Oleh Fitri Anggraini mahasiswa fakultas bahasa dan seni universitas Negeri Padang
Mbok Wito adalah Masyarakat transmigrasi era presiden Soeharto saat itu yang kini tinggal di desa Timpeh 2 tepatnya di Kabupaten Dharmasraya. Kabupaten ini rata-rata penduduknya adalah masyarakat transmigrasi. Oleh karena itu makanan khas daerah ini pun beragam sesuai dengan siapa dan dari mana orang yang membuat makanan tersebut.
Mbok Wito merupakan warga asli dari Yogyakarta, beliau merupakan masyarakat yang dulu ya mengonsumsi nasi jagung atau sego jagung sebagai makanan pokok. Mbok Wito terbiasa saat sarapan membuat makanan segar dan masih awam dengan beras atau nasi kala itu. Karena asal-muasal penduduk yang beragam terciptalah ide mbok Wito untuk menjual makanan khas daerahnya yaitu sego jagung. “Mbiyen ora ono seng iso nggawe panganane, pas Mbok gawe do seneng, yowes simbok dodolan sego jagung nggo tambah-tambah arto” (“ Dulu enggak ada yang bisa bikin makanannya, saat mbok buat kok pada suka, yasudah simbok jualan nasi jagung aja untuk tambah-tambah uang.”) jawabnya saat ditanya bagaimana awal beliau berjualan sego jagung.
Pagi-pagi buta mbok Wito sudah bangun menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum mulai menyiapkan dagangannya yang akan ia bawa berkeliling desa. Selesai dengan pekerjaan rumah iya langsung mengukus nasi jagung yang telah iya olah sehari sebelum ia akan berdagang. Jika ditanya lelah atau letih beliau akan menjawab biasa karena dari usia 28 tahun semenjak ia pindah ke desa ini ia sudah mulai berdagang keliling desa dari pagi hingga sore hari. “Jenenge nggolek arto yo kesel Nduk, tapi kan kudu dilakoni ben iso nabung.” (“Namanya cari uang ya capek, Nak. Tapi ya harus dijalani supaya bisa nabung.”)
Jagung yang ia olah selama ini juga merupakan hasil kebun miliknya bersama suami. Ia tidak berjualan setiap hari hanya hari-hari tertentu seperti hari pasar hari minggu, hari Selasa, hari Kamis, hari Jumat. Terkadang jika ada yang memesan ia juga akan membuatkannya dalam partai besar maupun kecil. Saat hari ia tidak berdagang atau tidak ada pesanan maka iya akan membantu suaminya berkebun mengolah lahan dan menanam jagung serta ubi, ubi yang ia tanam bisa iya olah menjadi gaplek dan juga sego tiwul. Jadi tidak hanya sego jagung namun beliau juga bisa mengolah gaplek dan sego tiwul yang akan ia pasarkan kepada tetangga-tetangga di desanya.
Tangannya yang terampil membuatnya dapat hidup dengan layak di desa ini meskipun hanya melalui berjualan makanan-makanan kecil. Rasanya yang authentic dari makanan khas Yogyakarta yang beliau bawa tersebut menyatu dengan lidah masyarakat di Sumatra Barat tepatnya di desa kecil bernama Timpeh 2 ini. Bukan hanya dari kalangan orang dewasa tetapi anak anak pun menyukai beberapa makanan yang beliau bawa, selain itu ada juga bacem tahu dan tempe sebagai pelengkap dari sego tiwul dan sego jagung tersebut.
Iya sudah berjualan keliling desa selama berpuluh-puluh tahun. Hingga saat ini ia berusia sekitar 68 tahun ia masih mampu berkeliling desa menjajakan dagangannya sendiri. Saat ditanya kenapa tidak menggunakan kendaraan ia selalu menjawab “wong dodolane karo olahraga ben sehat sikile sak awake, ben iseh kuat nggendong buyute.” (“Orang jualannya sambil olahraga supaya sehat kaki dan tubuh, supaya masih kuat menggendong buyutnya”).
“Sak Iki ora ono seng gelem dodolan keliling, nggawe sego jagung, sego tiwul, gaplek. Jarene nggawe ne kesel, njilmet.” (“Sekarang nggak ada yang mau jualan keliling, membuat nasi jagung, nasi tiwul dan gaplek itu susah katanya dan rumit pengerjaannya.”) begitu katanya saat ditanya kenapa masih berjualan diusia lansianya, padahal beliau memiliki 3 orang putri yang sudah berkeluarga. Tapi tidak satupun yang menggantikan perannya di masyarakat.
Bagi mbok Wito, Sego jagung merupakan olahan tangan penuh cinta yang ia jajakan itu merupakan penyambung hidupnya. Hari demi hari ia bersama suami selalu merawat kebunnya, dan ia lah yang mengolah agar mereka tetap bisa menyambung hidup bertahun-tahun. Ia tak pernah merasa letih, bahkan ia hanya libur berjualan di saat hari raya, hari-hari besar dan saat ia sakit saja. Namun berkatnya pula sego jagung masih populer di zaman sekarang.
Peranan anak muda juga perlu baginya, agar makanan ini tidak habis dimakan waktu. Beberapa diantaranya adalah memasarkan melalui pedagang makanan di pasar, dipasarkan secara online dan lainnya.
Selain itu, mbok Wito perlu penerus yang bisa meneruskan resep jajanan pasar dan makanan pokok tersebut agar tetap lestari.





























0 Comments