Jeritan Ekonomi di Ranah Minang: Sebuah Renungan Puitis - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Thursday, January 29, 2026

Jeritan Ekonomi di Ranah Minang: Sebuah Renungan Puitis



Penulis:Obral Chaniago

Ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) pada tahun 2024-2025 memang berada dalam sebuah "bingkai" struktural yang bercirikan ketergantungan pada sektor primer, pertumbuhan yang melambat, dan tantangan pascabencana

 Sebuah narasi yang terbagi, antara takdir alam dan pilihan konsumtif yang membelenggu, seolah takdir ekonomi terukir bukan hanya oleh gempa atau pandemi, tapi oleh denyut ekonomi masyarakatnya sendiri. 


Di bawah minangkabau yang terkadang murung, terhampar kisah pilu ekonomi yang terpuruk. Sebagian menuding langit, meratapi empat tragedi: krisis moneter 1998 yang merenggut senyum rupiah, gempa bumi 2009 yang meruntuhkan asa, pandemi covid 19 yang membekukan gerak, dan terkini banjir dan longsor akhir 2025, yang membasuh harapan. Bencana, seolah menjadi kambing hitam abadi, komoditas politik yang mudah diperalat, penutup aib dari luka menganga lebih dalam. 


Namun, di sudut lain, suara Obral Chaniago menggema, bak syair pedih yang menelanjangi realitas. Bukan semata bencana, katanya. Ini adalah tragedi pilihan hidup, potret masyarakat yang terbuai gaya hidup moderen, terlena dalam gengsi dan jerat hutang. 


Mereka, kaum pedagang perantau yang ulung di negeri orang, nyatanya di kampung halaman dan di perantauan sering kali hanya menjadi pengecer, tangan ke tiga atau keempat dari produk industri luar. Sekira 97 persen barang konsumsi membanjiri pasar lokal, dari swalayan hingga toko kecil, membuat harga melangit, dan keuntungan menipis.

Masyarakat minang, kata pengamat, bukanlah pencipta ide dan inisiasi usaha, melainkan penjual produk instan, meraup untung yang tak seberapa, yang sebagian besar ludes membayar bunga dan cicilan rentenir. 


Kehidupan moderen menjerat mereka. Memasak pakai gas, minum air isi ulang, beli sayur dan telur, pada hal lahan pekarangan kosong membentang. Mencuci pakai mesin listrik, menyimpan sayur di kulkas, semua membutuhkan energi berbayar (sedangkan status sosialnya sebagai petani), menggerus penghasilan bulanan. Petani pun enggan menggunakan pupuk kandang dari sapi sendiri, lebih suka pupuk pabrikan yang mahal. Semua demi gengsi, demi gaya hidup "urang awak" yang lebih memilih kredit otomotif yang tak produktif, serta handphon canggih untuk bermain game, dan media sosial, yang melahirkan biaya pulsa tiada henti.


Akibatnya, ketika bencana melanda, ekonomi langsung kolaps. Fondasi rapuh karena keuntungan 60 persen habis untuk cicilan hutang rentenir. Daya beli menurun drastis, karena SK pegawai pun sudah tergadai.

Pemerintah yang hanya melakukan kajian dangkal, memanjakan dengan bantuan sosial, seolah tak menyentuh akar masalah yang sesungguhnya:perilaku konsumtif yang menekan produktivitas, dan keengganan menciptakan produk sendiri. 


Untuk mendalami pandangan kritis ini dan mengindentifikasi langkah kongkret yang dapat diambil, kita bisa melihat studi kasus UMKM lokak yang sukses menciptakan produk sendiri di Sumatera Barat. Mau kita telusuri kisah inspirasi mereka ?

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS