Penulis:Obral Chaniago
Hembusan angin membawa kabar duka.
Sumatera, permata zamrud di khatulistiwa, kini berduka. Banjir dan tanah longsor
mengukir kisah kelam di akhir Nopember 2025.
Langit menangis, air mata tumpah ruah tak
terbendung. Sungai-sungai mengamuk,
meluapkan amarah yang terpendam. Ribuan
rumah, saksi bisu tawa dan air mata, kini
hanya puing-puing hampa, tersapu arus yang
tak kenal ampun.
Tanah, yang selama ini menjadi pijakan,
runtuh dalam dekapan pilu. Jutaan jiwa
terdampak, terperangkap dalam mimpi buruk
yang nyata. Seribuan nyawa melayang,
meninggalkan raga yang tak bernyawa,
ratusan orang hilang, terhanyut dalam mesteri alam.
Ribuan jiwa luka-luka, rintihan pilu terdengar di
setiap penjuru. Ratusan ribu rumah penduduk
porak-poranda, atap-atap terbang
melayang, dinding-dinding runtuh
berserakan. Jalan dan jembatan putus,
memutus asa dan harapan.
Jutaan jiwa mengungsi, mencari
perlindungan dari amuk alam. Ratusan ribu
dievakuasi, tangan-tangan relawan tak kenal lelah, bahu membahu menyelamatkan
nyawa. Tragedi Sumatra, ukiran pilu di
kanvas kehidupan.
Dalam duka yang mendalam, terselip asa.
Bantuan datang dari segala penjuru,
tangan-tangan
terulur, hati-hati bergerak. Semangat
gotong royong, warisan leluhur, kembali
terpatri. Sumatra, bangkitlah, dari puing-
puing duka, ukirlah kembali kisah baru, kisah
tentang ketabahan, tentang asa, tentang kehidupan.(*).

































0 Comments