Pedagang Pasarraya Padang Dibantu dengan Platform Merchant Gratis Dinas Perdagangan, 40 Persen Petak Toko Fase VII Dialihkan ke Calon Pedagang yang Baru
Tren 'lama' pedagang Pasrraya Padang harus dirobah dengan cara moderen dan efesien, bernilai promosi digital, live mereportase dagangan sendiri yang dapat terhubungan langsung dengan pengguna platform Media Sosial (Medsos) milik masing-masing pedagang dengan konsumen atau pembeli.
Pedagang kreatif dengan produk baru yang sedang keren dimasanya sebagai upaya menggugah minat pembeli. Pedagang harus pandai menarik perhatian calon pembeli dengan bahasa yang menyenangkan serta melayani konsumen dengan teori baru, sehingga kesan menyenangkan lebih dikedepankan, kata Plt Kepala Dinas Perdagangan Kota Padang, Juni Nur Syamza., St., Tp., MPA saat berbincang khusus dengan awak media ini pada Rabu pagi, 4 Februari 2026.
Menurut Juni, kita secara berangsur-angsur juga memberikan bimbingan teknis kepada pedagang, namun bentuknya bukan secara orang perorangan, melainkan kita memberikan wadah digital yang dapat terkoneksi langsung dengan pedagang yang sengaja mempromosikan barang dagangannya secara live pula.
Terkait ini, sebut Juni Nur Syamza, "aplikasi digital yang dimiliki oleh Dinas Perdagangan, para pedagang bebas menentukan tarif, lokasi toko dan nama toko, serta jenis/rupa produk barang dagangan yang di pajang pada laman umum aplikasi tersebut. Pedagang bertransaksi dan tidak dipungut biaya," ujarnya.
"Saat ini kami bekerjasama dengan marketing perbankan, marketing awner yang telah profesional untuk pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) pedagang," ungkap Juni sebagai upaya mensupport pedagang untuk memperoleh tren baru dalam teknik marketting dari segi mempromosikan barang dagangan guna meninggalkan cara lama yang merugikan secara psikologi.
"Untuk Passaraya sendiri, kami telah mencoba di Fase VII Pasarraya Padang, didatangkan langsung dari Kementerian Perdagangan Pusat, tentang trik laku cara berdagang dan berjualan", ulasnya.
Termasuk pedagang diedukasi digitalisasi jual-beli dengan marketing perbankan, serta bimbing teknis ini telah berjalan secara perlahan, atau continew.
"Kami juga menyediakan "Barcode Grab" integrasi sistem pembayaran (Quick Response Code Indonesia Standar (QRIS) yang digunakan untuk seluruh layanan GrabBike, GrabCar, dan GrabFood, dan atau konsumen/pembeli tanpa tunai," urai Juni Nur Syamza menjelaskan.
"Pedagang hanya menunjukkan barang, dan harga, kami (Dinas Perdagangan Kota Padang) membantu menjualkan.
Sama sekali dinas kami hanya sebagai perantara digital antara pedagang dengan pembeli, dan kami tidak melakukan pungutan apapun dari Aplikasi yang kami punya, pedagang menggunakan aplikasi tersebut gratis", imbuh Juni mensupport para pedagang Pasarraya Padang untuk meninggalkan cara-cara lama yang membikin pembeli atau konsumen secara psikoligi, seperti pembali bolak-balik, di panggil-panggil, tapi gagal lagi di panggil lagi", ulas Juni.
Praktek-praktek pedagang seperti ini masih menggunakan cara-cara lama, serta merugikan pedagang juga, serta marwah dan budaya dagang "urang awak" jadi rusak. Bahkan yang lebih 'parah' dari itu, ada yang namanya ditukar dengan barang "kantau", sedangkan yang dipajang barang bagus/ori.
Karena, dengan cara-cara ini, jelas bikin calon pembeli dongkol dan marah, -serasa konsumen dipermainkan dan dipermalukan, sebut Juni.
"Kembali ke cerita kita (Dinas Perdagangan) mengenai-menyediakan Aplikasi dagang untuk pedagang, seyogianya nanti pedagang mampu pula bikin Merchant, ya silahkan. Kata Juni, lagi.
Dijelaskannya, "Merchant adalah kelompok, individu, perusahaan yang menjual barang maupun jasa secara langsung kepada pelanggan atau konsumen, baik melalui toko pisik (offline) maupun platform online.
Merchant, umumnya bekerjasama dengan bank atau penyedia jasa layanan pembayaran memfasilitasi pembayaran non tunai seperti kartu kredit, debit, dan Qris, ya silahkan. Karena dalam bisnis dan berjualan pedagang harus bisa bertransformasi dengan pelanggan. Untuk ini kita telah bekerjasama dengan perbankan sebagai upaya mendorong Merchant dapat digunakan pedagang menjadi perantara digital dengan pelanggan", suppor Juni Nur Syamsa.
"Kini, zaman milenial dan era digital, Pemerintah Kota (Pemko) Padang sengaja menata kawasan Pasarra Padang layaknya seperti Mallioboro, atau sebagai tempat belanja yang eksklusif, eksotik, refressing atau rileks dengan beragam aikon pasar yang semuanya tersedia. Sehingga pengunjung pasrraya tidak serasa monoton seperti tempat belanja yang dulu, lagi," tambah Juni menginformasikan.
Sehubungan dengan ini, sebut Juni, yang berminat menjadi pedagang di Passarra Padang masih terbuka peluang. Sekitar 40 persen petak pertokoan di Fase VII belum terisi barang dagangan oleh pedagang yang memasok sebelumya, disebabkan pemasok toko yang belum ikut berjualan ini telah kami surati, imbuhnya.
"Sehingga sampai akhir Februari ini yang tak jadi berjualan, Pemko Padang mengambil alih dan mengalihkan kepada calon pedagang yang baru. Legal standing untuk peralihan hak guna/pakai telah kami siapkan hari ini telah kami rampungkan dengan Kejaksaan status hukum tentang kebijakan demikian", pungkas Juni Nur Syamsa mengabarkan bagi yang berminat.(Obral Chaniago).





No comments:
Post a Comment