Keterangan foto : Dr.(H.C.) Ir. M. Shadiq Pasadigoe S.H, MM dan Dr.(H.C.)Jon Firman Pandu S.H menyampaikan orasi ilmiah dihadapan Guru Besar Asean University International Malaysia (AUI)
Munculnya Dua Tokoh Politik Dr.(H.C.) Ir. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M. dan Dr. (H.C.)Jon Firman Pandu, S.H. secara sah dan resmi menyandang gelar Doktor Honoris Causa dari Asean University International (AUI) Malaysia. Setelah menyampaikan Orasi ilmiah di depan Rektor Penganugerahan gelar kehormatan tersebut ditegaskan langsung oleh President of AUI, Prof. Dr. Suhendar, S.E., S.H., LLM, di Negeri Sembilan, Malaysia, Minggu (11/1/2026).
Prof. Suhendar menyampaikan bahwa pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada kedua tokoh tersebut merupakan bentuk apresiasi dan pengakuan atas kontribusi, dedikasi, serta pengabdian yang telah diberikan di berbagai bidang, baik pemerintahan, hukum, maupun pembangunan sosial kemasyarakatan.
Menurutnya, Asean University International memiliki komitmen untuk memberikan penghargaan akademik kepada tokoh-tokoh yang dinilai memiliki rekam jejak kepemimpinan, integritas, serta peran nyata dalam mendorong kemajuan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
“Gelar Honoris Causa ini diberikan melalui proses dan pertimbangan akademik yang ketat. Kami menilai bahwa M. Shadiq Pasadigoe dan Jon Firman Pandu layak menerima penghargaan ini atas kontribusi yang telah mereka berikan,” ujar Prof. Suhendar.
Penganugerahan gelar kehormatan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan menjadi momentum penting dalam memperkuat kerja sama akademik lintas negara di kawasan Asia Tenggara.
Gelar Doktor Honoris Causa yang disematkan kepada M. Shadiq Pasadigoe dan Jon Firman Pandu diharapkan dapat menjadi inspirasi, sekaligus mendorong kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan dunia akademik ke depan.
Disisi lain M. Shadiq Pasadigoe memaparkan orasi ilmiah nya antara lain Kita hidup di era “Disrupsi Besar”, sebuah periode percepatan perubahan yang belum pernah
terjadi sebelumnya. Revolusi Industri 4.0 dengan kecerdasan buatan, big data, dan komputasi awan telah mengubah lanskap sosial, ekonomi, dan politik
secara fundamental.
Mesin tidak hanya menggantikan otot, tetapi kini mulai menggantikan fungsi kognitif manusia. Belum pulih sepenuhnya dari guncangan pandemi, dunia kini menghadapi disrupsi iklim yang mengancam ketahanan pangan dan energi, gejolak geopolitik yang mengoyak tata dunia, serta polarisasi sosial yang meretakkan kohesi bangsa. Dalam pusaran ketidakpastian ini, model kepemimpinan lama yang hierarkis, sentralistik, dan bergantung pada satu sosok “jagoan” terbukti tak lagi memadai. Kita tidak bisa menyelesaikan masalah abad ke-21 dengan perangkat abad ke-20.
Sedangkan dalam orasi ilmiahnya dihadapan Guru Besar Dr.(H.C.) Jon Firman Pandu, S.H menyampaikan pemimpin yang inovatif memastikan kolaborasi tersebut tidak berhenti pada proses, namun melahirkan terobosan kebijakan, inovasi layanan, dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Paradigma kepemimpinan yang kolaboratif dan inovatif ini secara nyata terartikulasi ke dalam Visi RPJMD Kabupaten Solok Tahun 2025-2029, yakni Terwujudnya Pemerintahan yang Melayani Menuju Masyarakat Madani Nan Sejahtera. Paradigma ini sejalan dengan semangat pelayanan publik modern, yang menempatkan negara sebagai pelayan warga, bukan penguasa warga,” ujar Bupati.
Ia juga menekankan ada empat misi pembangunan yang mencerminkan paradigma kepemimpinan kolaboratif dan inovatif tersebut : Mewujudkan Smart Government dan Beritegritas dalam Melayani, Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas dan Berdaya Saing Global, Mewujudkan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Adat dan Budaya, serta Peningkatan Ekonomi Berbasis Potensi dan Sumber Daya Nagari. (**)



































0 Comments