PANGGUNG TANPA PENONTON: PARTAI POLITIK DAN BAYANGAN OLIGARKI - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Friday, November 14, 2025

PANGGUNG TANPA PENONTON: PARTAI POLITIK DAN BAYANGAN OLIGARKI

Nama : Nafisah Putri Ansharullah NIM : 2410833020



Di atas panggung demokrasi, sorot lampu masih menyala. Alat pengeras suara masih berdiri tagak. 

Para aktor partai politik bergantian membicarakan tentang rakyat, kesejahteraan, dan perubahan. 


Namun, dari barisan penonton, semakin sedikit wajah yang menatap kearah mereka. 


Sebagian telah beranjak pergi letih, bosan, atau mungkin bahkan tak lagi percaya. 

Demokrasi yang dulu gemerlap kini terasa seperti pertunjukan yang kehilangan makna. 


Inilah panggung tanpa penonton, tempat partai politik memainkan lakon yang semakin jauh dari nadi rakyatnya.


Partai politik sejatinya lahir dari denyut sosial. ia diciptakan untuk menjadi penghubung antara rakyat dan penguasa, antara harapan dan kebijakan. 


Naum dalam perjalanan waktu, partai politik sering kali lupa dari mana ia berasal. Fungsi-fungsi dasarnya sosialisasi politik, rekrutmen kader, dan penyalur aspirasi perlahan menjadi rutinitas yang kehilangan roh. Proses kaderisasi lebih banyak diwarnai kepentingan pragmatis, bukan idealisme perjuangan. 


Di ruang-ruang rapat partai, suara rakyat sering tenggelam diantara bisik-bisik elite yang menimbang keuntungan kekuasaan.Dalam kacamata sosiologi politik, ini mencerminkan terputusnya relasi sosial antara partai dan masyarakat. Partai yang dulu berakar di tengah rakyat kini melayang di udara kekuasaan. Ia berbicara atas nama rakyat, tetapi jarang mendengarkan mereka. 


Ia menjanjikan perubahan, tetapi jarang memahami penderitaan di lapisan bawah. 


Bayangan oligarki di balik demokrasi, oligarki tidak selalu hadir dengan wajah yang jelas. Ia bekerja dalam bayangan, di balik tirai kekuasaan. Mereka menguasai sumber ekonomi diam-diam juga mengendalikan sumber politik. 


Modal menjadi tiket masuk kedalam partai, kekayaan menjadi ukuran pengaruh.


 Akibatnya demokrasi berubah menjadi arena kompetisi antara pemodal, bukan antar gagasan. Jeffrey A. Winters (20110 dalam bukunya Oligarchy menyebut fenomena ini sebagai bentuk ”kekuasan harta atas negara”.


 Di indonesia, hal ini tampak nyata dalam proses pencalonan politik. 


Banyak kandidat tidak muncul karena rekam jejak atau ide, melainkan karena kemampuan finansial dan jaringan oligarkis di belakangnya. Demokrasi tetap berjalan pemilu dilaksanakan, kampanye digelar, jnji ditebar tetapi makna dari setiap momentum perlahan mundur. 


Rakyat memang memilih, namun pilihan itu sudah disaring oleh kepentingan para pemilik modal. 


Kita menyaksikan demokrasi yang hanya hidup di permukaan prosedural, tapi kehilangan substansi. Ditengah kebisingan politik, suara rakyat sering kali justru hening. 


Generasi muda, yang seharusnya menjadi penonton dan sekaligus pemain utama dalam demokrasi, mulai menjauh dari arena. Mereka lebih percaya pada gerakan sosial, komunitas independen, atau media digital dibanding partai politik. 


Fenomena ini bukan hanya sekedar bentuk apatisme, melainkan krisis kepercayaan. Ketika rakyat merasa tak lagi diwakili, mereka memilih diam. Diam bukan karena tidak peduli, tapi karena merasa suaranya tidak lagi berarti. Partai politik kehilangan penonton bukan karena rakyat lelah dengan demokrasi, tetapi karena rakyat lelah dengan sandiwara kekuasaan yang terus berulang.Dalam perspektif sosiologi politik, hal ini menandai kegagalan partai sebagai institusi sosial. Mereka tidak lagi mampu membangun komunikasi dua arah yang hidup antara struktur politik dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Politik menjadi sekedar bahasa elit, bukan percakapan sosial. Meski begitu, panggung itu belum sepanuhnya gelap. Masih ada aktor-aktor kecil yang menolak diam para kader muda, aktivis sosial, dan komunitas akar rumput yang terus menyalakan lilin kecil di tengah gelapnya bayangan oligarki. Mereka menuntut partai kembali ke fitrahnya, bukan sekedar alat perebutan kekuasaan, tetapi sarana perjungan sosial. Reformasi partai politik harus dimulai dari keterbukaan dan keberpihakkan sosial.Partai perlu kembali membangun ruang dialog dengan masyarakat, memberi tempat bagi gagasan baru, dan menjadikan integritas sebagai dasar rekrutmen politik. Sebab demokrasi sejati bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi siapa yang diwakili. Bukan tetang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling jujur mendengarkan.Pangggung tanpa penonton asalah metafora dari demokrasi yang kehilangan ruh sosialnya. Ketika partai ppolitik tak lagi berpihak pada rakyat, ketika oligarki berdiri di balik layar, dan ketika rakyat memilih diam demkrasi berubah menjadi ritual kosong. Namun harapan tidak pernah benar – benar padam. Selama masih ada mereka yang berani menghidupkan idealisme, menolak dibugkam, dan menulis naskah baru untuk panggung politik bangsa, demokrasi masih punya kesempatan untuk pulih. 


Sebab panggung ini, sejatinya bukan milik para aktor, melainkan penonton rakyar yang suata hari nanti akan kembali duduk, menyaksikan pertunjukan yang benar-benar berbicara tentang mereka.

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS