oleh : Yolla Nabila. Mahasiswa Unand
Membaca adalah jembatan menuju pengetahuan, tetapi menumbuhkan kecintaan terhadap aktivitas ini di kalangan anak usia dini bukanlah pekerjaan mudah. Di tengah gempuran gawai dan tayangan digital yang serba instan, minat baca anak-anak Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Berangkat dari keprihatinan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas (Unand) yang bertugas di Nagari Guguk, Kabupaten Sijunjung, merancang sebuah program kerja inovatif yang bertujuan menanamkan budaya literasi sejak dini. Program yang diberi nama "Sosialisasi Literasi”. Di mana program sosialisasi literasi yang diangkatkan berbasis Fabel dan Dongeng karena khusus menyasar siswa kelas 2 Sekolah Dasar dan dilaksanakan di dua lokasi sekaligus, yaitu SDN 05 Guguk dan SDN 18 Guguk. Kegiatan ini tidak hanya menjadi luaran dari rumpun ilmu Sastra Indonesia, tetapi juga wujud nyata pengabdian mahasiswa dalam memajukan pendidikan di daerah Sumatera Barat.
Pemilihan siswa kelas 2 SD sebagai target utama program ini bukan tanpa alasan. Pada rentang usia tujuh hingga delapan tahun, anak-anak umumnya telah memasuki tahap membaca lancar, namun belum tentu memiliki motivasi internal untuk melakukannya secara sukarela. Mereka masih membutuhkan stimulus yang menarik agar tidak menganggap membaca sebagai beban pelajaran semata. Oleh karena itu, tim KKN Unand memutuskan untuk menggunakan pendekatan yang dekat dengan dunia anak, yaitu cerita fabel atau dongeng binatang. Fabel dipilih karena karakter-karakternya yang lucu, alur yang sederhana, serta pesan moral yang mudah dipahami oleh pikiran anak-anak. Melalui fabel, anak-anak diajak untuk tidak sekadar mengenali huruf dan kata, tetapi juga menyelami makna di balik setiap cerita, seperti pentingnya kejujuran, kerja sama, dan kebaikan hati. Pendekatan ini sejalan dengan tujuan literasi itu sendiri, yaitu bukan hanya kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan memahami dan menerapkan nilai-nilai moral dalam keseharian.
Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan pada Kamis 23 Juli 2026 di SDN 05 Guguk dan Senin 27 Juli 2026 di SDN 18 Guguak dimulai dengan sesi pengenalan konsep dasar literasi yang dikemas dalam bahasa sederhana dan komunikatif. Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa literasi bukanlah sekadar kegiatan membaca buku teks yang membosankan, melainkan sebuah petualangan untuk menjelajahi dunia tanpa harus meninggalkan tempat duduk. Setelah pemahaman dasar terbangun, sesi dilanjutkan dengan diskusi interaktif mengenai manfaat membaca. Diskusi ringan ini berhasil mencairkan suasana dan membangun kedekatan emosional antara mahasiswa dan para siswa.
Memasuki inti kegiatan, mahasiswa memperkenalkan berbagai jenis bacaan yang sesuai untuk anak-anak, dengan fokus utama pada fabel dan dongeng Nusantara, di mana mahasiswa juga berinovasi dengan membuat kelompok belajar dan didampingi oleh kakak fasilitator untuk membantu siswa berdiskusi. Namun, yang membuat sesi ini istimewa adalah keterlibatan aktif para siswa. Pada awalnya, beberapa anak terlihat malu dan ragu, namun setelah mendapat dorongan dan tepuk tangan dari mahasiswa keberanian mereka perlahan muncul. Satu per satu siswa bergantian menceritakan dongeng favorit mereka dengan gaya dan ekspresi yang menggemaskan kepada kakak fasilitator. Sesi bercerita ini ternyata menjadi momen paling berkesan, karena selain mengasah kemampuan berbicara di depan umum, kegiatan ini juga membangun rasa percaya diri anak-anak Nagari Guguk yang sejak kecil terbiasa dengan budaya bertutur secara lisan.
Agar suasana belajar tidak terkesan monoton, tim KKN Unand merancang sesi mini games yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian acara. Permainan pertama adalah menonton video dongeng animasi yang diputar melalui proyektor sederhana. Anak-anak duduk dengan tertib dan mata berbinar-binar saat menyaksikan tokoh-tokoh Dongeng Sang Kancil yang bergerak di layar. Setelah pemutaran selesai, mahasiswa memimpin sesi tanya jawab untuk menguji daya ingat dan pemahaman mereka terhadap alur cerita. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti "Siapa yang ingin menjadi Kancil?" atau " Siapa yang ingin menjadi Buaya?" disambut dengan semangat luar biasa oleh para siswa yang berlomba-lomba mengacungkan tangan. Permainan kedua, yang menjadi favorit mutlak, adalah penyusunan puzzel bergambar karakter binatang dari cerita fabel yang telah dipelajari. Dalam permainan ini, para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok menerima potongan-potongan puzzel yang jika disusun dengan benar akan membentuk gambar tokoh seperti burung, monyet, gajah, beruang, dll. Kegiatan ini tidak hanya mengasah kemampuan motorik halus dan kerja sama tim, tetapi juga memperkuat ingatan visual anak-anak terhadap tokoh-tokoh dalam cerita. Saat potongan terakhir berhasil dipasang, sorak-sorai kegembiraan memenuhi ruang kelas, menandakan bahwa proses belajar telah berhasil menyentuh hati mereka, “Senang karena bisa menonton dongeng kancil,” kata Alifia, siswa kelas 2 SDN 18 Nagari Guguk, dan “Senang bisa dengar dongeng,” ucap murid kelas 2 SDN 05 Guguk.
Antusiasme yang ditunjukkan oleh para siswa selama kegiatan berlangsung menjadi bukti bahwa pendekatan kreatif dalam literasi benar-benar efektif. Kepala sekolah dan para guru di SDN 05 Guguk dan SDN 18 Guguak menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada mahasiswa KKN Unand. Pihak sekolah menilai bahwa program ini sangat membantu upaya sekolah dalam menanamkan budaya baca, terutama di masa transisi pasca-pandemi di mana banyak anak masih tertinggal dalam aspek literasi dasar. Kepala sekolah SDN 18 Nagari Guguk, Bapak Mulyadi, S.Pd, “Ada rasa bangga dan haru kami (Guru SDN 18 Guguk) dengan keterampilan yang dimiliki dan dikembangkan oleh mahasiswa KKN Unand dalam menggalakkan pembelajaran literasi melalui fabel, dongeng, dan permainan seperti ini seharusnya lebih sering dilakukan karena sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini yang lebih menyukai aktivitas menyenangkan dibandingkan ceramah panjang.” “Kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan bahkan dikembangkan menjadi program rutin di lingkungan sekolah,” ucap Kepala Sekolah SDN 05 Guguk.
Lebih dari sekadar kegiatan satu hari, sosialisasi literasi ini diharapkan meninggalkan dampak jangka panjang bagi siswa kelas 2 SD di Nagari Guguk. Mahasiswa KKN Unand percaya bahwa benih-benih kecintaan membaca yang ditanam melalui kegembiraan akan tumbuh menjadi kebiasaan positif di masa depan. Dengan menjadikan fabel dan dongeng sebagai pintu masuk, anak-anak belajar bahwa membaca adalah aktivitas yang menghibur sekaligus mencerdaskan, bukan tugas yang membosankan. Program ini juga membuktikan bahwa mahasiswa KKN, sebagai agen perubahan di tengah masyarakat, mampu menerapkan keilmuan secara praktis untuk menjawab permasalahan nyata di lapangan. Bagi kami tim KKN Unand, senyum dan tawa anak-anak Nagari Guguk adalah hadiah paling berharga yang menjadi energi tersendiri untuk terus berkontribusi bagi kemajuan pendidikan di Sumatera Barat. Ke depan, terselip harapan bahwa program literasi seperti ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk peduli terhadap masa depan generasi penerus bangsa, karena bangsa yang maju adalah bangsa yang gemar membaca, dan kebiasaan itu harus dimulai sejak langkah pertama anak-anak melangkah di bangku sekolah dasar.





No comments:
Post a Comment