Wilayah Nagari Ulakan yang dikenal dengan aktivitas pertaniannya menjadi sumber lahirnya ide kreatif mahasiswa KKN Reguler 1 Universitas Andalas (UNAND) 2026. Melihat potensi tanaman di sekitar lahan pertanian, muncul inovasi dari mahasiswa KKN membuat pestisida nabati berbahan Tithonia diversifolia, yang mana merupakan tanaman yang selama ini dianggap sebagai gulma dan dapat dimanfaatkan sebagai insektisida alami ramah lingkungan. Tithonia diversifolia sendiri dikenal dengan nama lokal kipait atau kipahit dengan ciri daun seperti telapak tangan, tepi daun menyirip, bunganya seperti bunga matahari yang kelopak bunganya berwarna kuning, dan inti bunga berwarna jingga, serta batang berkayu bewarna hijau. Potensi inilah yang kemudian dimanfaatkan mahasiswa KKN sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih aman bagi lingkungan dan kesehatan.
“Saya melihat sebagian besar masyarakat nagari berprofesi sebagai petani, sehingga diperlukan alternatif pengendalian hama yang aman dan mudah dibuat dari bahan alami,” ujar Rahman Ramadhan selaku ketua KKN Ulakan UNAND 2026.
Gagasan tersebut mendapat dukungan dari Fitri Wahyu Ningsih, mahasiswa Prodi S1 Proteksi Tanaman yang tergabung dalam tim KKN Ulakan UNAND 2026 dan berpengalaman dalam pembuatan pestisida nabati. Selama pendidikannya di Prodi Proteksi Tanaman, Fitri mempelajari bahwa Tithonia diversifolia mengandung senyawa aktif yang dapat mengendalikan serangga hama.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang bahannya tersedia di alam sekitar, sehingga petani tidak perlu lagi terus-menerus bergantung pada produk berbahan kimia,” ujarnya.
Setelah seluruh proses fermentasi rampung, mahasiswa KKN melanjutkan program dengan mengadakan sosialisasi dan demonstrasi plot (demplot) kepada kelompok tani dan masyarakat di Nagari Ulakan. Kegiatan ini bertujuan untuk mentransfer pengetahuan teknis secara langsung agar masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara mandiri di rumah masing-masing.
Dalam sesi sosialisasi, mahasiswa memaparkan keunggulan ekonomis dari pestisida nabati ini. Dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di alam, petani dapat menekan biaya produksi pertanian yang selama ini membengkak akibat pembelian pestisida kimia. Selain itu, ditekankan pula aspek keamanan produk ini bagi konsumen, karena residu yang dihasilkan sangat rendah dan mudah terurai oleh alam.
Tahap pengaplikasian dilakukan secara kolektif di salah satu lahan pertanian milik TPPKK (Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga), aplikasi dilakukan menggunakan alat semprot (sprayer). Respon masyarakat Nagari Ulakan sangat positif. Banyak petani yang antusias melihat potensi gulma kipahit yang selama ini mereka abaikan, kini dapat berubah menjadi pelindung tanaman yang efektif.
Selanjutnya agar program pestisida nabati dapat berjalan secara berkelanjutan dan tidak hanya bersifat sementara, diperlukan ketersediaan bahan baku yang cukup dan berkesinambungan. Oleh karena itu, disusunlah program kerja perbanyakan tanaman Tithonia diversifolia sebagai program pendukung. Program ini diharapkan mampu menjamin ketersediaan bahan baku pestisida nabati sekaligus meningkatkan pemanfaatan tanaman lokal yang sebelumnya kurang bernilai. Program ini tidak terlepas dari sejumlah kendala, terutama terkait budidaya tanaman dan kesesuaian habitatnya. Nagari Ulakan yang memiliki kondisi cuaca relatif panas dan intensitas cahaya matahari cukup tinggi menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pembudidayaan tanaman ini secara berkelanjutan.
Fitri menambahkan bahwa meskipun menghadapi kendala habitat, Tithonia diversifolia tetap memiliki peluang untuk dikembangkan. “Tanaman ini sebenarnya cukup adaptif. Dengan pengelolaan sederhana, seperti pemangkasan rutin dan pengaturan jarak tanam, kipahit masih bisa tumbuh dengan baik meski di daerah yang relatif panas,” jelasnya.
Selain faktor iklim, keterbatasan lahan khusus untuk budidaya Tithonia diversifolia juga menjadi kendala. Tanaman ini masih sering dianggap sebagai gulma sehingga belum banyak dibudidayakan secara khusus oleh masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa KKN melakukan pendekatan kepada masyarakat bagaimana cara mengelola tanaman ini agar manfaatnya tersampaikan. Metode pendekatan yang dilakukan yakni menanam langsung tanaman Kipahit di lahan TPPKK. Praktik dari pemanfaatan tanaman Kipahit tidak hanya berupa penyemprotan pestisida, tetapi juga menanam langsung bahan baku pestisida nabati berupa tanaman.
Melalui inovasi ini, mahasiswa KKN berharap pemanfaatan tanaman lokal seperti Tithonia diversifolia dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang ramah lingkungan, sekaligus membantu petani mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia. Inovasi ini juga diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Nagari Ulakan.







No comments:
Post a Comment