Atila Salsabila_2410833003 mahasiswa budaya universitas Andalas Padang
Sosialisasi secara harfiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti "proses belajar seorang anggota masyarakat untuk menghayati kebudayaan masyarakat dalam lingkungannya". Gabriel A. Almond dan G. Bingham Powell Jr mendefinisikan sosialisasi politik sebagai "the process by which political cultures are formad, maintained, and changed". Terlihat bahwa definisi tersebut lebih condong mengatakan bahwa sosialisasi politik merupakan proses pembentukan budaya politik masyarakat, yang di dalamnya terdapat pengenalan nilai-nilai politik. Sebagai masyarakat yang modern media sosial menjadi makanan setiap harinya, media komunikasi yang sangat beragam menyediakan berbagai bentuk informasi dan pendidikan politik yang intens diberikan kepada masyarakat. Seperti contohnya penyiaran berita mengenai aktivitas politik seperti diskusi politik dan berita situasi negara merupakan salah satu bentuk dari peranan media sosial dalam menjadi agen sosialisasi. Media sosial berperan dalam memengaruhi sosialisasi, media sosial memainkan peran multifungsi bagi Gen Z. la tidak hanya menjadi sumber informasi utama, tetapi juga sebagai agen sosialisasi politik, media yang interaktif dan mudah diakses, serta sarana penting untuk merancang strategi komunikasi politik. Fleksibilitas, kemudahan akses, dan keragaman informasi menjadi alasan utama mengapa Gen Z menjadikan media sosial sebagai pilihan utama mereka di kalangan gen z.
Menurut saya, media sosial kini menjadi sarana paling efektif dalam proses sosialisasi politik, terutama di kalangan anak muda. Media sosial bukan hanya tempat berbagi foto atau hiburan, tapi sudah berkembang menjadi ruang publik tempat masyarakat belajar, berdiskusi, dan membentuk pandangan politik. Di era digital seperti sekarang, media sosial berperan besar dalam menumbuhkan kesadaran politik dan meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap isu-isu kenegaraan. Peran media sosial terlihat jelas sebagai sumber utama informasi politik. Masyarakat tidak lagi bergantung pada televisi atau surat kabar, melainkan mencari berita politik melalui platform seperti Instagram, X (Twitter), YouTube, dan TikTok. Melalui konten yang cepat dan menarik, informasi politik bisa menjangkau audiens lebih luas. Misalnya, saat masa Pemilu 2019 dan Pemilu 2024, banyak lembaga seperti KPU (Komisi Pemilihan Umum) menggunakan media sosial resmi untuk menyebarkan informasi seputar jadwal pemilihan, tata cara pencoblosan, dan pentingnya partisipasi pemilih muda. Selain itu, tokoh politik juga memanfaatkan media sosial sebagai alat komunikasi langsung dengan masyarakat. Contohnya, presiden Joko widodo aktif menggunakan media sosial seperti Instagram dan YouTube untuk menyampaikan pesan politik, menjelaskan kebijakan, serta menampilkan sisi humanis dari kepemimpinannya. Hal ini menciptakan kedekatan emosional dengan rakyat dan membuat politik terasa lebih dekat serta mudah dipahami. Tidak hanya dari pemerintah, gerakan masyarakat sipil pun banyak memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan isu politik. Misalnya, gerakan #ReformasiDikorupsi dan #TolakOmnibusLaw yang sempat viral di Twitter dan Instagram berhasil menggerakkan banyak anak muda untuk lebih peduli terhadap isu keadilan sosial dan kebijakan pemerintah. Melalui tagar dan unggahan kreatif, pesan politik bisa tersebar luas dan membangun kesadaran kolektif.Dari berbagai contoh tersebut, saya melihat bahwa media sosial benar-benar berperan sebagai agen sosialisasi politik modern.. Ia mampu menyebarkan informasi, mendidik masyarakat, sekaligus menjadi wadah partisipasi politik yang terbuka. Tantangannya kini adalah bagaimana masyarakat bisa lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi agar media sosial tidak hanya menjadi alat propaganda, tapi juga ruang pembelajaran politik yang sehat dan demokratis.
Tidak bisa dimungkiri bahwa media sosial telah merevolusi cara kita berinteraksi dengan politik. Ia telah membuka pintu bagi partisipasi yang lebih besar dan informasi yang lebih cepat. Namun, kekuatan besar ini juga datang dengan tanggung jawab besar. Untuk memastikan media sosial tetap menjadi kekuatan yang positif dalam sosialisasi politik, kita semua memiliki peran. Sudah saatnya kita tidak hanya peduli, tetapi juga bertanggung jawab atas informasi yang kita konsumsi dan sebarkan.
Dengan membangun budaya literasi digital, kita dapat memastikan bahwa media sosial menjadi ruang yang sehat untuk mewujudkan masyarakat politik yang lebih aktif dan cerdas.





No comments:
Post a Comment