Dari Lahan Terdegradasi Menuju Lahan Produktif: Upaya Perbaikan Tanah di Belakang Kantor Wali Nagari Pematang Panjang - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Thursday, August 13, 2026

Dari Lahan Terdegradasi Menuju Lahan Produktif: Upaya Perbaikan Tanah di Belakang Kantor Wali Nagari Pematang Panjang

Penulis : Nayla Putri Syakira, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas


Pematang Panjang, Sijunjung — Usaha pemanfaatan kembali lahan terdegradasi dijalankan melalui pemeriksaan kondisi tanah serta penerapan pembenah tanah di area belakang Kantor Wali Nagari Pematang Panjang. Aktivitas ini merupakan bagian dari program kerja yang dilaksanakan oleh Nayla Putri Syakira, mahasiswi Universitas Andalas, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, sebagai bentuk penerapan ilmu dalam pengelolaan dan pemulihan tanah di tengah masyarakat.


Lahan terdegradasi umumnya mengalami penurunan kualitas akibat rendahnya bahan organik, perubahan sifat tanah, serta ketidakseimbangan unsur hara. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan lahan menjadi kurang produktif dan sulit dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. Maka dari itu, dibutuhkan pengenalan kondisi tanah sebagai langkah awal sebelum menentukan upaya perbaikan yang sesuai.

Kegiatan diawali dengan pengukuran pH tanah memakai soil pH meter. Temuan pengukuran awal memperlihatkan nilai pH berkisar 4,5–5,1, yang menunjukkan bahwa tanah berada dalam kondisi masam. Tingkat keasaman tersebut menjadi dasar dalam menentukan perlakuan karena pH tanah berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara dan kemampuan tanaman dalam menyerap nutrisi.

Berdasarkan hasil pengecekan awal, diterapkan lima kombinasi perlakuan pembenah tanah. Bahan yang dipakai meliputi dolomit, pupuk kandang, biochar sekam padi, biochar batok kelapa, kompos, dan asam humat, dengan mikoriza diberikan pada seluruh perlakuan. Salah satu perlakuan juga menggunakan biopori untuk menopang infiltrasi air dan kondisi fisik tanah. Kombinasi tersebut diberikan untuk melihat respons tanah terhadap beragam jenis pembenah selama periode pengamatan.

Setelah perlakuan diberikan, dilakukan monitoring pH secara berkala setiap minggu selama empat minggu. Setiap hasil pengukuran dicatat dan dibandingkan dengan kondisi awal untuk mengetahui perkembangan tanah. Hasil pengamatan menunjukkan adanya kenaikan nilai pH pada seluruh perlakuan. Pada minggu keempat, nilai pH berada pada kisaran 5,9–6,3, yang menunjukkan perubahan dari kondisi awal yang masam menuju kondisi yang lebih mendekati netral.

Perubahan tersebut menunjukkan adanya respons positif tanah terhadap pembenah yang diberikan. Dolomit berperan dalam membantu memperkecil kemasaman tanah, sedangkan pupuk kandang dan kompos menjadi asal bahan organik. Biochar, asam humat, serta mikoriza turut digunakan sebagai bagian dari upaya memperbaiki kondisi tanah dan mendukung lingkungan perakaran. Meskipun demikian, perubahan pH dapat dipengaruhi oleh berbagai aspek sehingga pengamatan selanjutnya tetap diperlukan.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk penerapan ilmu yang didapatkan selama perkuliahan, tetapi juga menyajikan data awal mengenai kondisi lahan terdegradasi di Nagari Pematang Panjang. Hasil pengamatan dapat menjadi informasi bagi Pemerintah Nagari, pemilik lahan, dan masyarakat dalam menentukan langkah pengelolaan lahan selanjutnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahan tersebut dapat terus dipantau dan dikelola secara berkelanjutan. Pengujian parameter tanah lainnya juga dapat dilakukan pada tahap berikutnya untuk memperoleh gambaran kondisi kesuburan tanah yang lebih lengkap. Dengan adanya pengelolaan yang tepat, lahan terdegradasi diharapkan mempunyai kualitas yang lebih baik dan berpotensi dimanfaatkan kembali untuk kegiatan produktif di masa mendatang.



No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS