Oleh. Marsya Nashwa – Mahasiswa Jurusan Akuntansi di Universitas Andalas
Sijunjung, 15 Agustus 2026
Sijunjung — Bersamaan dengan penyusunan rancangan manajemen pariwisata pertama untuk Nagari Pematang Panjang, Marsya Nashwa, mahasiswa program studi S1 Akuntansi Universitas Andalas, merancang sistem dan tata kelola keuangan untuk mendukung operasional sektor pariwisata nagari yang sebelumnya sama sekali belum memiliki mekanisme pencatatan maupun pembagian pendapatan wisata secara resmi.
Mengoperasionalkan Skema Bagi Hasil
Salah satu fondasi utama sistem ini adalah skema distribusi pendapatan yang dirumuskan dalam rencana pengelolaan wisata, yakni pembagian 50 persen untuk Pokdarwis di tingkat jorong sebagai pengelola lokasi, 25 persen untuk BUMNag sebagai reinvestasi infrastruktur dan pemasaran, 15 persen untuk dana konservasi, dan 10 persen sebagai cadangan administratif nagari. Marsya Nashwa kemudian menerjemahkannya menjadi mekanisme keuangan yang bisa benar-benar dijalankan oleh Unit Wisata BUMNag, mulai dari pencatatan transaksi harian, format laporan pemasukan dari tiket dan paket wisata, hingga alur pelaporan yang bisa diaudit secara berkala oleh Pokja Wisata dan Pemerintah Nagari.
Menjawab Kebutuhan yang Selama Ini Kosong
Sebelum ada rancangan ini, Nagari Pematang Panjang belum memiliki sistem pencatatan keuangan khusus sektor pariwisata. Sejatinya, hal tersebut merupakan sesuatu yang menjadi tantangan tersendiri mengingat pengelolaan sektor ini akan melibatkan banyak pihak, mulai dari sebelas jorong, pelaku UKM, hingga pengelola penginapan setempat. Tanpa sistem yang jelas, potensi ketidaktransparanan dalam pembagian hasil dapat menjadi risiko di kemudian hari.
"Kalau kita mendesain manajemen sebuah organisasi, otomatis sistem keuangannya juga harus dirancang berbarengan. Makanya ini saya bersama Melia pastikan dulu rancangan manajemennya. Baru saya teruskan dengan merancang blueprint sistem keuangan yang paling cocok untuk dipakai nagari." ujar Marsya menjelaskan alasan di balik inisiasi program kerjanya itu.
Sistem yang dirancang juga mencakup pos-pos anggaran untuk kebutuhan awal seperti papan penunjuk jalur, pagar pengaman di titik wisata, hingga pelatihan sumber daya manusia. Yang mana elemen-elemen tersebut sejalan dengan estimasi anggaran yang telah disusun dalam rencana pengelolaan wisata, sehingga kedua rancangan saling terhubung sebagai satu kesatuan yang utuh.
Dua Mahasiswa, Satu Ekosistem Pariwisata
Dengan hadirnya kedua rancangan ini secara bersamaan, Nagari Pematang Panjang kini memiliki bekal awal yang cukup lengkap untuk mulai membangun sektor ekowisatanya yang mencakup sisi kelembagaan dan pengembangan produk dari satu mahasiswa, serta sisi tata kelola keuangan dari mahasiswa lainnya. Kombinasi tersebut diharapkan dapat memudahkan Pemerintah Nagari dan calon Pokja Wisata dalam menindaklanjuti rencana ini menjadi langkah nyata, tanpa harus memulai dari nol di kedua sisi sekaligus.
Ke depan, kedua rancangan ini akan diserahkan secara resmi kepada Pemerintah Nagari Pematang Panjang sebagai bagian dari hasil program Kuliah Kerja Nyata, untuk kemudian ditindaklanjuti sesuai kebutuhan dan kesiapan nagari.






No comments:
Post a Comment