Serak Gulo, Tradisi Religius Warga Pasa Gadang yang Tetap Dilestarikan - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Sunday, November 23, 2025

Serak Gulo, Tradisi Religius Warga Pasa Gadang yang Tetap Dilestarikan



Ribuan warga memadati halaman Masjid Muhammadan, Pasagadang, Padang Selatan, Kota Padang, Sabtu (22/11/2025) sore, untuk mengikuti puncak perayaan Tradisi Serak Gulo.


Acara berlangsung dari pukul 16.00 hingga 18.00 WIB, menandai 1 Jumadil Akhir 1447 Hijriah.


Serak Gulo, yang berarti “tebar gula”, merupakan ritual tahunan sarat makna, melibatkan penyebaran bungkusan gula dari atas masjid sebagai simbol syukur, keberkahan, dan persaudaraan antar-warga.


Tradisi ini diyakini berakar dari India Selatan dan menjadi penghormatan kepada ulama Sahul Hamid, yang berperan penting dalam penyebaran Islam di Padang.


Sejak 2023, Serak Gulo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.



Prosesi inti dimulai dengan menaikkan karung-karung berisi empat ton gula pasir ke atap masjid.


Setelah doa bersama tokoh agama, gula dibagikan kepada warga yang antusias, meski diguyur hujan lebat.


Panitia bekerja ekstra untuk memastikan keamanan dan kelancaran acara.


Acara didukung Pemerintah Kota Padang, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan sebagian dana dari Pokir DPRD Sumbar.




Sejumlah tokoh hadir, antara lain Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir, Anggota DPD RI Abu Bakar Jamalia, serta Kepala Dinas Pariwisata Provinsi dan Kota.




Sebelum tradisi dilakukan di masjid Muhammadan, sejumlah ulama maupun warga keturunan India berdoa bersama, serta menyiapkan 4 ton gula yang sudah dibungkus kecil-kecil dengan kain Berca.



Ketua Pelaksana Tradisi Serak Gulo, Muhammad Fauzi mengatakan, gula dibagi rata 3 sampai 5 ons kemudian akan ditebarkan ke masyarakat.


“Gula yang sudah dibungkus kain berwarna warni akan dinaikan ke atas masjid, baru akan ditebarkan ke warga yang sudah menunggu di bawah,” jelas Fauzi.


Sontak saja, ribuan masyarakat sudah menunggu di halaman masjid Muhammadan tak sabar mendapatkan gula. Tradisi pun dimulai membuat masyarakat mulai anak-anak hingga orangtua antusias berebutan gula yang dilempar dari atap Masjid.


Muhammad Fauzi menjelaskan, tradisi lempar gula ini berasal dari Madras india selatan yang pelaksanaannya setiap tangal 1 Jumadil Akhir.


“Di Indonesia, hanya Kota Padang yang menggelar tradisi ini. Namun tradisi ini sempat terhenti dua tahun akibat pandemi Covid-19,” ungkapnya.


Kata Fauzi, tradisi ini juga bertujuan sebagai bentuk rasa syukur warga atas berkah rezeki yang mereka dapatkan selama setahun terakhir, sehingga setiap tahunnya dilaksanakan Serak Gulo.


“Seperti biasanya makna dari serak gula ini kita berbagi rejeki kepada masyarakat,” tandasnya.

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS