Nagari Pematang Panjang, 20 Januari 2026 — Dalam rangka memperkuat kualitas pelayanan kesehatan di tingkat nagari, Wali Nagari Pematang Panjang menggelar sosialisasi bertajuk "Komunikasi Efektif dalam Pelayanan dan Peran serta Tanggung Jawab Kader dalam Sistem Kesehatan." Acara yang berlangsung selama satu jam (13.30–14.30 WIB) di Kantor wali Nagari ini dihadiri oleh aparatur nagari, kader kesehatan, serta perwakilan masyarakat. Kegiatan ini dipimpin oleh Ulfa Luthfia 2311313016 mahasiswa Fakultas Keperawatan dan didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Winda Purnama Sari, SP., MP.
Wali Nagari Pematang Panjang, dalam sambutan pembuka, menekankan pentingnya komunikasi yang baik sebagai fondasi kualitas pelayanan kesehatan. "Peran aparatur nagari dan kader bukan hanya penyedia layanan, tetapi juga penghubung antara masyarakat dengan sistem kesehatan nasional. Tanpa komunikasi yang empatik dan responsif, kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan akan sulit terbangun," ujarnya.
Sosialisasi ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman peserta tentang teknik komunikasi yang efektif, termasuk keterampilan mendengarkan aktif, penyampaian informasi dengan bahasa sederhana, serta etika layanan yang ramah. Selain itu, peserta juga disadarkan akan pentingnya peran kader kesehatan sebagai garda terdepan dalam mendampingi masyarakat, terutama dalam program pencegahan dan edukasi kesehatan.
Acara dibagi menjadi tiga sesi utama. Sesi pertama mencakup pemaparan konsep komunikasi efektif, sedangkan sesi kedua fokus pada peran kader kesehatan. Sesi akhir ditutup dengan diskusi interaktif dan studi kasus, di mana peserta mendiskusikan tantangan nyata yang dihadapi di lapangan, seperti kesalahpahaman informasi dari masyarakat atau resistensi terhadap imunisasi.
Dalam sesi komunikasi, Ulfa Luthfia, PJ Program Kerja, menjelaskan strategi menyederhanakan informasi medis agar dapat dipahami masyarakat. "Misalnya, saat menyampaikan manfaat vaksinasi bayi, kita harus menggunakan analogi atau contoh konkret yang relevan dengan kehidupan sehari-hari," papar Ulfa. Studi kasus juga menggambarkan situasi di mana kurangnya komunikasi menyebabkan kebingungan masyarakat, seperti kesalahan penjelasan dosis obat tradisional.
Dosen Pembimbing Lapangan, Winda Purnama Sari, mengemukakan bahwa sosialisasi ini tidak hanya menambah pengetahuan teknis, tetapi juga membangun soft skill para peserta. "Kita ingin para kader kesehatan tidak hanya cerdas dalam pengetahuan medis, tetapi juga cerdas emosional. Sosialisasi ini menjadi medium untuk itu," imbuhnya.
Dalam sesi kedua, peran kader kesehatan lebih ditekankan sebagai jembatan antara masyarakat dan tenaga kesehatan profesional. Peserta diberi pemahatan bahwa kader adalah ujung tombak dalam program seperti Posyandu, imunisasi, dan pencegahan penyakit endemik di nagari.
"Kader tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mendampingi masyarakat secara langsung. Contohnya, saat ada warga yang mengeluhkan sakit luka leher (seperti penyakit gigitan buaya), kader harus mampu memberikan pertolongan pertama atau mengarahkan ke fasilitas kesehatan dengan komunikasi tenang dan persuasif," jelas Ulfa.
Sesi ini juga membahas tanggung jawab kader dalam mengidentifikasi masalah kesehatan berbasis data, seperti tingginya angka stunting atau penyakit menular. Studi kasus yang disajikan melibatkan simulasi pelatihan kader dalam menangani anak stunting dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya gizi seimbang.
Salah satu komponen penting dalam kegiatan ini adalah partisipasi aktif peserta. Diskusi kelompok kecil membahas pertanyaan seperti: "Bagaimana mengatasi ketidakpercayaan masyarakat terhadap kader akibat stigma 'pemboros' atau 'tidak profesional'?" dan "Apa saja strategi untuk mengajak warga menerima program imunisasi massal?"
Seorang kader kesehatan di Nagari Pematang Panjang, Ibu Sari, mengaku banyak belajar tentang pendekatan berbasis budaya. "Di sini, kita diajari untuk memasukkan nilai lokal dalam penyampaian informasi. Misalnya, mengaitkan manfaat hidup sehat ke adat dan tradisi masyarakat, seperti penggunaan tanaman obat tradisional yang aman," ujarnya.
Tidak hanya berhenti pada teori, acara ini diakhiri dengan refleksi bersama, di mana peserta diminta menuliskan komitmen pribadi untuk meningkatkan komunikasi di lapangan. Wali Nagari berharap, hasil sosialisasi akan terlihat dalam tiga bulan ke depan melalui survei kepuasan masyarakat dan peningkatan angka partisipasi dalam program kesehatan.
"Kita ingin memastikan bahwa pelayanan di Nagari Pematang Panjang tidak lagi diwarnai angka kesalahpahaman atau konflik karena kurangnya komunikasi," pungkas Wali Nagari.
Penyelenggaraan kegiatan ini didorong oleh data dari Dinas Kesehatan Kabupaten sebelimbing, yang mencatat bahwa 30% keluhan masyarakat terkait pelayanan kesehatan disebabkan oleh kurangnya transparansi komunikasi. Sementara itu, keberadaan kader kesehatan yang tidak optimal menjadi titik rawan lainnya, dengan laporan bahwa hanya 45% kader di wilayah tersebut menjalani pelatihan komunikasi formal.
"Program ini adalah bentuk tanggung jawab moral kita. Jika komunikasi bisa menuntun ke kesehatan masyarakat, maka kita harus berkomitmen menyiapkan tenaga yang kompeten," tandas Dosen Winda Purnama Sari.
Dengan harapan meningkatkan kualitas pelayanan dan kepercayaan masyarakat, sosialisasi di Nagari Pematang Panjang menjadi contoh kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah nagari, dan masyarakat dalam membangun sistem kesehatan yang berkelanjutan. Acara ini dijadwalkan akan dilanjutkan di nagari lain pada kuartal keempat 2026.
Penulis: Ulfa Luthfia





No comments:
Post a Comment