Ticker

6/recent/ticker-posts

Ketika Empati Menjadi Kunci: Peran Mahasiswa Kebidanan dalam Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak


Oleh : Gea asiva aurora                Nim : 2501041009

 PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN                        UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026

Dosen Pengampu : Dr. Amar Salahuddin, M.Pd


Empati merupakan salah satu nilai dasar yang tidak dapat dipisahkan dari dunia kesehatan, khususnya dalam bidang kebidanan. Pelayanan kesehatan ibu dan anak tidak hanya menuntut kecakapan akademik dan keterampilan klinis, tetapi juga menuntut kepekaan perasaan, kepedulian, serta kemampuan memahami kondisi psikologis pasien. Dalam konteks ini, mahasiswa kebidanan memegang peran penting sebagai calon tenaga kesehatan yang kelak akan berada di garis terdepan dalam mendampingi ibu hamil, melahirkan, hingga masa nifas dan tumbuh kembang anak.

Di tengah perkembangan teknologi kesehatan yang semakin pesat, empati sering kali terabaikan. Fokus pendidikan kerap tertuju pada pencapaian nilai akademik, penguasaan prosedur medis, serta target kompetensi klinik. Padahal, pelayanan kebidanan yang berkualitas tidak hanya diukur dari ketepatan tindakan, tetapi juga dari rasa aman dan nyaman yang dirasakan pasien. Mahasiswa kebidanan perlu menyadari bahwa kemampuan berempati adalah kunci utama untuk membangun hubungan terapeutik antara tenaga kesehatan dan pasien.

Pelayanan kesehatan ibu dan anak memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan bidang kesehatan lainnya. Ibu hamil dan ibu melahirkan berada dalam kondisi fisik dan emosional yang rentan. Kecemasan, rasa takut, dan harapan bercampur menjadi satu. Dalam situasi tersebut, kehadiran mahasiswa kebidanan yang mampu bersikap ramah, mendengarkan keluhan dengan penuh perhatian, serta memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana akan sangat berarti. Sikap empati ini mampu meningkatkan kepercayaan pasien terhadap tenaga kesehatan.

Mahasiswa kebidanan juga memiliki peran strategis dalam upaya menurunkan angka kematian ibu dan anak. Banyak kasus komplikasi kehamilan dan persalinan terjadi bukan hanya karena keterbatasan fasilitas, tetapi juga akibat kurangnya komunikasi yang efektif antara tenaga kesehatan dan pasien. Dengan empati, mahasiswa kebidanan dapat membantu pasien memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, pola hidup sehat, serta tanda bahaya yang perlu segera ditangani. Edukasi yang disampaikan dengan pendekatan empatik akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Selain itu, empati juga berperan penting dalam membentuk karakter profesional mahasiswa kebidanan. Dunia kebidanan bukanlah profesi yang ringan. Tekanan akademik, praktik klinik yang melelahkan, serta tanggung jawab moral yang besar sering kali menjadi tantangan tersendiri. Dengan menanamkan nilai empati sejak dini, mahasiswa kebidanan tidak hanya dilatih untuk peduli terhadap pasien, tetapi juga diajarkan untuk memahami diri sendiri dan rekan sejawat. Lingkungan belajar yang saling menghargai akan menciptakan tenaga kesehatan yang lebih humanis.

Namun, membangun empati bukanlah hal yang instan. Diperlukan proses pembelajaran yang berkelanjutan, baik melalui teori maupun praktik langsung di lapangan. Institusi pendidikan kebidanan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai empati dalam setiap aspek pembelajaran. Pembimbing klinik dan dosen dapat menjadi teladan dengan menunjukkan sikap profesional, santun, dan penuh kepedulian terhadap pasien. Dengan demikian, mahasiswa kebidanan tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari contoh nyata.

Di era modern, tantangan mahasiswa kebidanan semakin kompleks. Media sosial, tuntutan administrasi, serta beban akademik dapat mengurangi fokus pada nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, mahasiswa kebidanan perlu memiliki kesadaran untuk menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Empati harus menjadi bagian dari identitas profesional yang melekat pada diri setiap calon bidan.

Pada akhirnya, ketika empati menjadi kunci, pelayanan kesehatan ibu dan anak akan mengalami peningkatan kualitas yang signifikan. Mahasiswa kebidanan tidak hanya hadir sebagai pelaksana tindakan medis, tetapi juga sebagai pendamping, pendengar, dan pemberi dukungan bagi ibu dan keluarga. Dengan mengedepankan empati, mahasiswa kebidanan turut berkontribusi dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang manusiawi, beretika, dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan ibu dan anak sebagai generasi penerus bangsa.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS