kenyataan di lapangan. Keberhasilan persalinan tidak selalu sejalan dengan kepuasan dan kenyamanan ibu. Seorang ibu bisa melahirkan dengan selamat, namun merasa tidak dihargai, tidak didengarkan, atau bahkan diperlakukan secara kasar secara verbal maupun nonverbal. Pengalaman semacam ini sering luput dari laporan resmi.

 

Opini ini menegaskan bahwa kebidanan yang bermutu harus berangkat dari perspektif hak perempuan. Hak untuk mendapatkan informasi, hak untuk bertanya, hak untuk didampingi, dan hak untuk dihormati pilihan serta kondisinya. Bidan memiliki peran penting dalam memastikan hak-hak ini tidak sekadar menjadi jargon kebijakan, tetapi benar-benar hadir dalam praktik sehari-hari.

 

Masalahnya, banyak bidan bekerja di bawah tekanan sistem yang berat. Beban kerja tinggi, keterbatasan tenaga, dan tuntutan administratif sering memaksa bidan memprioritaskan kecepatan daripada komunikasi. Kondisi ini tidak hanya merugikan ibu, tetapi juga berdampak pada bidan itu sendiri. Keletihan emosional dan menurunnya kepuasan kerja menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan.

 

Pendidikan kebidanan perlu memberi perhatian lebih pada aspek komunikasi dan etika pelayanan. Mahasiswa kebidanan seharusnya dibekali kemampuan teknis sekaligus kepekaan sosial. Kemampuan menyentuh hati, mendengar tanpa menghakimi, dan menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami adalah keterampilan yang sama pentingnya dengan tindakan klinis.

 

Di sisi lain, masyarakat juga perlu diedukasi bahwa persalinan bukan lomba kecepatan atau ajang pembuktian ketangguhan perempuan. Setiap proses kelahiran adalah pengalaman unik yang layak dihormati. Ketika bidan dan masyarakat memiliki pemahaman yang sejalan, maka pelayanan kebidanan akan lebih manusiawi.

 

Pendampingan dalam kebidanan bukanlah tambahan yang bisa diabaikan, melainkan inti dari pelayanan itu sendiri. Prosedur medis dapat menyelamatkan nyawa, tetapi empati menyelamatkan pengalaman. Dan pengalaman yang baik akan memengaruhi kesehatan mental ibu, relasi dengan bayi, serta kepercayaan terhadap sistem kesehatan.

 

Pada akhirnya, kebidanan yang kuat adalah kebidanan yang mampu menyeimbangkan standar klinis dan nilai kemanusiaan. Di tengah tuntutan efisiensi, bidan tetap perlu ruang untuk hadir secara utuh bagi perempuan. Sebab, kelahiran bukan hanya awal kehidupan seorang bayi, tetapi juga momen penting dalam hidup seorang perempuan yang tidak boleh direduksi menjadi sekadar prosedur.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS