Oleh: Ashyffa Mutiara Syahda
Bagi masyarakat di Jorong Koto Ranah, kondisi wilayah bukan sekadar soal tempat tinggal, melainkan tentang bagaimana keterbatasan infrastruktur membentuk pola hidup sehari-hari. Jorong ini menyimpan potensi alam dan sumber daya manusia yang tidak sedikit, namun sayangnya belum sepenuhnya ditopang oleh fasilitas yang memadai.
Dalam praktiknya, berbagai aktivitas masyarakat kerap terhambat oleh kondisi lingkungan dan sarana pendukung yang masih jauh dari ideal.
Akses jalan menjadi salah satu persoalan utama. Di beberapa titik, kondisi jalan belum sepenuhnya layak untuk dilalui dengan nyaman, terutama saat cuaca tidak bersahabat. Jalan yang rusak dan berlubang membuat mobilitas warga terganggu. Perjalanan yang seharusnya singkat bisa berubah menjadi lama dan melelahkan. Bagi masyarakat, bepergian bukan lagi soal jarak, tetapi soal kesiapan menghadapi risiko di jalan.
Keterbatasan ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Sebagian masyarakat yang menggantungkan hidup pada hasil pertanian dan perdagangan kecil harus berhadapan dengan sulitnya distribusi hasil produksi. Ketika akses jalan tidak mendukung, biaya dan tenaga yang dikeluarkan menjadi lebih besar. Akibatnya, potensi ekonomi yang seharusnya berkembang justru berjalan di tempat.
Dari sisi sosial, kondisi ini perlahan menimbulkan rasa terisolasi. Interaksi antarwilayah tidak berjalan secara bebas. Kegiatan sosial, acara adat, maupun silaturahmi sering kali harus menyesuaikan dengan kondisi akses dan waktu. Ruang gerak masyarakat menjadi terbatas, seolah kehidupan di Jorong Koto Ranah berjalan dalam lingkaran yang sempit.
Bidang pendidikan juga ikut terdampak. Anak-anak yang harus menempuh perjalanan ke sekolah menghadapi berbagai hambatan, mulai dari jarak hingga kondisi jalan. Situasi ini tentu memengaruhi semangat dan kenyamanan mereka dalam menuntut ilmu. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik justru dibayangi oleh keterbatasan infrastruktur dasar.
Dalam kondisi darurat, persoalan ini menjadi semakin serius. Akses menuju fasilitas kesehatan tidak selalu dapat ditempuh dengan cepat dan aman. Keterlambatan penanganan bisa saja terjadi, bukan karena kurangnya tenaga medis, melainkan karena jalan yang tidak mendukung. Pada titik ini, infrastruktur bukan lagi soal pembangunan semata, tetapi menyangkut keselamatan manusia.
Ironisnya, keadaan seperti ini sudah berlangsung cukup lama dan perlahan dianggap sebagai hal biasa. Masyarakat beradaptasi dengan keterbatasan, meski harus mengorbankan kenyamanan dan keamanan. Namun, kebiasaan menerima keadaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan masalah.
Perhatian dan perbaikan dari pemerintah sangat dibutuhkan. Infrastruktur yang layak, khususnya akses jalan, merupakan fondasi penting bagi kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan masyarakat. Jorong Koto Ranah tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan hanyalah dukungan nyata agar masyarakat dapat bergerak lebih bebas dan hidup lebih layak.
Selama keterbatasan infrastruktur masih menjadi bagian dari keseharian, selama itu pula masyarakat Jorong Koto Ranah akan terus berjalan dalam ruang yang sempit. Jalan yang baik bukan sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar harapan akan kemajuan tidak berhenti sebatas wacana.






No comments:
Post a Comment