Oleh : Zahara Nurul Fatdira, 2310712039, Jurusan Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas zaharanurulf@gmail.com
Pada masa awal kedatangan Tuan Kadhi, Nagari Padang Ganting belum terbentuk.Wilayah ini masih berupa hamparan tanah kosong yang dikelilingi hutan dan perbukitan, tanpa permukiman penduduk. Kedatangan dan perjalanan menuju Padang Ganting menjadi tonggak awal terbentuknya masyarakat serta cikal bakal berdirinya Nagari Padang Ganting.
Perjalanan Tuan Kadhi menuju wilayah ini bukanlah perjalanan yang mudah.
Ia berangkat seorang diri, menelusuri lereng-lereng bukit dan hutan belantara. Dalam kelelahan, ia sempat berhenti di Sawah Kareh, Nagari Balimbing, ia melanjutkan perjalanan siang dan malam, menembus hujan dan panas, hingga akhirnya tiba di Bukit Pagie.
Dari Bukit Pagie, Tuan Kadhi menemukan sebuah mata air jernih di lereng bukit dan memandang hamparan dataran rendah yang subur,hijau,dan indah, diapit oleh Empat Bukit:Bukit Palano, Bukit Pagie, Bukit Parutan, dan Bukit Sangkiang. Keindahan dan kesuburan alam itulah yang mendorongnya menuruni lereng bukit, menembus semak belukar berduri selama berjam-jam, hingga akhirnya menetap di dataran rendah yang kelak menjadi Nagari Padang Ganting.
Tuan Kadhi telah dikenal sebagai sosok alim sejak usia muda. Meski tidak diketahui secara pasti siapa guru awalnya ,pada tahun 1040H/1620M, ia berangkat menuntut ilmu ke Aceh bersama beberapa pemuda Minangkabau, di antaranya Syekh Burhanuddin dari Pariaman. Mereka belajar kepada Syekh Abdul Rauf Singkil Dari rombongan tersebut, hanya Syekh Burhanuddin yang diangkat sebagai Khalifah. Mas’ud Ibrahim kemudian melanjutkan pendalaman ilmunya di Pariaman, khususnya dalam ilmu fikih Ahlussunnah wal Jama’ah, hingga mendapat izin untuk kembali dan mengembangkan Syari’at Islam di Padang Ganting, meskipun tanpa gelar Khalifah.
GelarTuan Kadhi Padang Ganting kemudian melekat pada beliau sebagai tokoh adat dan agama. “Tuan”merupakan gelar kehormatan, sedangkan“Kadhi”berasal dari kata ArabQadhi, yang berarti hakim.
Dalam struktur pemerintahan Minangkabau, Tuan Kadhi merupakan salah satu dari empat pembesar yang membantu Raja Pagaruyuang, Adityawarman. Ia menjabat sebagai Menteri Pengajaran dan Menteri Ibadat,serta berguru kepada Syekh Abdul Rauf di Aceh dan Syekh Burhanuddin di Pariaman, yang memperkuat perannya dalam perkembangan Islam di Padang Gantiang.
Dalam struktur pemerintahan adat Minangkabau,TuanKadhi merupakan salah satu dari empat pembesar besar yang kedudukannya sejajar,dikenal dengan istilah “tagak samo tinggi, duduak samo randah”. Keempat tokoh tersebut adalah Datuak Andomo di Saruaso, Datuak Makhudum di Sumanik, Tuan Titah di Sungai Tarab, dan Tuan Kadhi di Padang Gantiang. Mereka menjadi pembantu Raja Pagaruyuang, Adityawarman, dengan tugas masing-masing. Tuan Kadhi memegang peranan strategis sebagai Menteri Pengajaran dan Menteri Ibadat.
Sebagai Menteri Pengajaran,Tuan Kadhi bertanggung jawab dalam mencerdaskan masyarakat Minangkabau, karena kemajuan sebuah nagari dan kerajaan sangat ditentukan oleh tingkat ilmu pengetahuan penduduknya.
Sebagai Menteri Ibadat, ia membimbing kehidupan keagamaan masyarakat agar berjalan sesuai dengan ajaran Islam, termasuk persoalan ibadah serta halaldan haram.
Kewibawaan Tuan Kadhi juga tercermin dalam tatanan adat Padang Ganting. Dalam upacara adat, ia menempati posisi terhormat di tengah Rumah Gadang. Masyarakat yang ingin menyampaikan persoalan tidak dapat langsung menemuinya, melainkan melalui perantara atau sandisesuai dengan sukunya.
Sistem ini mencerminkan prinsipadat“bajanjangnaik, batanggo turun”, yang menegaskan keteraturan, musyawarah, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat.
Melalui peran dan kepemimpinannya, Tuan Kadhi dikenang sebagai tokoh yang memadukan adat dan syari’at secara seimbang. Warisan nilai yang ia bangun sejak abad ke-17tersebut tetap hidup dan menjadi bagian penting dari identitas Nagari Padang Ganting hingga saat ini.
Sumber:
Darun, Nurasa. (2018). Basa Ampek Balai Tuan Kadhi Padang Gantiang Duluan Bendang Kotopiliang Mata Rantai Historis Kerajaan Pagaruyung. Jakarta : Citra Harta Prima
Zulkarneini. 2026. Sejarah Tuan Kadhi dan Padang Ganting. Wawancara pribadi. Padang Ganting, 8 Januari 2026





No comments:
Post a Comment