Mahasiswa KKN UNP 2026 Kelompok Seulayat Ulakan (Nagari Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman)
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Padang (UNP) 2026 yang ditempatkan di Nagari Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, berhasil mendampingi sembilan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui program digitalisasi dan pembenahan administrasi usaha selama pelaksanaan kegiatan pada tanggal 15–30 Juli 2026. Capaian ini melampaui target awal yang hanya menyasar minimal lima UMKM.
KKN UNP 2026 Kelompok Seulayat Ulakan, yang bertugas di Nagari Ulakan Tapakih, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, diketuai oleh Ikhsan Saputra dengan total 20 orang anggota. Dari jumlah tersebut, sepuluh mahasiswa difokuskan mengerjakan program kerja pemberdayaan UMKM, sementara sepuluh lainnya menjalankan program utama lain milik kelompok. Kegiatan KKN ini didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Riya Fatmawati, S.IP., M.Hum. Sepuluh mahasiswa yang menjalankan program kerja UMKM tersebut adalah Azkia Nurul Hafizah, Aisyah Qoni'ah, Annafi Ilham, Azalfa Ramadhani, Dinda Septiani, Olivya Vidyana Novita, Muhammad Al Aziz, Fikram Ramadhan, Nesya Adira Putri, dan Nur Imela Aqila.
Program pemberdayaan UMKM dan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) ini merupakan salah satu dari empat program utama yang diusung mahasiswa KKN UNP 2026 selama masa pengabdian di nagari tersebut. Sesuai permintaan pemerintah nagari, program ini diprioritaskan untuk empat warung yang dikelola oleh pemuda setempat, sebelum akhirnya diperluas hingga menjangkau sembilan pelaku usaha.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memberikan tiga bentuk pendampingan utama kepada para pelaku UMKM, yaitu pembuatan kode QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai sarana pembayaran digital, penyusunan katalog atau buku menu usaha, serta pembuatan buku kas sederhana untuk membantu pencatatan keuangan. Lima UMKM yang menjadi target awal dan mendapat pendampingan lengkap berupa QRIS, buku katalog, dan buku kas adalah Muara Tiram Paradise, Kedai Ani Yen, Rumah Makan Uni Eka, dan Pondok Baselo Ayang. Muara Tiram Paradise merupakan salah satu warung pemuda yang menjadi prioritas permintaan nagari. Sebagai bentuk pendampingan lanjutan, kami selaku mahasiswa juga membentuk grup WhatsApp bersama kelima pelaku UMKM tersebut. Grup ini bertujuan untuk mempermudah komunikasi antara mahasiswa dan pelaku usaha, sehingga apabila muncul kendala dalam penggunaan QRIS, katalog, maupun buku kas, pelaku usaha dapat langsung bertanya di grup tersebut. Mahasiswa turut bergabung dalam grup ini agar dapat memberikan pendampingan secara berkelanjutan meski masa KKN telah berakhir.
Seiring berjalannya kegiatan, minat pelaku usaha lain turut meningkat sehingga mahasiswa memperluas pendampingan kepada empat UMKM tambahan, yaitu Emi Cell, Lapau Bilo Takana, Kedai Zaili, dan Lapau Yulia. Berbeda dengan lima UMKM target awal, keempat usaha ini hanya meminta dibuatkan QRIS untuk mempermudah transaksi pembayaran. Dari keempat usaha tersebut, tiga di antaranya yakni Lapau Bilo Takana, Kedai Zaili, dan Lapau Yulia juga merupakan warung yang dikelola oleh pemuda nagari, sementara Emi Cell merupakan usaha di luar kategori warung pemuda. Salah satu pelaku usaha yang merasakan langsung manfaat program ini adalah Ayu, pemilik warung Pondok Baselo. Ia mengaku sudah lama ingin memiliki QRIS untuk usahanya, namun terkendala minimnya pengetahuan cara pembuatannya serta keterbatasan waktu untuk mengurusnya sendiri. "Saya sudah banyak menerima pertanyaan tentang QRIS ini, tetapi kakak tidak tahu cara membuatnya dan juga tidak mempunyai waktu. Kakak sudah lama mengharapkan QRIS ini, jadi pembuatan QRIS ini sangat membantu kakak dan pelaku usaha lainnya di sini. Semoga KKN-nya berjalan lancar dan terima kasih banyak kepada adik-adik mahasiswa yang telah bersedia membantu kami para pelaku usaha kecil," ungkap Ayu.
Kehadiran QRIS di warungnya kini memudahkan pelanggan yang ingin bertransaksi secara nontunai, sekaligus membuka peluang usahanya untuk menjangkau lebih banyak konsumen, terutama generasi muda yang terbiasa dengan pembayaran digital. Manfaat serupa juga dirasakan oleh Suardi, pemilik warung Muara Tiram Paradise, salah satu warung pemuda yang menjadi prioritas nagari dalam program ini. Ia mengaku terbantu dengan hadirnya QRIS di warungnya, terlebih karena selama ini pembeli kerap kesulitan membayar secara tunai sehingga terpaksa berutang terlebih dahulu. “Sekarang QRIS sudah ada, jadi pembeli bisa langsung bayar lewat QRIS,” ujar Suardi. Menurutnya, kondisi pembeli yang sering tidak membawa uang tunai selama ini kerap membuat transaksi di warungnya tertunda karena pembeli harus berutang. Dengan adanya QRIS, pembeli kini dapat langsung menyelesaikan pembayaran tanpa harus menunggu ketersediaan uang cash, sehingga transaksi di warung menjadi lebih lancar dan efisien.
Melalui program ini, mahasiswa KKN UNP 2026 berharap para pelaku UMKM di Nagari Ulakan Tapakih tidak hanya lebih adaptif terhadap sistem pembayaran digital, tetapi juga lebih tertib dalam mengelola administrasi dan keuangan usaha melalui buku kas dan katalog menu yang telah disusun bersama. Program pemberdayaan UMKM dan BUMNag ini diharapkan dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi perekonomian masyarakat nagari, sejalan dengan tujuan KKN UNP dalam mendorong penerapan ilmu pengetahuan mahasiswa secara langsung di tengah masyarakat.
(Datang Membangun, Pulang Menginspirasi. Basamo Mangko Manjadi)





No comments:
Post a Comment