Oleh: Wisnu Riski Ananda. Mahasiswa KKN Unand Reguler I
Di tengah maraknya modernisasi yang menuntut segalanya serba cepat dan instan, sebuah narasi autentik masih terjaga rapi di sudut Nagari Padang Ganting, Kabupaten Tanah Datar. Kami, mahasiswa KKN Universitas Andalas Periode I, berkesempatan menyelami "dapur tradisi" milik masyarakat setempat, sebuah tempat di mana waktu seolah melambat demi mempertahankan sebuah cita rasa bernama Kare-kare.
Kare-kare bukan sekadar hidangan ringan penghias meja. Makanan khas Padang Ganting ini membawa jejak sejarah panjang yang bermula dari Talawi, hingga akhirnya menetap dan diwariskan secara turun-temurun sebagai identitas kuliner lokal. Melalui perbincangan hangat di tengah aroma harum adonan bersama Ibu Suharti, seorang produsen yang masih setia menjaga warisan ini, kami menemukan bahwa Kare-kare adalah perpaduan harmonis antara tepung beras, gula pasir, tepung ubi, vanili, air dan garam.
Namun, kekuatan Kare-kare bukan terletak pada bahan-bahannya yang sederhana, melainkan pada prosesnya yang sakral. Ada sebuah kutipan mendalam dari Ibu Suharti yang memukul kesadaran kita sebagai masyarakat modern:
_"Makanan tradisional ini harus dibuat dengan tangan, ia dibuat tidak dengan teknologi. Skalanya tidak bisa langsung besar dengan mesin dan instan, karena ia harus dibuat dengan perasaan cinta, dan cita rasa."_
Kutipan ini adalah tamparan halus bagi industri pangan masa kini yang seringkali mengorbankan kualitas demi mengejar kuantitas. Bagi para produsen di Padang Ganting, menyentuh adonan secara langsung adalah cara mentransfer "nyawa" ke dalam makanan. Teknologi mungkin mampu melipatgandakan produksi dalam sekejap, namun ia takkan pernah bisa menggantikan cita rasa yang menghasilkan tekstur khas: gurih, manis, dan kriuk, namun tetap terasa ringan saat hancur di mulut.
Ketajaman "rasa" tangan ini terbukti dari presisi hasilnya. Tanpa timbangan digital yang canggih, dari sebungkus tepung beras, tangan-tangan terampil ini mampu menghasilkan secara konsisten 66 hingga 70 buah Kare-kare yang sempurna. Ini bukan sekadar hitungan matematis, melainkan bukti keahlian yang terasah oleh waktu, kesabaran, dan dedikasi yang tinggi.
Sebagai mahasiswa yang hadir di tengah masyarakat, kami melihat Kare-kare sebagai simbol kekuatan budaya yang luar biasa. Di balik teksturnya yang renyah, ada nilai kerja keras dan prinsip yang teguh untuk tidak tunduk pada godaan mekanisasi yang dapat merenggut tradisi. Ibu Suharti dan para pengrajin lainnya adalah penjaga benteng terakhir dari identitas kuliner Padang Ganting.
Kehadiran kami di sini bukan untuk mengubah apa yang sudah sempurna, melainkan untuk mendukung keberlanjutannya. Kami belajar bahwa inovasi tidak selalu berarti mengganti tangan manusia dengan mesin. Inovasi bisa berarti memperkuat strategi pemasaran digital dan estetika pengemasan, tanpa sedikit pun mengusik kedaulatan rasa yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Kare-kare Padang Ganting adalah pengingat bagi kita semua bahwa dalam setiap gigitan yang renyah, ada tetesan keringat dan filosofi tangan yang tak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin secanggih apa pun. Mari kita jaga bersama, agar rasa yang melegenda ini tetap abadi dan terus dicintai oleh generasi mendatang.






No comments:
Post a Comment