PARIAMAN Kolaborasi apik tercipta di Desa Kampung Baru Padusunan, Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman. Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Andalas (Unand) bersama Pemerintah Desa setempat siap meluncurkan program Sistem Pertanian Terpadu (Integrated Farming) yang memadukan budi daya talas dan ikan.
Program pemberdayaan yang dianggarkan dengan estimasi biaya Rp14.000.000 ini dirancang untuk mendongkrak perekonomian warga sekaligus menciptakan ekosistem pertanian yang ramah lingkungan.
Kepala Desa Kampung Baru Padusunan sejatinya telah menginisiasi pembagian bibit talas kepada masyarakat. Namun, tantangan muncul karena talas hanya dijual mentah dan biaya bahan baku untuk menjadikannya produk bernilai jual seperti keripik sangat tinggi, yakni mencapai Rp15.000 per kilogram.
Menyikapi hal ini, mahasiswa Unand melalui Feasibility Study (Studi Kelayakan) yang mereka susun membawa visi pemberdayaan yang kuat. "Harapannya nanti masyarakat tidak hanya menjadi petani talas, tetapi juga dapat memperoleh manfaat lebih besar dari hasil olahan talas," demikian kutipan visi dalam laporan studi kelayakan tersebut.
Solusi cerdas yang ditawarkan tim KKN ini adalah mengintegrasikan kolam ikan dengan kebun talas. Air dan limbah organik ikan tidak dibuang percuma, melainkan dimanfaatkan sebagai pupuk alami penyubur talas. Sebaliknya, daun talas yang tumbuh subur disulap menjadi pakan ikan peliharaan.
Sistem "simbiosis mutualisme" yang diusung oleh tim mahasiswa ini terbukti efektif. Berdasarkan perhitungan analisis efisiensi bahan baku, metode tersebut mampu memangkas harga bahan baku talas hingga 53,3%, dari harga pasar Rp15.000 menjadi hanya Rp7.000 per kilogram.
Ketersediaan pasokan bahan baku lokal yang murah ini diproyeksikan akan mengerek kapasitas produksi warga secara masif. Produksi talas ditargetkan meroket 203%, dari 20 kilogram menjadi 60 kilogram per minggu.
Dari sisi bisnis UMKM, program yang direncanakan berjalan selama enam bulan ini sangat menjanjikan. Bahan baku tersebut akan diolah menjadi Keripik Talas Padusunan kemasan 150 gram.
Menurut analisis studi kelayakan, dengan kapasitas produksi 400 bungkus per bulan dan harga jual kompetitif, usaha ini bisa meraup pendapatan hingga Rp6.000.000 per bulan. Setelah dikurangi biaya operasional, masyarakat diproyeksikan mengantongi laba bersih Rp2.000.000 per bulan.
Angka Return Cost (R/C) Ratio usaha ini menyentuh angka 1,5 (lebih besar dari 1), yang artinya bisnis olahan keripik talas ini sangat layak dan menguntungkan untuk dijalankan masyarakat.
Untuk mendobrak pasar, tim KKN Unand juga merancang produk ini agar tampil menarik dengan desain kemasan modern dan varian rasa yang beragam. Selain rasa Original, Balado, dan BBQ, produk ini juga dikembangkan dengan rasa Pedas Manis, Jagung Manis, dan Cokelat.
Pemasarannya pun dirancang agresif. Tak hanya menyasar warung lokal dan BUMNag, Keripik Talas Padusunan juga disiapkan untuk merambah toko oleh-oleh se-Kota Pariaman, marketplace digital, hingga pameran bergengsi seperti Festival Tabuik. Sebagai penutup, tim KKN Unand menaruh harapan besar agar inovasi ini tidak sekadar menjadi program percontohan yang terhenti di tengah jalan, melainkan benar-benar terealisasi dan memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyaraka
t Kampung Baru Padusunan.





No comments:
Post a Comment