Oleh Aqila Fadya Hayya
Mahasiswa FISIP Universitas Andalas
Realita bahwa sekolah merupakan tempat aman bagi tumbuh kembang anak justru dihadapkan oleh persoalan yang sangat serius, pasalnya Tindakan perundungan (bullying) di fase sekolah dasar menjadi hal yang patut diperhatikan. Sekolah dasar menjadi periode penting bagi tumbuh kembang anak dan pembentukan kepribadian serta kecerdasan emosional. Pada masa ini, berbagai pangalaman yang diperoleh anak, termasuk hubungan dan kebiasaan berinteraksi dengan teman sebaya yang nantinya berdampak pada perkembangan kepribadian mereka dikemudian hari. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa lingkungan sekolah tidak terlepas dari berbagai permasalahan social, yakninya bullying atau perundungan. Penyebab kegiatan ini terus berulang-ulang terjadi di Tingkat sekolahdasar adalah minimnya literasi dan ketidakmampuan peserta didik dalam mengidentifikasi batasan perilaku normatif. Anak-anak Tingkat dasar menganggap bahwa Tindakan mereka yang mengolok-olok, mengisolasi teman dari kelompok, atau melakukan candaan fisik yang ekstrem sebagai hal yang dianggap lumrah dan wajar. Namun apabila tidak segera dikenali dan ditangani perundungan (bullying) dapat memberikan dampak negative terhadap emosional korban, mengurangi rasa percaya diri, bahkan memengaruhi terciptanya suasana belajar yang aman dan nyaman. Oleh karena itu penulis menganggap pentingnya Upaya pencegahan sejak usia dini, program KKN Kampus Berdampak Universitas Andalas melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Anti Bullying Sejak Dini di SDN 42 Kubang pada Jumat, 24 Juli 2026.
Sosialisasi dan edukasi mengenai bullying kepada anak sekolah dasar khususnya kelas 3 SD di negeri Kubang tentunya membutuhkan cara yang mumpuni dengan memahami karakteristik dan tahap perkembangan mereka. Oleh sebab itu, program kerja KKN ini dirancang dengan pendekatan yang lebih interaktif dan menyenangkan, dengtan menggabungtkan komunikasi dua arah, media visua, serta ice breaking yang melibatkan Gerak dan partisipasi siswa. Sebelum kegiatan dilaksanakan, mahasiwa KKN terlebih dahulu melakukan korrdinasi dengan guru SDN 42 Kubang, tujuannya Adalah agar materi yang akan diberikan dapat disesuaikan dengan bagaimana karakter siswa yang telah diterapkan oleh pihak sekolah. Ketika kegiatan dimulai di dalam kelas, siswa diajak mengikuti ice breaking dan yel-yel bersama untuk menciptakan suasana yang lebih santai, membangun kedekatan, sekaligus meningkatkan antusiasme mereka dalam mengikuti kegiatan.
Kemudian materi ini disampaikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh anak- anak. Dimulai dari siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk bullying, seperti perundungan fisik, perundungan verbal yang dapat berupa ejekan atau pemberian julukan yang tidak menyenangkan, dan juga perundungan sosial dalam bentuk mengucilkan atau menjauhkan seseorang dari kelompok pertemanan. Materi yang disampaikan tidak hanya dari segi teoritis, tetapi juga melalui pemahaman siswa diperkuat melalui gambar bercerita dan video pendek yang menggambarkan situasi perundungan dalam kehidupan sehari-hari. Pembahasan kasus- kasus sederhana seperti anak diajak mengenali dampak yang mungkin dirasakan oleh korban sekaligus memahami tindakan yang sebaiknya dilakukan ketika mereka mengalami atau menyaksikan perundungan. Kegiatan ditutup dengan membangun komitmen bersama untuk tidak melakukan bullying, berani menolak tindakan tersebut, serta saling menghargai dan menjaga satu sama lain. Edukasi ini menunjukkan hasil yang positif dalam beberapa aspek perkembangan siswa. Dari segi pengetahuan, siswa dapat memahami dan juga mengenali berbagai bentuk perundungan dan memahami bahwa tindakan yang selama ini mungkin dianggap sebagai candaan dapat memberikan dampak kesehatan mental yang menyakiti orang lain.
Dari segi sikap, kegiatan ini membantu menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap teman. Dimana mereka mulai memahami bahwa seseorang yang menjadi korban bullying dapat mengalami perasaan sedih, takut, malu, atau kehilangan kepercayaan diri. Sementara itu, dari sisi pelaku, kegiatan ini mendorong munculnya keberanian untuk mengambil sikap ketika menghadapi perundungan, baik dengan menolak tindakan tersebut maupun dengan menyampaikanj kejadian kepada orang dewasa yang dipercaya, seperti guru dan orang tua.
Walaupun kegiatan sosialisasi telah memberikan pemahaman awal mengenai pentingnya mencegah bullying, upaya membangun karakter dan menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan tidak dapat dilakukan hanya melalui satu kali kegiatan. Diperlukan pembiasaan dan kerja sama yang berkelanjutan antara sekolah, guru, orang tua, serta siswa. Pihak sekolah dapat terus menguatkan pesan anti-perundungan melalui kegiatan rutin, pembiasaan sehari-hari, maupun dengan mengintegrasikan nilai saling menghargai dan peduli terhadap sesama ke dalam pendidikan karakter. Untuk kegiatan pengabdian berikutnya, edukasi juga dapat diperkuat dengan menyediakan media yang dapat digunakan dalam jangka panjang, misalnya poster, papan informasi, atau sudut edukasi anti-bullying di lingkungan sekolah. Dengan adanya upaya yang dilakukan secara konsisten sejak dini, sekolah diharapkan mampu menjadi ruang belajar yang lebih aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak menjadi pribadi yang peduli, percaya diri, serta memiliki empati terhadap orang lain.


"
/>



No comments:
Post a Comment