Oleh: Windy Okzera Puandri, Suci Rahmafitri, Dilanisa Novesy Triananda, Hawwa Saqinah Fersa, Muhammad Rais Rasyid [Universitas Andalas]
Nagari Koto Tangah, Tilatang Kamang, Agam — 13–15 Juli 2026
Bagi pelaku UMKM, uang masuk dan uang keluar sering kali hanya diingat di kepala. Kadang dicatat di kertas kecil, kadang malah tercampur dengan uang belanja rumah tangga. Akibatnya, ketika ditanya "sebulan ini untung berapa?", banyak yang hanya bisa menggaruk kepala. Kondisi seperti inilah yang mendorong mahasiswa KKN tahun 2026 di Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tilatang Kamang, Kabupaten Agam, untuk turun tangan. Selama tiga hari, tepatnya 13 hingga 15 Juli 2026, mahasiswa KKN menggelar program Pembukuan Keuangan Digital dan Manual untuk UMKM di tiga jorong: Jorong Ladang Tibarau, Jorong Koto Malintang, dan Jorong Koto Laweh.
Pada dua hari pertama, 13 dan 14 Juli, mahasiswa KKN melakukan survei ke setiap jorong untuk mengetahui kondisi UMKM di sana secara langsung. Dari hasil pengamatan, diketahui bahwa sebagian besar UMKM di ketiga jorong tersebut bergerak di bidang produksi kerupuk kamang dan kerupuk piriang—dua makanan khas yang sudah terkenal dari daerah ini. Selain itu, tidak sedikit pula yang membuka warung kelontong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat setempat. Namun, dari survei tersebut juga terlihat satu kesamaan: hampir semua pelaku usaha belum memiliki pencatatan keuangan yang teratur. Uang hasil jualan kerupuk atau warung kerap bercampur dengan uang belanja pribadi. Akibatnya, sulit bagi pelaku UMKM untuk mengetahui secara pasti apakah usaha yang dijalankan benar-benar menghasilkan keuntungan. Padahal, dengan pembukuan yang sederhana sekalipun, pelaku usaha bisa melihat gambaran keuangan dengan lebih jelas. Bahkan, catatan keuangan yang rapi bisa menjadi modal penting ketika pelaku UMKM ingin mengakses permodalan dari bank atau lembaga keuangan.
Setelah survei selesai, pada hari ketiga, 15 Juli, mahasiswa KKN membagikan buku pembukuan yang sudah dirancang sesederhana mungkin. Tujuannya agar mudah dipahami dan diisi oleh siapa pun, tanpa perlu latar belakang akuntansi. Ada tiga bagian utama dalam buku pembukuan yang dibagikan. Pertama, profil UMKM yang berisi nama usaha, nama pemilik, jenis usaha, dan alamat lengkap. Dengan adanya profil ini, pelaku UMKM jadi punya identitas usaha yang lebih jelas. Kedua, tabel pemasukan dan pengeluaran selama 12 bulan dengan kolom yang simpel: tanggal, keterangan transaksi, pemasukan, pengeluaran, dan saldo. Buku fisik diberikan langsung kepada setiap pelaku UMKM, sementara untuk versi digitalnya, pelaku UMKM mendapatkan file buku pembukuan yang bisa disimpan di HP atau laptop. File ini berguna jika buku fisiknya suatu saat habis atau rusak, sehingga pelaku UMKM bisa mencetak ulang sendiri tanpa harus meminta lagi kepada mahasiswa KKN. Ketiga, rekapan tahunan di bagian akhir yang berisi ringkasan total pemasukan, total pengeluaran, dan keuntungan bersih selama satu tahun. Cukup melihat satu halaman ini, pelaku usaha sudah tahu kondisi usahanya secara keseluruhan.
Pendampingan dilakukan secara langsung dengan mendatangi satu per satu pelaku UMKM di tempat usaha masing-masing. Mahasiswa KKN menjelaskan cara pengisian buku dan mempraktikkannya bersama pelaku usaha. Pendekatan personal ini dipilih karena setiap pelaku usaha memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda, sehingga perlu penjelasan yang disesuaikan. Selama sesi pendampingan, suasana berjalan santai dan banyak pelaku UMKM yang bercerita tentang kendala yang dihadapi, seperti harga bahan baku yang naik, persaingan harga, hingga kesulitan memasarkan produk. Dari obrolan ini, mahasiswa KKN juga mendapat pelajaran bahwa persoalan UMKM tidak hanya soal pembukuan, tapi juga banyak hal lain yang saling berkaitan.
Mahasiswa KKN menyadari bahwa tidak semua pelaku UMKM di Nagari Koto Tangah memiliki HP pintar atau terbiasa dengan teknologi. Karena itu, mahasiswa KKN menyediakan dua opsi: manual dan digital. Bagi pelaku UMKM yang tertarik dan punya perangkat, mahasiswa KKN membantu menyimpan file di HP dan menjelaskan cara menggunakannya. Bagi yang belum siap, pelaku UMKM cukup menggunakan buku fisik asalkan diisi secara rutin. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan mencatat, bukan soal media yang digunakan. Sebagai mahasiswa semester 7 yang baru pertama kali terjun langsung ke masyarakat, mahasiswa KKN sadar bahwa program tiga hari tidak akan mengubah kebiasaan pelaku UMKM secara instan. Namun, mahasiswa KKN berharap buku pembukuan yang diberikan bisa menjadi pemicu kesadaran untuk mulai tertib mencatat. Dengan catatan yang tertata, pelaku usaha bisa mengambil keputusan lebih baik, seperti mengetahui kapan harus menambah stok kerupuk, kapan harus menabung, atau bahkan kapan layak mengajukan pinjaman.
Program ini memang terbilang sederhana. Tidak ada teknologi canggih atau aplikasi rumit. Tapi justru di situlah letak kebijaksanaannya—menyesuaikan solusi dengan kondisi riil masyarakat. Karena perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Dan untuk UMKM di Nagari Koto Tangah, langkah kecil itu dimulai dari sebuah buku pembukuan dan pendampingan yang tulus dari mahasiswa KKN.
Penulis: Kelompok KKN Universitas Andalas
Nagari Koto Tangah, Tilatang Kamang, Agam, Juli 2026





No comments:
Post a Comment