Penulis : Dhifa Titania Novindra Putri
Pendampingan mahasiswa KKN Universitas Andalas membantu UMKM olahan daun singkong di Sijunjung memperkuat tata kelola usaha, dari operasional hingga persiapan legalitas.
SIJUNJUNG — Selama bertahun-tahun, Dendeng Delight Relin menjalankan usahanya dengan mengandalkan pengalaman dan kebiasaan. Produk olahan daun singkong yang dipasarkan telah diterima konsumen, namun di balik aktivitas produksi sehari-hari masih tersimpan persoalan yang kerap dialami banyak usaha mikro: harga jual belum dihitung berdasarkan biaya produksi secara menyeluruh, pembagian pekerjaan belum terdokumentasi, serta legalitas usaha belum dipersiapkan secara sistematis.
Kondisi tersebut mulai berubah setelah UMKM yang berlokasi di Jorong Sitampung, Nagari Pematang Panjang, Kabupaten Sijunjung itu memperoleh pendampingan dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas. Pendampingan yang berlangsung dalam dua tahap pada 17 Juli dan 31 Juli 2026 tidak hanya berfokus pada peningkatan produk, tetapi juga membenahi fondasi bisnis agar usaha dapat berkembang secara lebih terukur dan berkelanjutan.
Perubahan pertama yang dilakukan menyasar aspek yang selama ini sering luput diperhatikan pelaku UMKM, yakni struktur biaya produksi. Melalui evaluasi terhadap Harga Pokok Produksi (HPP) dan Harga Pokok Penjualan (HPPen), ditemukan bahwa harga jual sebelumnya belum memperhitungkan seluruh biaya operasional, termasuk penyusutan peralatan dan penggunaan gas. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan usaha dalam menghasilkan keuntungan yang memadai untuk menjaga keberlangsungan operasional.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, harga jual kemasan 200 gram disesuaikan dari Rp20.000 menjadi Rp25.000. Penyesuaian ini bukan sekadar menaikkan harga produk, melainkan membangun struktur usaha yang lebih sehat sehingga keuntungan yang diperoleh dapat dialokasikan untuk perawatan peralatan, pengembangan usaha, maupun keberlanjutan produksi.
Pembenahan tidak berhenti pada aspek keuangan. Agar proses produksi berjalan lebih konsisten, Dendeng Delight Relin kini memiliki modul cetak "Uji Kelayakan Bisnis & Operasional" yang disusun berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Modul enam bab tersebut memuat standar operasional produksi, pembagian tugas tiga anggota tim, pengaturan alur kerja berbasis batch mingguan, hingga pengelolaan limbah dengan pendekatan zero waste. Kehadiran pedoman ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada kebiasaan kerja sehingga setiap proses produksi memiliki standar yang jelas.
Transformasi juga terlihat pada tampilan produk. Kemasan yang sebelumnya belum mencantumkan informasi berat bersih kini diperbarui melalui desain label yang lebih informatif dengan mencantumkan varian berat 100 gram dan 200 gram, komposisi produk, serta tagline yang memperkuat identitas dendeng nabati khas Sijunjung. Perubahan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperkuat posisi produk di pasar.
Selain pembenahan internal, Dendeng Delight Relin mulai mempersiapkan langkah untuk memperluas akses pasar melalui penguatan legalitas usaha. Bersama mahasiswa KKN Universitas Andalas, pemilik usaha memperoleh pendampingan dalam proses awal pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem Online Single Submission (OSS), sekaligus mendapatkan informasi mengenai tahapan pengurusan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan Sertifikat Halal Gratis (SEHATI). Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi agar produk memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan melalui toko oleh-oleh maupun jaringan ritel modern.
Seluruh perubahan tersebut berawal dari proses observasi yang dilakukan mahasiswa KKN Universitas Andalas pada kunjungan pertama. Tim melakukan identifikasi terhadap kapasitas produksi, alur kerja, penggunaan bahan baku, hingga pengelolaan limbah. Temuan di lapangan kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi yang diterapkan pada kunjungan kedua sehingga setiap solusi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan riil usaha.
Pemilik Dendeng Delight Relin mengaku pendampingan tersebut memberikan cara pandang baru dalam mengelola usahanya.
"Kunjungan pertama membuat kami sadar banyak hal yang terlewat, terutama soal ongkos tersembunyi. Saat kunjungan kedua dan modulnya diserahkan, kami sangat terbantu. Kami akhirnya berani menaikkan harga ke Rp25.000 untuk kemasan 200 gram karena sudah dihitungkan modal pastinya. Ditambah lagi label kemasan baru yang lebih cantik dan ada berat bersihnya, kami jadi makin percaya diri buat daftarkan NIB dan PIRT supaya bisa masuk toko oleh-oleh," ujar pemilik Dendeng Delight Relin.
Bagi mahasiswa KKN Universitas Andalas, pendampingan tersebut tidak berhenti pada penyerahan modul maupun rekomendasi perbaikan. Dalam tahap lanjutan, tim akan memantau perkembangan penjualan setelah penerapan harga baru, mengevaluasi konsistensi penerapan standar operasional oleh tiga anggota tim, serta mengawal proses pengurusan PIRT di Dinas Kesehatan Kabupaten Sijunjung.
Transformasi yang dialami Dendeng Delight Relin menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak selalu harus dimulai dari investasi besar atau peningkatan kapasitas produksi. Pembenahan tata kelola usaha, penetapan harga yang sesuai dengan biaya riil, penguatan identitas produk, serta pemenuhan legalitas menjadi langkah mendasar yang dapat memperkuat daya saing usaha. Pendekatan tersebut menjadi fokus pendampingan mahasiswa KKN Universitas Andalas dalam mendorong UMKM lokal agar tumbuh dengan fondasi bisnis yang lebih kokoh.
Perbaikan identitas produk kemudian diikuti dengan penguatan strategi promosi digital. Mahasiswa KKN Universitas Andalas turut membantu memproduksi dan mempublikasikan konten promosi Dendeng Delight Relin melalui berbagai platform media sosial sebagai upaya memperluas jangkauan pasar. Publikasi tersebut tidak hanya memperkenalkan keunikan dendeng nabati berbahan daun singkong kepada khalayak yang lebih luas, tetapi juga mendukung pembentukan citra merek yang lebih profesional setelah dilakukan pembaruan kemasan dan penataan sistem usaha.



"
/>



No comments:
Post a Comment