Penulis Suci Nur Azura
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas Reguler 1 Angkatan 2023 yang ditempatkan di Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, melaksanakan berbagai program kerja yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat di sektor pertanian.
Salah satu potensi alam yang dimiliki Nagari Ulakan adalah buah nipah yang banyak tumbuh di kawasan pesisir pantai. Namun, selama ini sisa pemanfaatan buah nipah sering dibuang begitu saja dan menjadi limbah. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan lokakarya yang dilaksanakan pada Senin, 5 Januari 2026.
Dalam kegiatan tersebut, Wali Nagari Ulakan, Ade Chandra, ST, menyampaikan harapannya kepada mahasiswa KKN agar dapat mengolah limbah buah nipah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
“Saya mengharapkan adik-adik mahasiswa KKN bisa mencarikan solusi dari masalah sampah buah nipah ini menjadi sesuatu yang lebih berguna, sesuai dengan fokus kampus pada sektor pertanian,” ujar Ade Chandra.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Kelompok KKN, Rahman Ramadhan, menyatakan kesiapannya untuk menjawab tantangan tersebut.
“Kami menyanggupi tantangan dari Pak Ade untuk mengolah limbah buah nipah menjadi pupuk kompos. Apalagi di kelompok kami ada mahasiswa dari jurusan pertanian yang memahami proses pengolahannya, dan program ini juga sudah kami masukkan dalam proposal,” jelas Rahman.
Sesuai dengan timeline yang telah ditetapkan, mahasiswa KKN mulai melakukan pengolahan limbah nipah menjadi kompos. Bahan-bahan yang digunakan antara lain kulit buah nipah, kotoran kerbau, serbuk kayu, gula merah, air, serta cairan EM4. Proses pembuatan kompos ini dipimpin langsung oleh Shuci Nur Azura, mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Andalas.
Zura, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pembuatan kompos nipah memiliki tantangan tersendiri. “Kendala utama kami adalah kulit nipah yang teksturnya keras dan sulit dipotong secara manual. Jika ingin produksi dalam jumlah besar, tentu sangat membutuhkan mesin pencincang,” ungkap Zura.
Selain memanfaatkan limbah nipah, mahasiswa KKN juga menggunakan kotoran kerbau sebagai bahan utama kompos. Pemilihan kotoran kerbau didasarkan pada kondisi masyarakat Ulakan yang banyak memelihara kerbau, sehingga limbah kotorannya cukup melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal.
“Kami ingin memanfaatkan potensi yang ada di nagari ini, baik limbah nipah maupun kotoran kerbau, agar bisa diolah menjadi pupuk yang berguna bagi petani,” tambah Zura. Pembuatan kompos ini juga bertujuan untuk membantu memperbaiki struktur tanah pertanian masyarakat yang sebagian mengalami kerusakan akibat banjir.
Pada 30 Januari 2026, mahasiswa KKN Universitas Andalas mengadakan kegiatan sosialisasi di Kantor Wali Nagari Ulakan. Kegiatan tersebut diisi dengan pemaparan materi terkait kompos organik, demonstrasi langsung proses pembuatan, serta serah terima hasil kompos kepada pihak nagari dan perwakilan masyarakat.
Dalam kegiatan ini, masyarakat yang hadir tampak antusias mengikuti setiap tahapan yang disampaikan oleh mahasiswa KKN. Para peserta aktif bertanya, memperhatikan proses pencampuran bahan, hingga mencoba langsung beberapa tahapan pembuatan kompos. Antusiasme tersebut menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap pengelolaan limbah nipah menjadi pupuk organik.
“Zura, ini EM4 gunanya untuk apa ya dalam pembuatan kompos?” tanya Ibu Feni saat proses pengadukan bahan terjadi. Menanggapi pertanyaan tersebut, Zura menjelaskan bahwa EM4 memiliki peran penting dalam proses pengomposan.
“EM4 ini berfungsi sebagai dekomposer atau pengurai bahan organik, Bu. Di dalamnya ada mikroorganisme yang membantu mempercepat proses pembusukan kulit nipah dan kotoran kerbau, sehingga kompos bisa jadi lebih cepat dan hasilnya lebih bagus,” jelas Zura.
Ibu Feni kemudian kembali bertanya terkait bahan tambahan dalam pembuatan kompos. “Kalau misalnya tidak ada serbuk kayu, bagaimana, Zura? Masih bisa dibuat komposnya?” tanyanya.
“Tidak apa-apa, Bu. Serbuk kayu itu hanya bahan tambahan untuk membantu tekstur dan sirkulasi udara. Kalau tidak ada, tetap bisa menggunakan bahan utama seperti nipah dan kotoran kerbau. Yang penting perbandingan bahannya pas dan prosesnya benar,” ujarnya.
Pada 4 Februari 2026, mahasiswa KKN Universitas Andalas bersama ibu-ibu TPPKK melaksanakan kegiatan pengaplikasian kompos di lahan kebun TPPKK Nagari Ulakan. Kegiatan ini menjadi tahap lanjutan setelah proses pembuatan dan sosialisasi, sebagai bentuk praktik langsung pemanfaatan pupuk organik.
Dalam kegiatan tersebut, kembali terlihat antusiasme peserta yang ingin memahami cara penggunaan kompos secara tepat. Salah satu peserta, Ibu Animar, mengajukan pertanyaan kepada Shuci Nur Azura terkait teknik pengaplikasian pupuk kompos di lahan. “Zura, bagaimana cara mengaplikasikan kompos ini supaya hasilnya bagus?” tanya Ibu Animar.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Zura menjelaskan bahwa penggunaan kompos tidaklah sulit dan dapat dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. “Cara pengaplikasiannya cukup disebarkan secara merata di permukaan tanah, Bu. Setelah itu, kompos bisa dicampur sedikit dengan tanah supaya nutrisinya lebih cepat terserap,” jelas Zura.
Ia juga menambahkan bahwa waktu pemberian kompos sebaiknya disesuaikan dengan kondisi lahan dan tanaman. “Kalau bisa, pengaplikasian dilakukan sebelum masa tanam supaya unsur haranya lebih mudah diserap oleh tanaman,” tambahnya.
Penjelasan tersebut disambut baik oleh peserta kegiatan. Beberapa ibu TPPKK langsung mempraktikkan cara penyebaran kompos sesuai arahan, sehingga kegiatan pengaplikasian berjalan dengan lancar dan efektif.







No comments:
Post a Comment