Ticker

6/recent/ticker-posts

Edukasi dan Mitigasi Bencana melalui Penanaman Pohon oleh Mahasiswa KKN Kebencanaan Kapalo Koto 4

Sumber: Dokumentasi Kelompok KKN Kebencanaan Kapalo Koto IV


Oleh : KKN Kebencanaan Kapalo Koto IV Universitas Andalas 2026



Di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Sumatera Barat, masyarakat akrab dengan ancaman “galodo” atau tanah longsor. Galodo adalah perpindahan material pembentuk lereng, seperti batuan, tanah, dan puing-puing tanaman, secara tiba-tiba menuruni lereng akibat terganggunya kestabilan tanah (Karnawati, 2017). 

Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia. Faktor alam meliputi curah hujan tinggi, kemiringan lereng yang curam, dan jenis tanah yang mudah longsor. Sementara itu, faktor manusia yang paling kritis adalah penggundulan hutan (deforestasi) dan alih fungsi lahan di daerah lereng, yang menghilangkan penutup vegetasi sebagai penahan alami (Badan Geologi, 2019).

Menyadari kondisi geografis Kelurahan Kapalo Koto yang berbukit dan berpotensi terhadap bencana hidrometeorologi, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Non Reguler Kebencanaan Kelompok Kapalo Koto 4 Universitas Andalas tahun 2025/2026 mengambil inisiatif konkret. 

Mereka merancang program edukasi dan mitigasi bencana yang berfokus pada aksi penanaman pohon. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk rehabilitasi lingkungan pascabencana, tetapi lebih sebagai upaya preventif jangka panjang untuk mengurangi risiko galodo dan banjir, sekaligus menjadi media pembelajaran langsung bagi warga, terutama generasi muda.

Kegiatan penanaman pohon ini didasari pemikiran bahwa mitigasi berbasis ekosistem adalah solusi berkelanjutan. Hilangnya pepohonan mempercepat erosi dan mengurangi stabilitas lereng. Sebaliknya, sistem akar pohon berfungsi sebagai jaring hidup yang mengikat butiran tanah, meningkatkan kekuatan geser tanah, dan menyerap air hujan berlebih (Stokes et al., 2009). 

Dengan demikian, rehabilitasi vegetasi melalui penanaman pohon merupakan langkah strategis untuk mengembalikan keseimbangan hidrologis dan geoteknis lereng, sebagaimana direkomendasikan dalam kerangka pengurangan risiko bencana (BNPB, 2021).

Program ini memiliki tujuan ganda. Secara ekologis, tujuan utama adalah merehabilitasi lahan kritis dan meningkatkan tutupan hijau di titik-titik rawan untuk memperkuat struktur tanah. 

Secara edukatif, kegiatan dirancang sebagai pembelajaran interaktif. Dengan melibatkan anak-anak secara langsung dalam proses penanaman, mahasiswa KKN bertujuan menanamkan pemahaman tentang hubungan sebab-akibat antara hilangnya pohon dengan meningkatnya risiko bencana. 

Harapannya, ini akan membangun generasi yang sadar lingkungan dan tangguh.

Sumber: Dokumentasi Kelompok KKN Kebencanaan Kapalo Koto IV

Dampak positif program ini bersifat multi-dimensional. Dari sisi lingkungan, pohon yang tumbuh akan segera berfungsi menstabilkan lereng, mengurangi laju aliran permukaan air (runoff), dan mencegah erosi faktor-faktor pemicu galodo. Bagi masyarakat, selain meningkatkan keamanan dari ancaman longsor, lingkungan yang lebih hijau meningkatkan kualitas hidup. Lebih penting, proses pembelajaran partisipatif ini meningkatkan kapasitas masyarakat lokal dalam melakukan mitigasi mandiri berbasis alam (community-based disaster risk reduction) (Lavigne et al., 2020).

Inti dari edukasi ini adalah mengubah persepsi bahwa pohon bukan sekadar penghias lanskap, melainkan pondasi hidup (living foundation) yang esensial. Melalui pendampingan, anak-anak dan warga diajak memahami secara sederhana bagaimana akar pohon yang dalam dan menyebar berperan seperti “tulang” dan “jaring” bagi tanah, mencegah tanah melorot atau “galodo”. 

Pemahaman tentang fungsi mekanis akar ini (sebagai pengikat tanah dan penyerap air) adalah kunci membangun kesadaran kritis tentang konservasi (Nila & Reini, 2018).

Kegiatan penanaman pohon oleh mahasiswa KKN Kebencanaan Kapalo Koto 4 merupakan investasi nyata untuk ketangguhan ekologis dan sosial masyarakat. 

Setiap bibit yang ditanam adalah upaya untuk memperbaiki daya dukung lingkungan dan sekaligus menanamkan nilai konservasi. 

Keberhasilan jangka panjang program ini tidak hanya diukur dari hidupnya pohon-pohon tersebut, tetapi juga dari tertanamnya budaya siaga dan upaya pelestarian lingkungan secara mandiri oleh masyarakat Kelurahan Kapalo Koto, menuju komunitas yang lebih aman dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

Badan Geologi. (2019). Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah. Kementerian ESDM RI.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). (2021). Buku Saku Penanggulangan Bencana. Jakarta: BNPB.

Karnawati, D. (2017). Tanah Longsor dan Mitigasinya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Lavigne, F., et al. (2020). Kajian Partisipatif Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Masyarakat. Bandung: ITB Press.

Nila, E. S., & Reini, D. (2018). Peran Vegetasi dalam Stabilisasi Lereng untuk Mitigasi Longsor. Jurnal Teknik Sipil, 15(2), 45-56.

Stokes, A., et al. (2009). Eco- and Ground Bio-Engineering: The Use of Vegetation to Improve Slope Stability. Dordrecht: Springer.

Post a Comment

0 Comments


SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS