Oleh : INDRIAN GUSTIANI Nim : 2501041035
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN. UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026
Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Kebidanan sering kali dipandang sebatas profesi kesehatan yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Padahal, jika ditelaah lebih dalam, peran bidan jauh melampaui batas ruang bersalin.
Bidan adalah penjaga awal kehidupan, saksi perjuangan perempuan, sekaligus penggerak kualitas kesehatan generasi masa depan.
Di era modern yang ditandai oleh kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, profesi kebidanan menghadapi tantangan besar yang menuntut kemampuan adaptasi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Menurut saya, bidan masa kini berada pada persimpangan penting antara kecanggihan ilmu pengetahuan dan ketulusan empati.
Di satu sisi, teknologi kesehatan berkembang pesat mulai dari alat diagnostik canggih, sistem informasi digital, hingga edukasi kesehatan berbasis media sosial.
Di sisi lain, perempuan hamil tetap membutuhkan kehadiran manusiawi: didengarkan, dipahami, dan didampingi dengan penuh rasa hormat.
Di sinilah bidan memiliki peran yang tak tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Dalam praktiknya, bidan tidak hanya bertugas membantu persalinan normal.
Mereka juga berperan dalam pelayanan antenatal, postnatal, keluarga berencana, hingga edukasi kesehatan reproduksi remaja. Di banyak daerah terpencil, bidan bahkan menjadi satu-satunya tenaga kesehatan yang mudah dijangkau masyarakat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa bidan bukan hanya tenaga medis, tetapi juga pendidik dan penggerak perubahan perilaku kesehatan di tingkat akar rumput.
Namun, tanggung jawab besar tersebut sering kali tidak diiringi dengan kondisi kerja yang ideal.
Beban administratif yang tinggi, keterbatasan fasilitas, risiko kerja, serta tekanan emosional menjadi realitas yang harus dihadapi bidan. Tidak jarang, dedikasi dan pengabdian bidan dianggap sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya,” tanpa perhatian serius terhadap kesejahteraan mereka.
Hal ini, menurut saya, merupakan ironi dalam sistem kesehatan yang justru bergantung besar pada peran bidan.
Selain itu, tantangan kebidanan juga datang dari dinamika sosial dan budaya. Masih adanya mitos, kepercayaan keliru, serta praktik tidak aman dalam kehamilan dan persalinan membuat bidan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik.
Bidan dituntut tidak hanya cakap secara klinis, tetapi juga mampu membangun kepercayaan masyarakat. Pendekatan yang empatik dan menghargai nilai budaya menjadi kunci agar pesan kesehatan dapat diterima dengan baik.
Di era digital, bidan juga menghadapi peluang sekaligus tantangan baru.
Media sosial dapat menjadi sarana edukasi kesehatan yang efektif, namun juga rawan penyebaran informasi keliru.
Opini saya, bidan perlu dibekali literasi digital yang kuat agar mampu menjadi sumber informasi yang benar, terpercaya, dan beretika. Dengan demikian, bidan dapat berperan aktif melawan hoaks kesehatan yang berpotensi membahayakan ibu dan bayi.
Lebih jauh, profesi kebidanan juga berkaitan erat dengan isu keadilan dan hak perempuan.
Bidan berperan penting dalam memastikan perempuan mendapatkan pelayanan yang bermartabat, bebas dari kekerasan, dan menghormati pilihan mereka selama proses reproduksi. Pelayanan kebidanan yang berpusat pada perempuan (women-centered care) bukan sekadar konsep, melainkan kebutuhan nyata untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan dan keluarga.
Oleh karena itu, sudah saatnya kebidanan ditempatkan sebagai prioritas dalam kebijakan kesehatan. Investasi pada pendidikan bidan, pelatihan berkelanjutan, pemerataan penempatan, serta perlindungan hukum dan kesejahteraan harus menjadi perhatian utama.
Masyarakat juga perlu meningkatkan apresiasi terhadap profesi ini, bukan hanya saat bidan dibutuhkan, tetapi juga dalam pengakuan atas peran strategis mereka.
Sebagai penutup, kebidanan adalah profesi mulia yang memadukan ilmu, keterampilan, dan hati nurani.
Bidan bukan sekadar membantu kelahiran bayi, tetapi juga menjaga harapan, martabat, dan masa depan generasi.
Di tengah tantangan zaman, bidan dituntut untuk terus maju tanpa melupakan nilai empati. Karena pada akhirnya, kualitas sebuah bangsa dapat dilihat dari bagaimana ia merawat ibu dan anaknya dan di sanalah bidan berdiri di garis terdepan.


































0 Comments