Oleh: Aldo Febriandi
Nagari Ulakan Tapakis korong Padang Pauh— Dalam rangka menurunkan angka stunting di wilayahnya, mahasiswa jurusan Keperawatan Universitas Andalas bersama kader kesehatan dan bidan setempat menggelar kegiatan Yandu yang fokus pada edukasi gizi, pemeriksaan tumbuh-kembang balita, dan pendampingan pemberian makanan pendamping ASI. Penyelenggaraan acara ini mengambil model penyuluhan langsung ke keluarga dan demonstrasi praktik pemberian makanan bergizi, mengikuti gaya penulisan dan susunan laporan lapangan seperti contoh artikel program pengabdian masyarakat sebelumnya.
Kegiatan yang dilaksanakan di Korong Padang Pauh lebih tepatnya di TK dan beberapa posyandu lingkungan ini dihadiri oleh orang tua balita, kader posyandu, dan petugas kesehatan. Rangkaian acara meliputi pengukuran berat dan tinggi badan, penimbangan dan pencatatan status gizi, penyuluhan mengenai ASI eksklusif, pentingnya MP-ASI yang tepat umur dan bergizi seimbang, serta sesi tanya jawab tentang kebiasaan makan keluarga.
“Saya ikut turun ke lapangan untuk membantu pengukuran dan edukasi kepada ibu-ibu. Banyak yang belum paham tentang porsi makanan bergizi untuk balita dan kapan memulai MP-ASI yang benar. Dengan pendekatan praktis, kami berharap keluarga bisa langsung mempraktekkan di rumah,” ujar Aldo Febriandi, selaku mahasiswa jurusan Keperawatan Universitas Andalas
Bidan Vivi, yang bertugas sebagai anggota penyelenggara kegiatan Yandu, menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor di tingkat desa. “Kegiatan Yandu bukan hanya soal menimbang. Kami memberikan konseling gizi, memantau perkembangan motorik, dan mengarahkan keluarga ke layanan rujukan bila ditemukan masalah. Kolaborasi antara bidan, mahasiswa, dan kader sangat menentukan keberlanjutan intervensi,” ungkap Bidan Vivi, anggota penyelenggara Yandu.
Praktik yang ditunjukkan dalam sesi demonstrasi meliputi penyusunan contoh menu MP-ASI bergizi untuk anak usia 6–24 bulan menggunakan bahan lokal, teknik menyusui yang benar, dan cara membuat makanan pendamping yang aman serta ekonomi. Selain itu, petugas juga memberikan penilaian risiko stunting berdasarkan hasil pengukuran antropometri dan memberikan rencana tindak lanjut untuk keluarga yang membutuhkan.
Beberapa poin kunci pencegahan stunting yang disampaikan dalam kegiatan:
Pastikan ASI eksklusif selama 0–6 bulan, lalu lanjutkan ASI sambil memberikan MP-ASI yang bergizi sejak umur 6 bulan.
Perbaiki pola makan keluarga: cukup energi, protein, vitamin, dan mineral (terutama zat besi dan zinc).
Pemantauan pertumbuhan rutin (penimbangan dan recording) untuk deteksi dini.
Peningkatan kesehatan ibu: nutrisi selama kehamilan dan pemeriksaan antenatal.
Sanitasi dan kebersihan (air bersih, cuci tangan) untuk mencegah infeksi yang mengganggu penyerapan gizi.
Akses imunisasi lengkap dan pengobatan parasit menurut anjuran puskesmas.
Respon masyarakat terbilang positif. Sejumlah ibu mengaku mendapat pemahaman baru tentang komposisi makanan sehat untuk anak dan merasa lebih percaya diri menyusun menu harian yang bergizi tanpa harus mahal.
”kami berharap setelah kami melakukan penyuluhan kepada ibu yang mempunyai balita dapat teredukasi dan langsung di praktek kan kepada keluarga kecil nya “ujar Aldo
Sebagai penutup, Bidan Vivi menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga dan komunitas: “Perubahan kecil setiap hari memperbaiki gizi anak, menjaga kebersihan, dan rutin datang ke posyandu bila dilakukan bersama-sama, akan berdampak besar pada masa depan generasi kita.”
Untuk ungkapan terakhir, kami mahasiswa KKN Universitas Andalas dengan diadakan nya Penyuluhan Stunting ini semoga keluarga yang memiliki balita yang berada di Nagari Ulakan Tapakis ini dapat memiliki anak yang tumbuh dan kembang dengan baik,dan angka Stunting di Nagari Ulakan Tapakis berkurang






No comments:
Post a Comment