Ticker

6/recent/ticker-posts

PARADOKS DALAM KETERPURUKAN LITERASI REFLEKSI BUDAYA DI ERA DIGITAL


Oleh : LIA CITRA NOFRIANI                         Nim : 2501041012

 PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN.  FAKULTAS ILMU KESEHATAN.   UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026

 Dosen Pengampu : Dr.Amar Salahuddin, M.Pd


 Indonesia tengah mengalami fenomena yang ironis. Di tengah kemudahan akses informasi melalui gawai pintar, tingkat literasi masyarakat justru menunjukkan tren yang memprihatinkan. 

Paradoks ini mencerminkan bagaimana kemajuan teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas intelektual masyarakat. 

Kondisi ini semakin menarik untuk dikaji karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di Asia Tenggara, namun sekaligus memiliki minat baca yang rendah. 

Esai ini akan mengupas fenomena tersebut dan menawarkan perspektif kritis terhadap budaya baca Indonesia di era digital.

Berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia konsisten berada di peringkat bawah dalam hal kemampuan literasi membaca. 

Fakta ini kontras dengan tingginya penetrasi internet di tanah air yang mencapai lebih dari 70 persen populasi. 

Masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan delapan hingga sembilan jam per hari menatap layar gawai, namun sebagian besar waktu tersebut digunakan untuk mengonsumsi konten-konten ringan seperti video pendek, meme, dan percakapan daring yang tidak substantif. 

Aktivitas membaca buku atau artikel panjang yang membutuhkan konsentrasi dan pemikiran kritis justru semakin terpinggirkan.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat modern. Algoritma media sosial dirancang untuk memberikan kepuasan instan melalui konten-konten yang mudah dicerna dalam hitungan detik. Akibatnya, rentang perhatian manusia semakin memendek. 

Membaca satu halaman buku terasa seperti pekerjaan yang melelahkan dibandingkan menonton sepuluh video berdurasi tiga puluh detik. 

Budaya instant gratification ini secara perlahan mengikis kemampuan masyarakat untuk terlibat dalam pemikiran mendalam dan analitis yang merupakan esensi dari literasi sejati. Lebih jauh lagi, kemampuan untuk memahami argumen yang kompleks, menganalisis informasi secara kritis, dan menyusun pemikiran yang koheren menjadi tumpul karena otak terbiasa dengan stimulus yang cepat dan dangkal.

Sistem pendidikan Indonesia turut berkontribusi terhadap permasalahan ini. Pendekatan pembelajaran yang masih berorientasi pada menghafal dan mengejar nilai ujian membuat siswa kehilangan esensi membaca sebagai proses memahami dan berpikir kritis. 

Buku-buku pelajaran diperlakukan sebagai kewajiban yang harus diselesaikan, bukan sebagai jendela pengetahuan yang membuka wawasan. Ketika lulus sekolah, banyak individu merasa "bebas" dari kewajiban membaca dan memilih untuk tidak melanjutkan kebiasaan tersebut. 

Membaca kemudian dianggap sebagai aktivitas akademis yang tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Dampak dari rendahnya literasi ini sangat luas dan mengkhawatirkan. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, kemampuan literasi yang rendah membuat individu mudah terpengaruh oleh hoaks dan informasi yang menyesatkan. 

Tanpa kemampuan membaca secara kritis dan memverifikasi informasi, masyarakat menjadi rentan terhadap manipulasi opini dan propaganda. Kondisi ini diperparah dengan cepatnya penyebaran informasi di media sosial, di mana berita palsu dapat viral dalam hitungan menit tanpa ada filter yang memadai. 

Dalam konteks ekonomi, rendahnya literasi berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang tidak kompetitif di pasar kerja global. 

Pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, analisis, dan inovasi akan sulit dijangkau oleh individu dengan literasi rendah.

Namun, bukan berarti teknologi digital tidak membawa peluang. Justru sebaliknya, era digital menawarkan demokratisasi akses terhadap pengetahuan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. E-book, jurnal daring, podcast edukatif, dan berbagai platform pembelajaran tersedia secara gratis atau dengan biaya terjangkau. Perpustakaan digital menyediakan jutaan buku yang dapat diakses dengan sekali sentuh. Platform seperti medium, substack, atau blog-blog berkualitas menawarkan artikel mendalam tentang berbagai topik. 

Permasalahannya bukan pada ketiadaan sumber bacaan, melainkan pada mentalitas dan prioritas masyarakat. 

Ketika konten hiburan lebih mudah diakses dan lebih menarik secara visual, konten edukatif yang membutuhkan usaha kognitif lebih besar akan kalah bersaing dalam perebutan perhatian. 

Ini adalah pertarungan antara yang mudah dan yang bermanfaat, dan sayangnya yang mudah seringkali menang.

Untuk keluar dari paradoks ini, diperlukan pendekatan multi-dimensi. Pertama, perlu ada revolusi dalam sistem pendidikan yang mengubah cara membaca diajarkan kepada generasi muda.

 Membaca harus diposisikan sebagai aktivitas menyenangkan yang membuka cakrawala, bukan sekadar tugas akademis. Kedua, perlu ada gerakan literasi masif yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari keluarga, komunitas, hingga pemerintah. 

Ketiga, konten edukatif perlu dikemas dengan cara yang menarik dan sesuai dengan karakteristik konsumsi media digital tanpa menghilangkan substansi dan kedalaman pemikiran.

Pada akhirnya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi merupakan fondasi berpikir kritis yang menentukan kualitas individu dan bangsa. Kemajuan teknologi tanpa disertai peningkatan literasi hanya akan menghasilkan masyarakat yang pandai mengoperasikan alat namun lemah dalam memahami esensi. 

Indonesia perlu bangkit dari keterpurukan literasi ini jika ingin bersaing di panggung global. 

Paradoks kemajuan dalam keterpurukan literasi harus segera diakhiri dengan kesadaran kolektif bahwa membaca bukan luxury, melainkan necessity untuk menciptakan generasi yang cerdas, kritis, dan berdaya saing.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS