Oleh: Ismeisyi Meta Gusti_Mahasiswa Agroekoteknologi Unand
PEMATANG PANJANG — Berkat kepedulian dan inovasi Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) Reguler II, Nagari Pematang Panjang kini memiliki percontohan pengelolaan lahan pertanian ramah lingkungan melalui teknologi lubang resapan biopori. Program ini dirancang untuk menjawab dua permasalahan sekaligus: tanah masam dan padat yang kurang subur serta penumpukan sampah organik rumah tangga yang belum terkelola dengan baik.
Kegiatan yang berlangsung selama sepekan ini diawali dengan survei lokasi pertanian pada Selasa (7/7/2026), dilanjutkan pembersihan lahan dan pembuatan bedengan pada Rabu (8/7/2026), serta puncaknya pada Jumat (10/7/2026) ketika mahasiswa KKN bersama warga melakukan praktik pembuatan lubang biopori di lahan percontohan yang terletak di belakang Kantor Wali Nagari Pematang Panjang.
Program kerja inovatif ini lahir dari hasil observasi awal mahasiswa KKN Unand Reguler II terhadap kondisi lahan pertanian setempat. Berdasarkan pengukuran pH tanah yang dilakukan, lahan di Nagari Pematang Panjang tergolong masam sehingga kurang ideal untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, tingkat kepadatan tanah yang tinggi membuat pori-pori tanah minim, sehingga air sulit menjangkau akar tanaman dan penyerapan nutrisi pun terganggu.
Menyikapi kondisi tersebut, tim mahasiswa KKN Unand yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu mengambil inisiatif untuk memperkenalkan teknologi biopori sebagai solusi terpadu. Sistem ini bekerja dengan membuat lubang vertikal sedalam 30--100 centimeter yang diberi pipa PVC atau botol plastik bekas sebagai saluran resapan. Sampah organik dari dapur dimasukkan ke dalam lubang untuk diurai oleh mikroorganisme tanah, menghasilkan pupuk kompos alami sekaligus meningkatkan daya serap air tanah.
Penanggung jawab program kerja sekaligus mahasiswa KKN Unand, Ismeisyi Meta Gusti, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan memperbaiki kualitas tanah, tetapi juga memberdayakan masyarakat dalam mengelola sampah organik rumah tangga.
"Kami melihat bahwa permasalahan lahan pertanian dan sampah dapur adalah dua hal yang saling berkaitan. Dengan biopori, sampah organik tidak perlu dibuang lagi, melainkan dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur tanah dan menyuburkan tanaman," ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan koordinasi intensif bersama perangkat nagari untuk menentukan lokasi percontohan yang strategis. Setelah lahan ditentukan, tim mahasiswa bersama warga melakukan pembersihan lahan dan pembuatan bedengan sebagai media percobaan. Sebanyak lima bedengan berhasil dibuat, dengan satu bedengan di antaranya dilengkapi empat lubang biopori sebagai pembanding terhadap bedengan lainnya yang tanpa biopori.
Pada praktik pembuatan biopori, mahasiswa mengedukasi petani dan ibu rumah tangga tentang cara membuat lubang yang benar, mulai dari penentuan kedalaman, pemasangan pipa atau botol bekas, hingga pengisian sampah organik secara berkala. Metode ini dipilih karena sederhana, murah, dan dapat diterapkan secara mandiri oleh warga.
Keberhasilan program ini tidak terlepas dari kerja sama yang solid antara mahasiswa KKN Unand Reguler II dengan perangkat nagari dan warga setempat. Dukungan penuh diberikan Pemerintah Nagari Pematang Panjang dalam penyediaan lahan dan fasilitas pendukung lainnya.
Di balik kesuksesan tersebut, tim mahasiswa KKN sempat menghadapi tantangan berupa pandangan remeh sebagian warga yang menganggap biopori hanya sekadar lubang biasa tanpa manfaat nyata. Tidak patah semangat, tim mahasiswa melakukan pendekatan persuasif dengan menunjukkan hasil percobaan secara langsung. Setelah tanaman di bedengan yang diberi biopori tumbuh lebih subur dan hijau dibandingkan bedengan tanpa biopori, warga pun mulai melirik dan kagum akan manfaat teknologi sederhana ini.
Hasil nyata mulai terlihat dari bedengan percontohan. Tanaman yang ditanam di lahan dengan biopori tampak lebih segar dan berdaun hijau, menandakan penyerapan air dan nutrisi yang lebih baik. Selain itu, sampah organik dapur yang dimasukkan ke dalam lubang mulai terurai, sekaligus mengatasi genangan air hujan yang selama ini sering terjadi di titik-titik tertentu.
Warga setempat, khususnya para ibu rumah tangga, mengaku terbantu dengan adanya biopori karena sampah dapur tidak perlu lagi menumpuk atau dibuang sembarangan. Sementara itu, para petani mulai merencanakan untuk menerapkan teknologi ini di lahan mereka masing-masing dengan harapan dapat menghemat biaya pupuk dan menjaga ketersediaan air tanah.
Menariknya, melalui semangat gotong royong dan efisiensi yang dibangun mahasiswa bersama masyarakat, seluruh rangkaian kegiatan ini dapat terlaksana dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang mudah dijumpai di sekitar, seperti pipa bekas, botol plastik, dan sampah organik rumah tangga.
Berkat inisiatif mahasiswa KKN Unand Reguler II, Nagari Pematang Panjang kini memiliki percontohan pengelolaan lahan berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan kesuburan tanah, tetapi juga memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik. Program ini diharapkan menjadi awal dari perubahan positif bagi ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan di Nagari Pematang Panjang.






No comments:
Post a Comment