Disusun oleh : ARLINDA GUSTIAN Nim : 2501041026
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN. UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026
Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Dalam diskursus kesehatan ibu dan anak, keberhasilan kebidanan sering diukur melalui angka: angka kematian ibu, cakupan persalinan di fasilitas kesehatan, presentase kunjungan antenatal, dan berbagai indikator statistik lainnya.
Data memang penting sebagai alat evaluasi dan perencanaan kebijakan. Namun, jika kebidanan hanya dipahami melalui deretan angka, maka esensi profesi ini berisiko tereduksi. Kebidanan sejatinya bukan sekadar soal capaian statistik, melainkan tentang menjaga martabat perempuan dalam setiap fase reproduksinya.
Bidan berada di titik temu antara ilmu medis dan pengalaman hidup perempuan. Mereka menyaksikan kehamilan bukan hanya sebagai proses fisiologis, tetapi sebagai peristiwa yang sarat perubahan psikologis, sosial, bahkan kultural.
Sayangnya, dalam sistem pelayanan kesehatan yang semakin birokratis, pengalaman subjektif perempuan sering tersisih. Fokus layanan bergeser pada pencatatan, target, dan pelaporan, sementara ruang dialog antara bidan dan ibu semakin menyempit.
Ketika seorang perempuan hamil datang ke fasilitas kesehatan, ia membawa lebih dari sekadar tubuh yang perlu diperiksa.
Ia membawa kecemasan, harapan, trauma masa lalu, hingga tekanan sosial dari lingkungan sekitar. Dalam kondisi ini, bidan memegang peran penting sebagai penjaga martabat.
Cara bidan berbicara, mendengarkan, dan menghargai pilihan ibu menjadi penentu apakah perempuan merasa diperlakukan sebagai subjek atau sekadar objek layanan.
Opini ini berpandangan bahwa krisis terbesar kebidanan hari ini bukanlah kurangnya teknologi atau ilmu pengetahuan, melainkan potensi kehilangan nilai kemanusiaan.
Praktik kebidanan yang terlalu berorientasi pada prosedur berisiko mengabaikan konteks individu.
Tidak semua persalinan berjalan sesuai buku teks, dan tidak semua ibu memiliki kemampuan psikologis yang sama dalam menghadapi prosesnya.
Menyamakan semua pengalaman dengan standar kaku justru dapat melukai martabat perempuan.
Bidan seharusnya memiliki otonomi profesional untuk menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan ibu. Namun, otonomi ini sering terhambat oleh regulasi yang menempatkan bidan hanya sebagai pelaksana teknis. Dalam kondisi demikian, bidan dituntut patuh, cepat, dan efisien, tetapi kurang diberi ruang untuk refleksi dan empati. Padahal, kualitas asuhan kebidanan sangat bergantung pada hubungan interpersonal yang kuat.
Pendidikan kebidanan memiliki peran strategis dalam membentuk cara pandang ini.
Mahasiswa kebidanan perlu diajak memahami bahwa kebidanan bukan hanya soal keterampilan klinis, tetapi juga soal sikap dan keberpihakan.
Kurikulum yang terlalu menekankan hafalan dan praktik teknis tanpa penguatan etika dan humanisme berpotensi melahirkan bidan yang kompeten secara prosedural, tetapi lemah secara emosional.
Lebih jauh, menjaga martabat perempuan dalam kebidanan berarti menghormati hak atas informasi dan pengambilan keputusan.
Ibu berhak memahami apa yang terjadi pada tubuhnya, berhak bertanya, dan berhak menyatakan pendapat tanpa merasa dihakimi. Bidan yang mampu menjalin komunikasi setara akan menciptakan pengalaman persalinan yang lebih positif, bahkan ketika situasi medis tidak ideal.
Kebidanan juga memiliki peran penting dalam mengubah narasi sosial tentang perempuan dan reproduksi.
Dengan pendekatan yang edukatif dan empati, bidan dapat melawan stigma, mitos, dan praktik tidak aman yang masih mengakar di masyarakat. Upaya ini mungkin tidak langsung tercermin dalam angka statistik, tetapi dampaknya nyata dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan kebidanan tidak cukup diukur dari rendahnya angka komplikasi, tetapi dari sejauh mana perempuan merasa dihormati dan diberdayakan. Di balik setiap laporan dan data, ada pengalaman manusia yang tidak boleh diabaikan.
Ketika bidan mampu menjaga martabat perempuan dalam praktiknya, kebidanan akan tetap menjadi profesi yang relevan, bermakna, dan bermoral di tengah perubahan zaman.
Kebidanan bukan hanya tentang menyelamatkan nyawa, tetapi juga tentang memastikan bahwa setiap kehidupan dimulai dengan rasa dihargai. Di situlah nilai luhur kebidanan sesungguhnya berada.


































0 Comments