Di Balik Riuh PPDB Sumbar 2026: Antara Ambisi Sekolah Favorit dan Fenomena Titik Buta Zonasi - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Sunday, July 12, 2026

Di Balik Riuh PPDB Sumbar 2026: Antara Ambisi Sekolah Favorit dan Fenomena Titik Buta Zonasi




Sumatera Barat - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMAN dan SMKN di Sumatera Barat tahun ajaran 2026/2027 telah usai. Di balik layar sistem daring (onlin) yang berjalan dengan empat jalur-prestasi, afirmasi, mutasi, dan wilayah-terdapat riak-riak kekecewaan dari sejumlah orang tua yang harus menelan pil pahit melihat putra-putrinya gagal menembus sekolah impian. 


Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, saat bincang santai bersama awak media tak menampik adanya dinamika ini. "Penyelenggaraan penerimaan berlangsung dengan baik, walaupun ada keluhan dengan beragam judul kekecewaan bagi putra-putrinya yang gagal dalam seleksi berbasis onlin," ujar Habibul. 


Fenomena ini memunculkan berbagai cerita dari lapangan. Banyak orang tua yang merasa bingung dan kecewa, terutama mereka yang rumahnya berada sangat dekat dengan sekolah tujuan, namun tetap terlempar dari daftar penerimaan. Menanggapi hal ini, Habibul menegaskan bahwa Dinas Pendidikan tidak tinggal diam terhadap siasat "dadakan" jelang PPDB. 


"Bukan tak ada yang menjelang masa penerimaan siswa sengaja memperoleh Kartu Keluarga (KK) supaya berdekatan dengan sekolah rebutan. Tetapi, kita menggunakan data Dukcapil, bukan sekadar pisik KK. 

Sehingga yang berharap dekat dengan sekolah yang hanya bermodalkan KK semata pasti terlacak oleh data Dukcapil," urai Habibul tegas. 


Persoalan lain mencuat adalah dugaan kecurangan pada jalur afirmasi yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu.

Di Kantor Dinas Pendidikan Sumbar, terdengar bisik-bisik dan curhat orang tua yang mendapati kabar adanya warga berekonomi mampu namun rela meminta Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari pemerintah terendah demi meloloskan anaknya ke sekolah favorit. 


Terkait tudingan ini, Habibul membantah keras adanya celah manipulasi. Pihaknya memiliki standar penyaringan data yang ketat. "Takkan bisa manipulasi data warga miskin dengan penduduk yang mampu secara ekonomi demi diterima pada jalur afirmasi. Kami menggunakan DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial) untuk penentuan data lengkap diri pribadi warga mampu dan tak mampu secara ekonomi," jelasnya. 


Ada pula ironi lain dari orang tua yang anaknya gagal karena bersikukuh hanya memilih satu SMAN saja. Alasannya klasik namun manusiawi: kekhawatiran orang tua akan pergaulan jika sang anak bersekolah di tempat lain yang tingkat kedisiplinannya diragukan.

Menghadapi kecemasan ini, Habibul memastikan bahwa seluruh sekolah, termasuk tenaga pendidik dan pimpinannya, berada dalam pengawasan dan lingkaran kedisiplinan yang matang. 


Habibul juga membeberkan fakta menarik mengenai kapasitas ruang belajar. Secara umum, daya tampung SLTA di Sumbar terbilang cukup. Namun, masalah klasik muncul karena penumpukkan peminat (animo berlebih) di sekolah tertentu, yang berdampak pada minimnya peminat di sekolah lainnya. 

Ketidakseimbangan inilah yang menjadi faktor utama gagalnya langkah para calon siswa. 


Kisah PPDB ini disempurnakan oleh fenomena urbanisasi pendidikan. Kota Padang masih menjadi magnet utama bagi para generasi muda di daerah untuk menimba ilmu.

Ironisnya, ditengah membludaknya pendaftar di sekolah perkotaan, ada sekolah-sekolah di pelosok daerah atau kampung halaman yang justru kekurangan murid. Pada akhirnya, impian akan "almamater favorit" seringkali mengalahkan rasionalitas ketersedian ruang belajar, menyisakan cerita perjuangan pendidikan yang tak pernah usai setiap tahunnya.(Obral Chaniago).

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS