Nama: Muhammad Afin Firmansyah
NIM: 2210322049
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara msyarakat Indonesia, memperoleh, memahami, dan menyebarkan informasi politik. Media sosial seperti TikTok, Facebook, Instagram, WhatsApp, dan X sudah tidak lagi berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga menjadi ruang pembentukan opini publik mengenai kebijakan, tokoh, dan peristiwa politik. Namun, kemudahan distribusi informasi juga membuka peluang untuk penyebaran hoaks yang dapat mempengaruhi persepsi dari Masyarakat itu sendiri. Berdasarkan siaran Pers Kementrerian Komunikasi dan Informatika pada 29 Januari 2024, selama periode 1 Juli 2023 hingaa 24 Januari 2024, pemerintah mengidentifikasi 195 isu hoaks terkait Pemilu yang resebar dalam 2.825 konten digital. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.546 konten telah ditindaklanjuti. Data ini menunjukkan bahwa hoaks pemilu menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian ekosistem informasi digital Indonesia.
Penyebaran hoaks politik tidak dapat dijelaskanhanya melalui rendahnya literasi digital atau kurangnya akses Masyarakat terhadap infromasi yang benar. Persoalan ini juga berkaitan dengan kecendrungan manusia dalam mempertahankan keyakinan yang didukungnya dan menilai informasi hanya berdasarkan keseuaian dengan pandangan pribadinya. Dalam situasi politik yang melibatkan perbedaan pilihan dan identitas kelompok, seseorang akan dapat lebih tertarik pada informasi yang menguntungkan tokoh pilihannya daripada informasi yang menuntutnya mengevaluasi Kembali keyakinan tersebut.
Dalam psikologi fenomena penyebaran hoaks politik dapat dilihat sebagai confirmation bias, di mana kecenderungan individu untuk mencari, memilih, atau menafsirkan informasi dengan cara yang mendukung keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya (Nickerson,1998). Dalam politik digital, kecenderungan ini dapat muncul disaat seseorang lebih mudah menerima informasi yang menguntungkan tokoh politik yang didukungnya, tetapi lebih kritis atau cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan padangannya. Dalam situasi ini, keyakinan sebelumnya berpotensi mempengauhi cara seseorang menilai kredibiltas sumber dan bukti yang disajikan. Akibatnya informasi yang sesuai dengan padangan pribadi dapat diterima seadanya, sementara infromasi yang bertentangan diabaikan.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi penyebaran hoaks politik Adalah membangun kebiasaan mengevaluasi informasi secara kritis sebelum mempercayai atau membagikannya. Pengguna media sosial perlu memeriksa sumber asli, tanggal publikasi, konteks pernyataan, dan juga bukti yang mendukung suatu klaim. Disaat menemukan informasi yang sesuai dengan pilihan politikknya pengguna sebagiknya tetap melakukan pemeriksaan yang sama seperti menghadapi informasi yang berlawanan dengan keyakinannya. Kebiasaan ini penting untuk mengurangi kemungkinan bahwa preferensi politik menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan kebenaran informasi.
Referensi:
Nickerson, R. S. (1998). Confirmation bias: A ubiquitous phenomenon in many guises. Review of General Psychology, 2(2), 175–220. https//doi.org/10.1037/1089-2680.2.2.175
https://www.komdigi.go.id/berita/siaran-pers/detail/siaran-pers-no-70-hm-kominfo-01-2024-tentang-masyarakat-makin-dewasa-wamenkominfo-politik-identitas-dan-hoaks-menurun


"
/>



No comments:
Post a Comment