Padang, -Jurnalis Sumbar
Festival yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang berlangsung meriah dan sukses, dilaksanakan di Mesjid Raya Pauh dengan pembiayaan bersumber dari pokok-pokok pikiran (pokir) Anggota DPRD Kota Padang periode 2024-2029 dari fraksi PKB Yusri Latif yang mewakili daerah pemilihan Pauh dan Lubuk Kilangan.
Kemaren penutupan festival silek tradisi ditutup oleh Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Syamdani yang mewakili Dinas. Acara penutupan silek ini dilaksanakan malam, pada hari Minggu (25/10/2026).
"Melalui festival silek tradisi ini, kita berharap warisan pada leluhur tidak hanya menjadi kenangan, tetapi kita hidupkan lagi dan untuk dipelajari diwariskan kepada generasi muda," ucap Syamdani Kabid Kebudayaan.
Kegiatan silek ini diadakan dengan tujuan menjadi ruang bagi pelaku silat untuk dapat melestarikannya sekaligus mengenalkan nilai kepada generasi muda.
Festival silek tradisi di kecamatan Pauh, Kota Padang menampilkan 10 sasaran silek Minangkabau selama 2 malam, Sabtu-Minggu (24-25 Oktober 2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk membangkitkan kembali minat generadi muda terhadap silek tradisi Minangkabau, sekaligus memperkuat kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga identitas budaya daerah.
Syamdani mengatakan, silek tradisi bukan sekedar seni bela diri, melainkan bagian dari warisan kebudayaan yang mengandung nilai kebersamaan, pembentukan karakter, dan semangat bermasyarakat. Menurutnya ditengah pesatnya perkembangan teknologi, generasi muda perlu memiliki ruang untuk menyalurkan energi melalui kegiatan positif yang memperkenalkan mereka kepada tradisi daerah.
“Dengan adanya silek tradisi, kita berharap anak-anak muda bisa lebih terarah, lebih bersemangat, serta mengembangkan kebersamaan dan tidak individualistis,” ujarnya.
Juga berharap anak-anak muda tidak hanya mengenal silek ketika menyaksikan festival, tetapi juga bersedia belajar secara langsung di sasaran-sasaran silek yang ada di Kota Padang.
Dukungan orang tua dinilai penting untuk mendorong keterlibatan anak-anak dalam kegiatan tersebut. Selain mengenal budaya, mereka juga dapat mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat dan memperluas pergaulan melalui lingkungan yang positif.
Syamdani menjelaskan, silek tradisi memiliki perbedaan dengan silek prestasi. Silek prestasi berorientasi pada kompetisi olahraga, sedangkan silek tradisi lebih menitikberatkan pada pelestarian kebudayaan dan pewarisan nilai-nilai tradisional.
Karena itu, Festival Silat Tradisi tidak semata-mata bertujuan mencari pemenang, tetapi menjadi ruang untuk memperkenalkan dan menghidupkan kembali tradisi Minangkabau di tengah masyarakat.
Ia mengajak tokoh adat, alim ulama, orang tua, serta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberadaan sasaran-sasaran silek.
Menurutnya, tradisi hanya dapat bertahan apabila masih ada masyarakat yang mempelajari, menjalankan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Tanpa regenerasi, sejumlah tradisi berisiko kehilangan pendukung dan perlahan-lahan tersisih oleh perubahan zaman. Karena itu, festival diharapkan menjadi pintu masuk untuk membangun ketertarikan yang berkelanjutan terhadap silek tradisi.
Festival Silat Tradisi ini turut mendapat dukungan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) Yusri Latif anggota DPRD. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengembangan kebudayaan daerah dan membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal serta mempelajari silek tradisi Minangkabau.
Dengan demikian, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau para pelaku seni, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar tradisi silek tetap memiliki tempat di tengah perkembangan Kota Padang dan perubahan gaya hidup generasi muda.
Syamdani berharap Festival Silat Tradisi tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Ia menilai, generasi muda membutuhkan kesempatan untuk mengenal budaya daerah secara langsung. Apabila ruang-ruang pengenalan budaya semakin berkurang, dikhawatirkan hubungan generasi berikutnya dengan warisan leluhur juga semakin melemah.
Karena itu, keberadaan festival perlu diikuti dengan pembinaan dan keterlibatan masyarakat, termasuk mendorong anak-anak belajar di sasaran-sasaran silek.
Penutupan festival pada Minggu (25/10/2026) menjadi penanda berakhirnya rangkaian kegiatan, sekaligus pengingat bahw pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama.
Melalui kegiatan tersebut, Kota Padang diharapkan mampu menjaga silek tradisi sebagai bagian dari jati diri Minangkabau, sehingga warisan leluhur tidak sekadar menjadi cerita masa lalu, tetapi tetap dipelajari, dipraktikkan, dan dibanggakan oleh generasi mendatang. (Kitti)


"
/>



No comments:
Post a Comment