JAKARTA - Pembangunan jalan tol Padang - Pekanbaru, khususnya ruas Padang - Sicincin tercatat sebagai pembangunan ruas terlama dalam sejarah pembangunan jalan tol trans Sumatera (JTTS).
Krisis tanah ulayat menjadi salah satu faktor penyebab lambatnya penyelesaian pembangunan jalan tol Padang - Sicincin. Bayangkan Penetapan Lokasi (Penlok) I Tol Padang - Sicincin hanya sepanjang 450 Km dari total panjang tol secara keseluruhan, 36 Km.
Kepala Proyek Tol Padang - Sicincin berganti tiap sebentar karena dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah jalan tersebut.
Akhirnya, dalam satu fase dana pembangunan yang sudah diturunkan oleh pemerintah senilai Rp2,3 triliun, akan dipindahkan untuk kelanjutan pembangunan jalan tol di Parapat, Sumatera Utara. Namun upaya ini berhasil dibatalkan, dan pembangunan jalan tol Padang - Sicincin dilanjutkan dengan Penlok 2 sepanjang 32 Km.
Meski pun pembangunan berjalan terseok seok dengan spot terpotong potong, akhirnya jalan Tol Padang - Sicincin berhasil dioperasikan dan mampu melayani lalulintas harian mencapai 2.000 hingga 8.000 kendaraan pada kondisi fix session. Bahkan pada hari besar tembus 18.000 kendaraan.
Kisah pembangunan jalan tol di Sumatera memang tidak seperti cerita film Jin dan Jun atau film Siti Nurbaya. Film Tol Padang - Sicincin lebih tepat bercerita tentang orang per orang yang punya loyalitas kedaerahan, kemudian meminta para pemilik tanah untuk berjiwa besar menyerahkan tanahnya kepada negara, dan itu berhasil. Buktinya, jalan tol Padang - Sicincin berhasil dioperasikan PT Hutama Karya.
Tol Padang - Sicincin, seterusnya Sicincin - Bukittinggi, dan Bukittinggi - Payakumbuh, pada dasarnya adalah sirip Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Jalan Tol Trans Sumatera sebenarnya adalah yang merayap dari Lampung, Palembang, Jambi, Pekanbaru, Medan terus ke Aceh.
Pada awal pembangunan JTTS, banyak pihak meragukan niat baik pemerintah dan kemampuan PT Hutama Karya.
Tetai siapa menyangka. JTTS kemudian menjadi penyumbang terbesar dalam pendapatan PT Hutama Karya.
PT Hutama Karya sepanjang tahun 2025 mencatat pertumbuhan berkualitas, termasuk pencapaian laba bersih yang bertumbuh 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Hutama Karya (Persero) Tahun Buku 2025 di Jakarta, Selasa (23/6/2026) dilaporkan, sepanjang 2025 laba bersih Hutama Karya tumbuh 11,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan juga tercermin pada laba usaha yang naik 10,2 persen, laba sebelum pajak yang tumbuh 13,1 persen, serta marjin laba bersih yang menguat ke 12,3 persen dari 9,1 persen pada tahun sebelumnya. Laba bersih yang didistribusikan kepada pemilik entitas induk bahkan tumbuh 20,5 persen.
Penguatan juga terlihat pada neraca. Total liabilitas Perseroan turun 17,4 persen dan beban keuangan berkurang 24,5 persen, sementara ekuitas terus menguat, menandai struktur permodalan yang semakin sehat dan kapasitas yang lebih besar untuk membiayai proyek strategis jangka panjang.
"Tahun 2025 menjadi fase transisi bagi sebagian ruas JTTS dari konstruksi ke operasi. Pada fase ini kami memprioritaskan efisiensi dan kualitas laba, sehingga laba bersih tetap tumbuh dan struktur permodalan kami semakin sehat. Inilah yang kami maksud dengan pertumbuhan yang berkualitas," ujar Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro dalam penjelasan tertulisnya kepada media.
Peningkatan ini juga dipicu oleh pergeseran sejumlah ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dari fase konstruksi puncak ke fase operasi yang memengaruhi komposisi pendapatan.
Hingga kini Hutama Karya telah membangun JTTS sepanjang ±1.235 km dan mengelola 14 ruas tol strategis yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi di Sumatera dan Jawa.
Kehadiran JTTS memberi dampak berganda: pemangkasan biaya dan waktu logistik, tumbuhnya UMKM melalui prioritas tenant di rest area, serta berkembangnya pariwisata daerah melalui semangat konektivitas "Sumatra Sudah Dekat".
Pengusaha perkebunan di Sumatera Utara juga mengaku mengalami peningkatan volume ekspor CPO dua kali lipat dalam setahun setelah jalan tol terbuka di Sumatera Utara. Gaji para sopir juga meningkat dua kali setelah armadanya lewat jalan tol. Para petani sawit pun bergairah memacu produksi karena terjadi kenaikan demand dua kali lipat akibatnya adanya jalan tol.
Orang Dumai, kini dapat sarapan dan melakukan pertemuan bisnis dengan mitra usahanya di Pekanbaru, dan pada sore harinya sudah bisa pulang ke Dumai dan dapat kembali bertemu keluarga pada malam harinya.
Situasi yang sama sebenarnya juga bisa dirasakan oleh masyarakat Sumatera Barat melalui ruas Jalan Tol Padang - Pekanbaru, yang notabene bisa memutus waktu perjalanan hanya sampai tiga jam dari semula 7,5-8 jam dalam kondisi normal. Tetapi jika terjadi longsor, bisa tertahan lebih dari 12 hingga 240 jam. Bahkan bisa lebih.
Pengalaman terjadinya banjir bandang November 2026 lalu, benar benar menjadi kabar pertakut bagi masyarakat Sumatera Barat yang setiap hari menggunakan jalan nasional Padang - Bukittinggi.
Akibat putusnya jalan Lembah Anai, masyarakat jadi terlantar. Mau pergi ke Padang atau ke Padang Panjang harus memutar lewat Sitinjau Luik dan Malalak. Pada banjir bandang kemarin rute ke Malalak pun putus. Semua kegiatan menjadi terhenti. Tidak sedikit kerugian ekonomis yang dialami oleh masyarakat dan pengguna jasa jalan nasional Padang - Bukittinggi.
Nasib yang sama masih dialami pada saat ruas jalan Lembah Anai sudah selesai direhabilitasi oleh PT Hutama Karya melalui anak perusahaannya PT Hutama Karya Infrastruktur.
Ruas Lembah Anai masih belum aman dari terjangan longsor. Setiap longsor terjadi, ruas jalan Lembah Anai ditutup, kemudian dibuka secara terbatas. Dan pemilik motor serta mobil harus antri ber jam jam menunggu jadual bisa lewat di ruas yang kena longsor tersebut.
Terakhir kali, longsor kembali terjadi di ruas Jalan Padang–Bukittinggi, tepatnya di KM 66+700 kawasan Lembah Anai, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, pada Kamis (30/7/2026) sekitar pukul 19.40 WIB. Peristiwa ini kembali memutus akses jalan hanya sehari setelah jalur tersebut dibuka usai longsor sebelumnya di KM 61+800.
Material berupa batu besar dan tanah menutupi sebagian badan jalan sehingga arus kendaraan dari arah Padang maupun Bukittinggi terpaksa dihentikan.
Satlantas Polres Padang Panjang langsung melakukan penutupan jalur demi menghindari risiko terhadap pengguna jalan. Sejumlah kendaraan pun diarahkan berhenti di lokasi yang dinilai aman sambil menunggu proses penanganan.
Longsor dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan Lembah Anai sejak sore hari. Hingga Kamis malam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang Panjang memastikan belum menerima laporan adanya korban jiwa maupun korban luka akibat kejadian tersebut. (Dikutip dari Fativa.id)
Meski Ditolak, Tol Tetap Solusi Transportasi Sumbar
Dalam konteks bencana, lamanya waktu tempuh di ruas jalan Padang - Pekanbaru dan bermimpi mempercepat pertumbuhan daerah di Sumbar, maka konsep pembangunan Jalan Tol Padang - Pekanbaru adalah solusi paling efektif. Sama juga dengan pembangunan flyover Sitinjau Luik juga merupakan solusi mengatasi ancaman kecelakaan dan kemacetan secara terus menerus di kawasan Padang - Solok.
Artinya, mau ditolak berkali kali oleh sekelompok masyarakat atas kebenaran versi mereka, tetapi pembangunan jalan tol Padang - Pekanbaru adalah solusi paling jitu dalam mengatasi kesulitan sarana jalan di ruas Padang - Pekanbaru ke depannya.
Secara teknis, tidak ada kesulitan bagi PT Hutama Karya untuk membangun jalan tol di Sumbar, termasuk dalam mengatasi problem demografi Sumbar yang rawan bencana. Salah satunya adalah dengan membuat terowongan yang akan menghubungkan daerah Sumbar dengan daerah Riau.
Untuk mengatasi tantangan terowongan ini, PT Hutama Karya bersama Universitas Andalas (Unand), Alumni Teknik Sipil ITB, Keluarga Alumni Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM), Ikatan Alumni Teknik Sipil Universitas Diponegoro (Undip), Alumni Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Masyarakat Terowongan dan Konstruksi Bawah Tanah Indonesia (MTKBTI) secara resmi mendirikan Pusat Studi Terowongan dan Infrastruktur Bawah Tanah (PUSTROIB).
Pendirian PUSTROIB ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman di Convention Hall Unand, Padang, pada Jum’at (5/6), sebagai langkah bersama dalam memperkuat ekosistem keilmuan dan teknologi terowongan di Indonesia.
PUSTROIB dibentuk sebagai pusat riset, inovasi, pengembangan kapasitas, konsultansi, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan di bidang terowongan. Kehadiran pusat studi ini diharapkan dapat memperkuat praktik rekayasa, kompetensi sumber daya manusia, serta pengambilan keputusan berbasis data, khususnya pada proyek-proyek dengan tantangan geologi, geoteknik, hidrologi, dan keselamatan operasional.
Rektor Unand Efa Yonnedi menyampaikan bahwa kolaborasi antara akademisi, dunia usaha, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan solusi yang relevan dan berkelanjutan. Ia menilai pendirian PUSTROIB merupakan bentuk nyata dari semangat kolaborasi tersebut, sekaligus menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya tentang jalan, jembatan, atau terowongan, tetapi juga fondasi kemajuan bangsa yang menghubungkan wilayah, memperkuat perekonomian, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Kehadiran pusat studi ini diharapkan menjadi wadah pengembangan riset, inovasi, dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang terowongan dan infrastruktur bawah tanah. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki kekuatan akademik dan riset, Unand siap berkontribusi melalui kajian ilmiah, teknologi, dan solusi inovatif untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang aman, efisien, dan berkelanjutan. Kami berharap PUSTROIB dapat berkembang menjadi pusat unggulan yang tidak hanya berkontribusi bagi Sumatra Barat, tetapi juga menjadi rujukan nasional,” ujar Efa.
Komisaris Utama Hutama Karya sekaligus Ketua Ikatan Alumni Unand Denny Abdi menyampaikan bahwa PUSTROIB diharapkan dapat mendorong penguasaan teknologi serta peningkatan kualitas pembangunan terowongan yang akan menjadi bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera.
Menurutnya, penguatan kompetensi tersebut pada akhirnya dapat mendukung pemerataan pembangunan antara Sumatra dan Jawa, termasuk melalui pengembangan Seksi Bukittinggi–Sicincin yang direncanakan memiliki terowongan Bukittinggi-Sicincin sepanjang 5,8 Km yang memperkuat konektivitas, sekaligus berpotensi menjadi daya tarik wisata baru dan penggerak ekonomi Sumatra Barat.
“Kita bisa melihat Indonesia tumbuh secara lebih seimbang. Sumatra dan Jawa dapat menjadi seperti twin engine sebuah pesawat terbang, yang bersama-sama mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih kuat dan merata. PUSTROIB diharapkan menjadi platform pengetahuan dan kajian, sehingga pengalaman dari pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera dapat menjadi pembelajaran penting bagi pengembangan infrastruktur nasional ke depan,” ujar Denny.
Direktur Operasi III Hutama Karya Iwan Hermawan menyampaikan bahwa pendirian PUSTROIB menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan pembangunan infrastruktur yang semakin kompleks.
Menurutnya dengan karakteristik medan dan geologi menantang membutuhkan kajian teknis yang kuat serta sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan praktisi profesional.
“Rencana terowongan pada Seksi Bukittinggi–Sicincin merupakan tantangan nasional yang tidak hanya menyangkut aspek teknis, tetapi juga lingkungan dan kekayaan sumber daya alam Sumatra Barat yang harus dijaga, sehingga dengan adanya kajian melalui PUSTROIB ini dapat memitigasi resiko konstruksi, meningkatkan aspek keselamatan, dan menjaga keberlanjutan,” ujar Iwan.
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi Ansharullah menyampaikan bahwa PUSTROIB menjadi langkah positif untuk mendukung pembangunan yang adaptif terhadap kondisi wilayah Sumatra Barat. Menurutnya, keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan komunitas profesional penting agar konektivitas dapat dibangun selaras dengan karakter daerah.
Deputi Bidang Infrastruktur Bappenas sekaligus Ketua Umum Ikatan Alumni Teknik Sipil ITB Abdul Malik Sadat Idris menilai PUSTROIB dapat memperkuat ekosistem pengetahuan dan teknologi di bidang terowongan.
Menurutnya, kebutuhan terhadap infrastruktur bawah tanah akan terus meningkat, baik untuk konektivitas transportasi, perkeretaapian, utilitas perkotaan, pengendalian banjir, maupun pengembangan kawasan strategis, sehingga perlu didukung oleh data, standar, teknologi, dan sumber daya manusia yang kuat.
Atas dasar itu, pembangunan jalan tol Padang - Pekanbaru bukan masalah besar bagi PT Hutama Karya. Selagi dukungan masyarakat Sumbar terhadap pengadaan lahan tol, khususnya ruas tol Sicincin - Bukittinggi, maka pembangunan jalan tol pasti dapat diwujudkan.
Ditengah banyak tekanan menolak pembangunan Tol di Sumbar, pihak PT Hutama Karya tetap terus melakukan upaya yang selaras untuk mewujudkan pembangunan jalan tol, khususnya ruas Sicincin - Bukittinggi.
Masukan dan kritisi dari masyarakat Sumbar terhadap pembangunan jalan Tol Sicincin - Padang terus dievaluasi dalam rapat monitoring yang melibatkan semua pihak yang terkait dalam pembangunan jalan tol.
Evaluasi menjadi hal yang sangat penting untuk mempertahankan kelanjutan pembangunan ruas Tol Padang - Pekanbaru, yang saat ini banyak mendapat tantangan dari berbagai elemen masyarakat Sumbar.
Direktur Operasi III Hutama Karya Iwan Hermawan menyampaikan bahwa pembangunan ruas Bukittinggi – Padang Panjang – Sicincin merupakan bagian penting dalam melanjutkan pengembangan Jalan Tol Trans Sumatera di Provinsi Sumatra Barat setelah beroperasinya Jalan Tol Padang – Sicincin.
Menurutnya, keberadaan ruas lanjutan ini akan memperkuat konektivitas kawasan, mempercepat mobilitas masyarakat, serta memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Iwan menambahkan bahwa Hutama Karya berkomitmen mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam setiap tahapan perencanaan dengan memperhatikan aspek teknis, keselamatan konstruksi, keberlanjutan lingkungan, serta penyelesaian pengadaan tanah secara transparan dan akuntabel melalui koordinasi yang erat dengan seluruh pihak terkait.
"Ruas Bukittinggi – Padang Panjang – Sicincin nantinya akan melengkapi jaringan Jalan Tol Trans Sumatera di Provinsi Sumatra Barat dan terintegrasi dengan Jalan Tol Padang – Sicincin yang telah beroperasi. Kehadirannya diharapkan dapat memangkas waktu tempuh perjalanan, meningkatkan efisiensi biaya logistik, memperlancar mobilitas masyarakat dan barang, serta membuka akses menuju pusat-pusat ekonomi, kawasan industri, dan destinasi wisata unggulan di Sumatra Barat," tutup Iwan.
Melalui sinergi yang telah terbangun antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh instansi terkait, pembangunan Jalan Tol Bukittinggi – Padang Panjang – Sicincin diharapkan dapat segera memasuki tahapan berikutnya sesuai dengan proses yang berlaku. Kehadiran ruas ini diharapkan menjadi katalis bagi peningkatan konektivitas, pemerataan pembangunan, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Sumatra Barat dan mendukung penyelesaian jaringan Jalan Tol Trans Sumatera.
Perubahan Trase
Meski dalam tantangan berat dalam pengadaan lahan, namun tahapan pembangunan jalan tol Padang - Pekanbaru terus dilanjutkan.
Saat ini, pihak Hutama Karya bersama pemangku daerah di Sumbar menyepakati penyempurnaan trase, pendetailan dokumen perencanaan pengadaan tanah, identifikasi aset negara maupun kawasan kehutanan yang terdampak, serta sinkronisasi dengan rencana tata ruang dan pengembangan wilayah di masing-masing kabupaten dan kota yang dilintasi.
Pemerintah daerah juga menyampaikan dukungan terhadap rencana pembangunan Jalan Tol Bukittinggi – Padang Panjang – Sicincin sebagai infrastruktur strategis yang diharapkan mampu membuka akses antarwilayah, meningkatkan daya saing daerah, memperlancar distribusi logistik, serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, dan investasi di Sumatra Barat.
Sementara itu, Kejaksaan Tinggi Provinsi Sumatra Barat menyatakan komitmennya untuk memberikan pendampingan hukum dalam proses pengadaan tanah guna memastikan setiap tahapan berjalan secara akuntabel dan sesuai ketentuan.
Pengalaman sebelumnya, seperti ditulis di atas, saat pembangunan jalan tol Padang - Sicincin sudah memberikan pengajaran bahwa meski berjalan lambat, namun jalan tol kebanggaan Sumbar itu berhasil diwujudkan.
Fakta juga kemudian membuktikan bahwa meski baru satu ruas, jalan tol Padang - Sicincin sudah berperan menjadi sarana jalan cepat pada saat hari besar nasional seperti Natal dan Tahun Baru, serta Hari Raya Idhul Fitri.
Jalan Tol Padang - Sicincin juga sudah membuktikan bahwa lalulintas harian (LHR)nya juga terus berkembang sejalan dengan dinamika lalulintas dari dan ke Padang.
Hampir semua 14 ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) mengalami pertumbuhan lalulintas harian yang sangat signifikan. Siapa kemudian menyangka satu ruas JTTS di Medan, Tol Medan - Binjai kemudian dibeli oleh pihak swasta karena LHRnya yang sangat tinggi.
Siapa kemudian menyangka Tol Sinaksak - Simpang Pane yang mengakselarasi jalan ke Danau Toba kini tumbuh menjadi ruas tol terpesat pertumbuhan LHRnya karena berhasil menjadi solusi kemacetan di kota Siantar.
Tidak terbayangkan juga masyarakat Provinsi Aceh kini punya lima ruas tol, yang keseluruhannya dipakai oleh masyarakatnya untuk bergerak dari satu titik perjalanan ke lainnya.
Bahkan, Propinsi Bengkulu dengan tol terpendeknya tetapi juga dipakai oleh masyarakatnya, karena mampu memutus lama waktu perjalanan.
Bertahun Meratap Macet
Kisah bumi Sumatera Barat dalam pandangan ahli jalan cepat di Indonesia adalah berupa 'sepotong surga' yang dititipkan Allah SWT di bumi. Keindahan alam Sumbar diakui mereka sebagai pemicu dibangunnya jalan tol Padang - Pekanbaru.
Selain juga menjadi penyambung kebutuhan pengusaha di Sumbar untuk menjajakan dagangannya ke luar Sumbar.
Selama ini kendala yang dihadapi Sumbar adalah tingkat kemacetan yang tinggi di ruas jalan propinsi Riau ke Sumbar. Bahkan di ruas jalan propinsi di Sumbar sendiri sering terjadi kemacetan akibat daya tampung kendaraan yang sudah maksimal.
Maka, pilihan membangun jalan tol Padang - Pekanbaru adalah solusi paling jitu mengatasi kendala transportasi ke Sumbar untuk ke depannya. Tinggal lagi, bagaimana membangun distribusi kendaraan ke Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang, Padang Pariaman dan kota Padang sendiri.
Jika kita cerdas mencermati penetapan lokasi tol, sebenarnya tujuannya adalah membagi pintu masuk ke luar tol, yang bermanfaat bagi daerah bersangkutan.
Jika dianalogikan cerita tentang tol ini sama dengan irigasi sawah. Semua petani pasti berharap air irigasi masuk ke sawah mereka. Sama juga dengan daerah, mereka pasti ingin pintu masuk dan keluar tol ada di daerah mereka.
Soal pembebasan lahan, nantilah dulu. Pasti tetap akan ada solusi. (*)
Awaluddin Awe





No comments:
Post a Comment