Oleh : Rahmi wahyuni Nim : 2501041051
PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN. FAKULTAS ILMU KESEHATAN. UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026
Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Di era serba cepat, hampir semua aspek kehidupan dituntut efisien, terukur, dan instan. Makanan cepat saji, layanan cepat, bahkan pendidikan dipadatkan agar selesai secepat mungkin. Tanpa disadari, budaya ini juga merembes ke dunia kebidanan. Persalinan sebuah proses biologis yang sejak awal diciptakan untuk berjalan dengan ritmenya sendiri kini kerap diperlakukan seperti agenda yang harus selesai tepat waktu.
Padahal, tubuh perempuan tidak bekerja berdasarkan jadwal rumah sakit atau jam dinas. Rahim tidak mengenal target waktu, dan hormon tidak tunduk pada jam kerja. Namun dalam praktik sehari-hari, kesabaran menjadi komoditas langka.
Persalinan yang “terlalu lama” sering dianggap masalah, bukan proses. Di sinilah kebidanan menghadapi tantangan zaman: bagaimana menjaga kesabaran dalam sistem yang terburu-buru.
Bidan sejatinya adalah profesi yang paling dekat dengan konsep menunggu. Menunggu pembukaan lengkap, menunggu kontraksi efektif, menunggu bayi siap lahir, dan menunggu ibu pulih setelah melahirkan. Sayangnya, menunggu kini sering dipersepsikan sebagai ketidakmampuan atau keterlambatan. Ketika proses alami tidak sesuai ekspektasi waktu, solusi instan sering menjadi pilihan utama.
Masalahnya, percepatan yang tidak perlu berisiko mengubah pengalaman melahirkan menjadi penuh tekanan. Ibu hamil merasa tubuhnya “lambat”, “tidak normal”, atau “gagal bekerja”.
Narasi ini pelan-pelan membentuk rasa bersalah pada perempuan, seolah-olah tubuh mereka harus menyesuaikan diri dengan sistem, bukan sebaliknya.
Dalam kondisi ini, kebidanan tidak lagi mendampingi proses, melainkan mengejar hasil.
Opini ini tidak bermaksud menyederhanakan kompleksitas klinis. Situasi gawat darurat tentu membutuhkan tindakan cepat.
Namun ketika kecepatan menjadi kebiasaan, bukan pengecualian, maka makna persalinan ikut tereduksi. Persalinan berubah menjadi sekadar peristiwa fisik yang harus “diselesaikan”, bukan proses transformatif dalam kehidupan perempuan.
Bidan sebenarnya berada di garda terdepan untuk merawat kesabaran itu. Kesabaran bukan berarti pasif, melainkan kemampuan membaca waktu tubuh. Dibutuhkan kepekaan untuk membedakan antara proses yang normal dengan kondisi yang benar-benar membutuhkan intervensi. Kebidanan yang matang adalah kebidanan yang tahu kapan harus bertindak, dan kapan harus menunggu.
Sayangnya, kesabaran jarang diajarkan sebagai kompetensi profesional.
Pendidikan kebidanan lebih banyak menekankan keterampilan teknis dan target kompetensi, sementara kemampuan hadir secara utuh dalam proses panjang sering dianggap kemampuan personal, bukan kemampuan profesional. Padahal, menemani ibu selama proses yang melelahkan dan tidak pasti membutuhkan energi emosional dan ketahanan mental yang besar.
Dalam konteks masyarakat, perempuan pun ikut terjebak dalam budaya instan. Tidak sedikit ibu hamil yang merasa cemas ketika persalinannya “belum maju”, karena terbiasa mendengar cerita persalinan cepat sebagai standar ideal.
Di sinilah peran bidan meluas, bukan hanya sebagai tenaga kesehatan, tetapi juga pendidik yang meluruskan ekspektasi tentang tubuh dan waktu.
Persalinan mengajarkan bahwa tidak semua hal bisa dipercepat tanpa konsekuensi.
Tubuh membutuhkan ruang untuk bekerja, dan perempuan membutuhkan rasa aman untuk mempercayai tubuhnya sendiri.
Ketika kebidanan mampu mengembalikan makna waktu dalam praktiknya, maka persalinan tidak lagi menjadi ajang adu cepat, melainkan proses yang dihormati.
Pada akhirnya, kebidanan bukan tentang siapa yang paling cepat menyelesaikan persalinan, tetapi siapa yang mampu menjaga proses tetap manusiawi.
Dalam dunia yang terus berlari, mungkin tugas paling penting bidan hari ini adalah berani melambat demi keselamatan, demi pengalaman, dan demi martabat perempuan yang melahirkan.


































0 Comments