UNIVERSITAS DHARMAS INDONESIA TAHUN 2026
Dosen Pengampu :Dr. Amar Salahuddin, M.Pd
Dalam praktik kebidanan, keberhasilan sering diukur melalui indikator yang dapat dihitung: angka kematian ibu dan bayi, lama persalinan, atau keberhasilan tindakan klinis.
Namun ada satu unsur penting yang jarang dibicarakan, bahkan hampir tak pernah diajarkan secara formal, yakni keheningan. Keheningan dalam konteks kebidanan bukanlah ketidakpedulian, melainkan ruang emosional yang memungkinkan perempuan terhubung dengan tubuh dan proses kelahirannya sendiri.
Persalinan adalah peristiwa yang sarat makna, tetapi sering kali dipenuhi suara: instruksi, saran, perintah, bahkan komentar yang tidak selalu dibutuhkan. Di tengah hiruk-pikuk itu, suara batin ibu kerap tenggelam. Kebidanan modern, tanpa disadari, menciptakan ruang bersalin yang bising bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Padahal, banyak perempuan justru membutuhkan ketenangan untuk menghadapi kontraksi, rasa takut, dan perubahan besar dalam hidupnya.
Bidan sejatinya memiliki posisi strategis untuk menjaga keseimbangan ini. Tidak semua momen membutuhkan kata-kata. Kadang kehadiran yang tenang, sentuhan yang tepat, dan tatapan yang meyakinkan jauh lebih bermakna daripada penjelasan panjang. Keheningan yang aman mampu menurunkan kecemasan, membantu ibu mengatur napas, dan memberi ruang bagi tubuh bekerja secara alami.
Sayangnya, keheningan sering disalahartikan sebagai kurangnya tindakan.
Dalam budaya kerja yang menuntut respons cepat, bidan bisa merasa harus terus melakukan sesuatu agar terlihat profesional. Akibatnya, proses persalinan berubah menjadi rangkaian intervensi verbal dan tindakan yang belum tentu dibutuhkan. Perempuan pun merasa terus diawasi, dinilai, dan diarahkan, alih-alih ditemani.
Opini ini tidak bermaksud meniadakan komunikasi. Informasi tetap penting, terutama dalam situasi yang membutuhkan persetujuan tindakan.
Namun komunikasi yang efektif dalam kebidanan bukan soal kuantitas, melainkan kualitas.
Ada saatnya berbicara untuk menjelaskan, ada saatnya diam untuk mendukung. Kebidanan yang matang mampu membaca kapan kata-kata diperlukan, dan kapan keheningan justru menjadi bentuk pendampingan terbaik.
Dalam pendidikan kebidanan, aspek ini hampir tak mendapat tempat. Mahasiswa bidan dilatih berbicara dengan benar, mencatat dengan lengkap, dan melaporkan dengan sistematis, tetapi jarang diajarkan tentang kekuatan hadir secara diam.
Padahal keheningan membutuhkan kesadaran diri, pengendalian emosi, dan empati yang mendalam. Ini bukan kemampuan alami semata, melainkan kompetensi profesional yang seharusnya diasah.
Di masyarakat, banyak perempuan mengingat pengalaman melahirkan bukan dari apa yang dikatakan bidan, melainkan dari bagaimana mereka diperlakukan.
Apakah mereka merasa aman? Apakah ada ruang untuk menangis, ragu, atau lelah tanpa dihakimi? Keheningan yang penuh penerimaan sering kali meninggalkan kesan yang lebih dalam dibandingkan nasihat apa pun.
Bidan yang mampu merawat keheningan berarti menghormati proses persalinan sebagai perjalanan personal, bukan sekadar peristiwa klinis. Dalam ruang yang tenang, perempuan diberi kesempatan untuk mempercayai tubuhnya, mengelola rasa sakitnya, dan merayakan kekuatannya sendiri. Di situlah kebidanan kembali pada esensinya: mendampingi kehidupan, bukan menguasainya.
Pada akhirnya, kebidanan tidak selalu tentang apa yang dilakukan, tetapi juga tentang apa yang sengaja tidak dilakukan.
Dalam dunia kesehatan yang semakin ramai oleh suara teknologi, keheningan adalah bentuk perhatian paling halus sekaligus paling manusiawi.
Menjaganya adalah tanggung jawab moral bidan agar proses kelahiran tetap bermakna, bermartabat, dan utuh bagi setiap perempuan.


































0 Comments