Pulang ke Rahim Angin - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Saturday, September 19, 2026

Pulang ke Rahim Angin

  



Oleh Obral Chanigo


Tubuhku terasa kian berat seiring sore yang luruh di sudut terminal antarkota ini. Kutatap telapak tanganku yang kasar, jalurnya sedalam parit-parit keputusasaan. Aku sudah tergilas dengan cita-cita. Impian masa muda yang dulu berkobar, kini menyisakan abu yang dingin. Tak ada gunanya lagi disesali di ujung usia kepala enam, batinku berbisik pahit. 

Semua sudah terlanjur menjadi tiang-tiang boton dan debu jalanan Jakarta. 


Walau sejak umur belasan tahun aku terus berusaha, membanting tulang tanpa kenal siang dan malam, namun hasilnya tak sesuai harapan. Cukup puluhan tahun aku urban ke kota, menjadi sekrup kecil di mesin raksasa metropolitan yang tak pernah tidur. Aku mengira kota ini punya hati, tapi ia hanya punya lambung yang lapar, siap mengunyah siapa saja yang datang dengan mimpi kosong. Tapi sekarang tubuh melemah, sendi-sendiku mulai protes setiap kali udara malam menusuk tulang. 


Aku ingin pulang. Keinginan itu mendesak kuat dari dalam dada, mengalahkan rasa lapar dan lelah. Oh, entah kemana. Pertanyaan itu yang menghentikan langkahku di ambang pintu keberangkatan. 


Ke mana aku harus kembali? 


Jika aku mengingat rumah masa kecilku yang di pinggir gunung, ingatan itu langsung buyar oleh berita duka beberapa tahun lalu, desa itu kini telah tertimbun lahar dan larva, terkubur dalam dinginnya batu vulkanik. Lalu, ingatan beralih ke rumah kakek yang di pinggir sungai, tempat dulu aku memancing ikan. Kini tempat itu telah tertimbun lumpur material banjir, lenyap tersapu amarah alam yang kehilangan hutannya. 


Harapan terakhirku adalah gubuk tua yang di pinggir pantai, tempat paman mengajari aku melihat ufuk. Namun, garis pantai itu kini telah dilanda gelombang, hancur oleh abrasi dan pasang yang tak lagi bersahabat. Bahkan, sejengkal tanah yang di pinggir hutan, tempat makam orang tuaku berada, kini tak lagi bisa kupijak. Tanah leluhur telah dirampas keserakahan penguasa, disulap menjadi perkebunan kelapa sawit raksasa yang dijaga senapan. 


Oh, kemana lagi aku akan pulang? 


Aku terasing di kota orang, dan menjadi asing di tanah kelahiran sendiri. Aku telah tergilas masa muda, menyerahkan seluruh energi terbaikku demi lembaran-lembaran rupiah yang selalu habis sebelum bulan berganti. 

Hingga aku di usia kepala lebih setengah abad, aku belum jua menikah. Tak ada istri yang menunggu dengan teh hangat, tak ada anak yang akan melanjutkan nama atau sekadar memijat pundakku yang linu. 


Aku merasa seperti lambung ombak yang kosonng. Aku adalah kapal yang tak punya tempat berlabuh. Di dermaga mana pun aku bersandar, aku selalu diusir oleh kenyataan. 


Peluit bus malam melengking, memecah lamunan. Penumpang berebut naik, membawa tas-tas besar berisi oleh-oleh untuk keluarga mereka di kampung halaman. 

Sementara aku, hanya membawa sepotong raga yang rapuh dan sebuah tas usang berisi pakaian penutup sisa umur. 


Aku melangkah lambat, bukan menuju pintu bus, melainkan berjalan keluar dari terminal. 

Jika bumi tak lagi menyisakan sejengkal tanah untukku pulang, maka biarlah sisa napas ini kuserahkan pada angin malam yang berembus bebas. Kota ini mungkin telah meremukkan mimpiku, tetapi ia tidak akan bisa menahan jiwaku yang mulai belajar melepaskan segalanya.***

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS