Oleh: Amanda Gusti Hamida Mahasiswi Antropologi Univeritas Andalas
Nagari tidak hanya berfungsi sebagai ruang tempat tinggal masyarakat, tetapi juga sebagai ruang sosial dan ekonomi yang memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Salah satu sektor yang kini semakin relevan dalam pembangunan nagari adalah pariwisata berbasis potensi lokal. Di Nagari Ampek Koto Palembayan, keberadaan Sarasah Tembok dan Pintu Angin di Jorong Palembayan Tangah serta Hutan Pinus di Jorong Bamban menunjukkan adanya kekayaan alam yang berpotensi menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan dan masyarakat. Secara umum, kawasan tersebut memiliki daya tarik alam yang mampu menjadi alternatif wisata berbasis ekowisata.
Dokumentasi pribadi. Pintu angin di Jorong Palembayan Tangah)
Namun demikian, pengelolaan wisata di tingkat nagari masih menghadapi berbagai tantangan, di antaranya belum optimalnya manajemen destinasi, keterbatasan akses informasi, serta minimnya strategi promosi yang berkelanjutan. Situasi ini tidak sepenuhnya mencerminkan rendahnya kepedulian masyarakat, melainkan menunjukkan masih terbatasnya pendampingan, perencanaan, dan sistem pengelolaan wisata yang terarah.
Dalam perspektif antropologi, kondisi ini dapat dipahami melalui pemikiran Clifford Geertz yang melihat kebudayaan sebagai sistem makna yang dibangun bersama. Suatu kawasan alam baru dapat berkembang menjadi objek wisata ketika masyarakat memaknainya sebagai aset kolektif yang memiliki nilai sosial dan ekonomi. Artinya, proses pengembangan wisata membutuhkan waktu serta proses sosial agar masyarakat dapat melihat potensi tersebut sebagai bagian dari identitas nagari. Pandangan tersebut sejalan dengan konsep local knowledge yang dikemukakan oleh James C. Scott, yang menekankan bahwa masyarakat lokal memiliki pengetahuan mendalam mengenai lingkungan tempat mereka hidup. Pengetahuan lokal ini menjadi modal utama dalam mendukung pengelolaan wisata yang berkelanjutan, khususnya dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan ekonomi dan pelestarian alam. Tantangan yang dihadapi saat ini terletak pada upaya menghubungkan pengetahuan tersebut dengan penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, kelembagaan pengelola, serta pemanfaatan teknologi informasi.
Oleh sebab itu, upaya pengembangan wisata sebaiknya diarahkan pada penguatan komunitas daripada sekadar memberikan kritik terhadap masyarakat. Langkah awal dapat dilakukan melalui pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), peningkatan keterampilan pengelolaan destinasi, serta optimalisasi media digital sebagai sarana promosi nagari. Dalam hal ini, mahasiswa KKN, pemerintah nagari, serta generasi muda memiliki peran strategis sebagai penghubung antara potensi lokal dan perkembangan teknologi digital, misalnya melalui penyusunan peta wisata, pengelolaan media sosial destinasi, maupun pengembangan sistem informasi wisata nagari. Pendekatan kolaboratif menjadi penting karena dalam antropologi pembangunan, keberhasilan suatu program sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat sebagai pelaku utama. Ketika masyarakat merasakan manfaat ekonomi sekaligus penguatan identitas sosial dari aktivitas pariwisata, maka rasa memiliki terhadap destinasi akan tumbuh secara berkelanjutan. Dengan demikian, Sarasah Tembok, Hutan Pinus Bamban, dan Pintu Angin tidak hanya merepresentasikan kekayaan alam semata, tetapi juga peluang strategis dalam mendorong pembangunan Nagari Ampek Koto Palembayan yang berkelanjutan melalui sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pemanfaatan teknologi informasi.






No comments:
Post a Comment