Penulis: Khairul Muttaqim Panjaitan, Mahasiswa KKN Reguler 1 Tahun 2026 Kabupaten Agam, Kecamatan Palembayan, Nagari Ampek Koto Palembayan Universitas Andalas, Fakultas Pertanian, Agroekoteknologi
Pestisida nabati (Botanical pesticide) didefinisikan sebagai suatu formulasi pengendalian organisme pengganggu yang bahan aktif utamanya berasal dari metabolit sekunder tanaman. Metabolit sekunder merupakan senyawa organik yang tidak secara langsung terlibat dalam proses pertumbuhan, perkembangan, atau reproduksi tanaman, melainkan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan kimiawi tanaman terhadap herbivora, patogen, dan kompetitor. Secara taksonomi fungsional, pestisida nabati dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerjanya menjadi: insektisida nabati (mengendalikan serangga hama), akarisida nabati (mengendalikan tungau dan caplak), fungisida nabati (mengendalikan jamur patogen), nematisida nabati (mengendalikan nematoda), serta repelen nabati (mengusir organisme pengganggu).
Proses pembuatan Pestisida Nabati oleh Mahasiswa KKN UNAND 2026 Ampek KotoPenggunaan pestisida kimia sintetik secara berlebihan dalam praktik pertanian konvensional telah menimbulkan dampak negatif yang signifikan terhadap ekosistem, kesehatan manusia, dan keseimbangan rantai pangan secara global. Akumulasi residu senyawa organoklorin, organofosfat, dan karbamat dalam tanah, air, serta jaringan biologis organisme hidup menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan sistem pertanian. Sebagai respons ilmiah terhadap permasalahan tersebut, pemanfaatan bahan-bahan alami yang memiliki aktivitas insektisida dan fungisida yang dikenal sebagai pestisida nabati atau biopestisida—semakin mendapatkan perhatian serius dari komunitas agronomis global.
Pemberian Pemahaam mengenai fungsi dan cara kerja dari pestisida nabati oleh Mahasiswa KKN UNAND 2026
Dampak negatif penggunaan pestisida kimia yang tidak terkendali mencakup berbagai dimensi, meliputi: (1) kontaminasi tanah dan air tanah akibat persistensi senyawa kimia yang tinggi; (2) terganggunya populasi serangga polinator, khususnya lebah madu (Apis mellifera), yang berperan vital dalam proses penyerbukan tanaman; (3) munculnya fenomena resistensi hama akibat tekanan seleksi yang konsisten; (4) akumulasi residu berbahaya pada produk pangan yang berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan kronis pada konsumen; serta (5) kerusakan keanekaragaman hayati tanah yang berdampak pada penurunan kesuburan lahan secara jangka Panjang.
Untuk itu Edukasi mengenai pembuatan pestisida nabati yang dilakukan oleh mahasiswa KKN universitas andalas, pengembangan dan edukasi pembuatan pestisida nabati menjadi instrumen strategis dalam transisi menuju sistem pertanian yang lebih berkelanjutan (sustainable agriculture). Pestisida nabati merupakan senyawa bioaktif yang diekstrak atau diolah dari bagian-bagian tanaman tertentu—seperti daun, biji, kulit, akar, atau bunga—yang memiliki kemampuan mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) secara selektif dengan tingkat toksisitas residual yang jauh lebih rendah dibandingkan pestisida kimia sintetik. Pemanfaatan daun pepaya (Carica papaya L.) dan kulit bawang (Allium spp.) sebagai bahan baku pestisida nabati merupakan opsi yang sangat prospektif mengingat ketersediaan bahan yang melimpah, biaya produksi yang rendah, serta kandungan senyawa bioaktif yang telah terbukti secara ilmiah.
Target sasaran utama program edukasi ini adalah komunitas petani aktif yang tergabung dalam kelompok tani (poktan) maupun petani mandiri yang mengelola lahan pertanian secara langsung. Edukasi difokuskan pada petani yang selama ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap pestisida kimia sintetik, terutama mereka yang bergerak di bidang budidaya tanaman hortikultura intensif (sayuran, buah-buahan, dan tanaman hias) di mana penggunaan pestisida cenderung lebih sering dan dalam konsentrasi yang lebih tinggi. Materi edukasi yang disampaikan mencakup pemahaman tentang dampak negatif penggunaan pestisida kimia berlebihan, pengetahuan dasar fitokimia pestisida nabati, demonstrasi praktis pembuatan formulasi, serta panduan teknis aplikasi yang tepat termasuk frekuensi penyemprotan dan dosis yang direkomendasikan.
Segmen masyarakat yang tidak kalah penting sebagai target sasaran adalah ibu rumah tangga dan pelaku pertanian perkotaan (urban farming) yang mengelola kebun sayuran skala rumahan. Kelompok ini memiliki aksesibilitas yang tinggi terhadap limbah kulit bawang dan daun pepaya dari aktivitas dapur sehari-hari, sehingga pembuatan pestisida nabati dapat diintegrasikan dengan mudah ke dalam rutinitas pengelolaan sampah organik rumah tangga. Edukasi kepada kelompok ini sebaiknya disajikan dalam format yang praktis dan mudah dipahami, menekankan aspek kemudahan pembuatan, keamanan penggunaan bagi anggota keluarga (termasuk anak-anak), serta nilai tambah ekonomis dari pemanfaatan limbah dapur yang selama ini terbuang.
Program edukasi yang terstruktur dan inklusif—mencakup kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan, generasi muda agroteknologi, dan masyarakat urban farming—merupakan prasyarat keberhasilan adopsi teknologi pestisida nabati secara masif. Untuk itu, Edukasi mengenai pembuatan pestisida nabati yang dilakukan oleh mahasiswa KKN Universitas Andalas yang melalui pendekatan edukasi yang menggabungkan pemahaman ilmiah dengan demonstrasi praktis yang mudah direplikasi akan memastikan bahwa pengetahuan ini dapat ditransfer secara efektif ke tingkat implementasi lapangan. Dengan demikian, pemanfaatan pestisida nabati berbasis tanaman lokal ini dapat berkontribusi nyata dalam mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia sintetik, memperbaiki kualitas ekosistem pertanian, meningkatkan keamanan pangan, sekaligus mendorong terwujudnya pertanian yang produktif, sehat, dan ramah lingkungan bagi generasi mendatang







No comments:
Post a Comment