Oleh: Ara Belia Rhamadani_2410721015 (Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)
Ada yang menarik dari cara sastra anak bekerja. Ia tidak pernah sekadar bercerita. Di balik kalimat-kalimatnya yang sederhana, di balik tokoh-tokoh yang tampak polos, selalu ada sesuatu yang sedang ditanamkan nilai, cara pandang, gambaran tentang apa artinya menjadi anak yang baik. Cerpen “Telah Lahir Anak Hebat” karya Mudjibah Utami adalah contoh yang sangat jelas dari cara kerja itu. Diterbitkan dalam majalah anak Indonesia, cerpen ini mengisahkan Angga, seorang kakak yang terpaksa mengurus adiknya sendirian ketika ibu mereka terlambat pulang akibat hujan deras dan atap kantor yang bocor. Di permukaan, ini hanyalah cerita tentang anak kecil yang memasak telur dan melipat kertas menjadi kapal-kapalan. Namun, jika dibaca lebih dalam, cerpen ini adalah sebuah teks yang dengan cermat membangun citra anak ideal dalam konteks keluarga Indonesia kontemporer.
Untuk memahami bagaimana cerpen ini bekerja, ada baiknya kita mulai dari pertanyaan yang paling mendasar, ia termasuk genre apa, dan apa bedanya dengan bentuk sastra anak yang lain. Dalam tradisi sastra anak, dongeng adalah genre yang paling tua dan paling dikenal. Dongeng hidup dari tradisi lisan, membawa dunia yang penuh keajaiban peri, kutukan, kerajaan tanpa nama, dan tokoh-tokoh yang mewakili kebaikan atau kejahatan secara mutlak. Propp (1968) dalam kajian morfologi dongeng menunjukkan bahwa struktur naratif dongeng sesungguhnya sangat tetap: selalu ada pahlawan, selalu ada penjahat, selalu ada objek magis, dan selalu ada penyelesaian yang membawa kebahagiaan bagi yang baik. Keajaiban adalah mesin penggerak cerita, dan moralitas selalu bersifat hitam-putih.
Cerpen “Telah Lahir Anak Hebat” tidak bekerja dengan cara itu sama sekali. Tidak ada keajaiban di sini, tidak ada tokoh jahat, tidak ada peri yang datang menolong. Yang ada hanyalah sebuah sore yang hujan, seorang ibu yang cemas di kantor, seorang kakak yang bingung harus berbuat apa, dan adik kecil yang rewel minta makan daging ayam. Konfliknya bukan konflik kosmik antara kebaikan dan kejahatan, melainkan konflik yang sangat akrab: kebutuhan sehari-hari yang tidak terpenuhi dan keterbatasan yang harus diatasi dengan akal. Inilah yang dalam kajian sastra anak disebut fiksi realistic genre yang sengaja memilih kehidupan nyata sebagai medannya karena justru di situlah pembaca anak paling mudah menemukan dirinya sendiri (Lukens, 2003). Jika dongeng membawa anak keluar dari dunianya menuju dunia yang fantastis, fiksi realistik justru mengajak anak untuk melihat dunianya sendiri dengan cara yang baru.
Meskipun berbeda secara mendasar, keduanya tetap berbagi satu tujuan: menyampaikan nilai. Hanya saja, caranya berbeda. Dongeng menyampaikan nilai secara eksplisit seringkali bahkan ada kalimat penutup yang secara langsung menyebutkan pelajaran apa yang harus diambil dari cerita. Fiksi realistik, termasuk cerpen ini, memilih jalan yang lebih halus. Nilai tidak diumumkan, melainkan ditunjukkan melalui tindakan tokoh. Pembaca tidak diberitahu bahwa tanggung jawab itu penting; mereka diperlihatkan bagaimana Angga memikul tanggung jawab itu lapis demi lapis mulai dari memantau kondisi adiknya, mencari bahan makanan yang ada di kulkas, hingga menemukan cara kreatif untuk mengolah telur dan nasi menjadi sesuatu yang bisa membuat adiknya berhenti menangis. Cara penyampaian yang demikian, menurut Nurgiyantoro (2013), justru lebih efektif karena pembaca anak terlibat secara aktif dalam proses pemaknaan, bukan sekadar menerima pesan yang sudah dipaketkan.
Di sinilah stilistika cerpen ini menjadi menarik untuk dikaji. Mudjibah Utami membuka ceritanya dengan satu kata tunggal yang berdiri sendiri: “Bres!” Sebelum kita mengenal satu pun tokohnya, sebelum kita tahu di mana atau kapan cerita ini terjadi, kita sudah dihantam oleh bunyi hujan. Ini adalah pilihan stilistik yang sangat disadari. Onomatope “Bres!” tidak hanya mewakili suara ia menciptakan suasana sekaligus membuat pembaca kecil yang mengenali suara itu dari pengalaman mereka sendiri langsung terhubung dengan cerita. Kalimat pertama cerpen ini bukan sebuah deskripsi latar yang panjang, bukan perkenalan tokoh yang formal, melainkan sebuah suara yang tiba-tiba. Dan dari suara itulah seluruh cerita tumbuh.
Pilihan diksi dalam cerpen ini juga patut dicermati. Pengarang secara konsisten menggunakan kata-kata yang dekat dengan dunia anak: “bola-bola nasi,” “kapal-kapalan,” “melap lantai,” “rewel.” Bentuk reduplikasi seperti bola-bola dan kapal-kapalan bukan sekadar pilihan leksikal biasa dalam bahasa Indonesia, reduplikasi memberikan nuansa yang lebih akrab, lebih kecil, lebih lunak. “Kapal-kapalan” terasa berbeda dari “kapal kertas”: kata pertama membawa serta kehangatan dan kekanakan yang tidak dimiliki kata kedua. Pengarang juga menggunakan variasi diksi untuk menggambarkan emosi para tokoh dengan cara yang tidak klise. Ibu yang “terhenyak,” Angga yang “mendesah,” dan akhirnya Angga yang “tersenyum lebar” rangkaian kata ini membangun perjalanan emosional yang dapat dirasakan oleh pembaca meskipun tidak pernah dinarasikan secara eksplisit.
Pada tataran kalimat, pengarang menggunakan struktur yang pendek dan aktif, terutama pada bagian-bagian yang memiliki tempo cepat. Ketika Angga sedang mencari Solusi membuka kulkas, menemukan tepung, membaca resep, mencampur bahan kalimat-kalimatnya pendek dan beruntun, menciptakan ritme yang terasa seperti gerakan tangan yang sibuk bekerja. Ini adalah teknik yang dalam stilistika dikenal sebagai asyndeton: penghilangan konjungsi antara klausa-klausa yang berurutan untuk menciptakan efek kecepatan dan urgensi. Sebaliknya, pada bagian-bagian yang bersifat reflektif terutama adegan penutup ketika Bu Ria berbicara kepada Angga kalimat-kalimatnya menjadi lebih panjang dan penuh, memberi ruang bagi makna untuk mengendap.
Majas yang paling menonjol dalam cerpen ini adalah personifikasi. “Mendung hitam menggantung di langit” adalah kalimat yang memberi mendung sebuah kesengajaan seolah-olah ia memilih untuk menggantung di sana, untuk mengancam, untuk menekan. Personifikasi semacam ini bukan sekadar ornamen bahasa; ia mencerminkan cara anak-anak sesungguhnya memandang dunia. Anak-anak pada usia tertentu belum sepenuhnya memisahkan antara yang hidup dan yang tak hidup, antara yang berkehendak dan yang tidak. Mendung yang “menggantung” terasa nyata dan mengancam bagi pembaca anak karena cocok dengan cara mereka mengalami cuaca buruk bukan sebagai fenomena meteorologis, melainkan sebagai sesuatu yang terasa memiliki niat. Pengarang tidak menggunakan ini secara kebetulan, melainkan karena ia memahami pembacanya.
Sudut pandang naratif dalam cerpen ini juga menyimpan keputusan yang cerdas. Pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, tetapi fokalisasi cerita bergantian antara Bu Ria dan Angga. Bagian pembuka mengikuti perspektif Bu Ria: kita melihat kecemasan seorang ibu yang tidak dapat menghubungi anaknya di rumah dan membayangkan berbagai hal buruk yang mungkin terjadi. Lalu, tanpa peralihan yang terlalu kentara, perspektif bergeser ke Angga, dan kita menyaksikan dari dalam kepala sang kakak bagaimana ia berjuang menghadapi situasi. Pergantian fokalisasi ini menciptakan efek kontras yang efektif kecemasan ibu di satu sisi, dan ketenangan yang dicapai dengan susah payah oleh sang anak di sisi lain. Ketika keduanya akhirnya bertemu di akhir cerita, pembaca telah menghayati situasi dari dua sudut pandang sekaligus sehingga pertemuan itu terasa lebih hangat dari yang seharusnya jika cerita hanya mengikuti satu sudut pandang saja.
Semua pilihan naratif dan stilistik ini pada akhirnya bermuara pada satu fungsi: transmisi nilai. Cerpen ini bekerja sebagai sarana sosialisasi memperkenalkan pembaca anak pada nilai-nilai yang dianggap penting dalam masyarakat Indonesia. Tanggung jawab terhadap keluarga adalah nilai yang paling eksplisit, ditunjukkan melalui setiap tindakan Angga. Namun, ada nilai lain yang bekerja lebih diam-diam: kreativitas sebagai respons terhadap keterbatasan, empati yang mendorong Angga tidak hanya memberi makan adiknya tetapi juga menghiburnya, dan kemandirian yang tidak menutup ruang bagi kerentanan karena Angga tetap merasa lega dan bangga ketika ibunya akhirnya pulang. Nilai-nilai ini tidak dikhotbahkan; mereka ditunjukkan, dan itulah kekuatan fiksi realistik anak dibandingkan pendekatan didaktik yang lebih langsung.
Yang membedakan cerpen ini dari banyak cerpen anak lainnya adalah ia tidak menghukum ambiguitas emosional. Angga boleh frustrasi. Angga boleh bingung. Angga boleh merasa kewalahan. Hal-hal itu tidak serta-merta mengurangi kehebatannya sebagai kakak. Pengakuan Bu Ria di akhir “Angga anak hebat” bukan hadiah atas ketidak berdosaan, melainkan pengakuan atas usaha nyata yang dilakukan di tengah kesulitan nyata. Ini adalah pesan yang lebih jujur dan lebih manusiawi dibandingkan banyak dongeng yang mensyaratkan kepolosan mutlak sebagai prasyarat kepahlawanan. Justru karena lebih jujur itulah, pesan tersebut lebih mungkin diterima dan dihayati oleh pembaca anak yang memang sehari-hari hidup di dalam kompleksitas, bukan di dalam kisah yang serba bersih.
Pada akhirnya, cerpen “Telah Lahir Anak Hebat” adalah teks yang lebih kaya dari penampilan pertamanya. Ia adalah fiksi realistik yang memilih kedekatan dengan kehidupan sebagai kekuatannya, bukan sebagai keterbatasannya. Ia menggunakan stilistika secara cermat dari onomatope pembuka hingga fokalisasi ganda untuk menciptakan pengalaman membaca yang hidup dan bermakna.
Dan ia menyampaikan nilai-nilai bukan sebagai ceramah, melainkan sebagai cerita; bukan sebagai perintah, melainkan sebagai undangan untuk melihat seorang anak biasa yang melakukan hal-hal luar biasa dalam batas-batas dunia yang sangat nyata. Dalam tradisi sastra anak Indonesia, cerpen seperti ini penting bukan hanya karena menghibur, tetapi karena ia membuktikan bahwa sastra bisa menjadi cara paling halus sekaligus paling dalam untuk berbicara kepada anak tentang apa artinya menjadi manusia yang baik.





No comments:
Post a Comment