PADANG, Jurnalissumbar.com - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sumatera Barat mempertegas komitmennya dalam mengelola kawasan hutan secara berkelanjutan melalui skema Perhutanan Sosial. Program ini dirancang untuk menyeimbangkan dua tujuan: menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, Dr. Ferdinal Asmin, S. TP, MP, saat bincang santai bersama media, Kamis (11/6/2026) sore di kantornya.
Ferdinal menjelaskan, Perhutanan Sosial merupakan pengelolaan hutan lestari yang mencakup skema Hutan Adat, Hutan Nagari, Hutan Masyarakat, dan Hutan Kemitraan.
"Usaha-usaha masyarakat, termasuk kemauan menjaga hutan, itu juga dikembangkan dalam program Perhutanan Sosial," tegas Ferdinal.
Menurutnya, paradigma yang dibangun adalah menggerakkan ekonomi dari dalam hutan tanpa merusaknya, salah satunya melalui potensi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
"Beragam jenis usaha yang menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat Perhutanan Sosial sebagai ekonomi yang tumbuh dari dalam hutan (non-kayu) itu seperti budidaya madu galo-galo. Inilah salah satu contoh bentuk usaha yang tidak merusak hutan, termasuk pengembangan dengan bibit pohon yang berbuah pada hutan rakyat," papar Ferdinal.
Untuk mendukung produktivitas masyarakat pada tahun 2026 ini, Dishut Sumbar menargetkan distribusi 200 ribu bibit pohon kepada masyarakat. Fokus pengembangan diarahkan pada komoditas bernilai ekonomis tinggi.
Ferdinal merinci, prinsip pengelolaan di luar kawasan hutan negara difokuskan pada pengayaan usaha produktif. Komposisinya diatur sedemikian rupa, yakni 80 persen tanaman pohon berbuah-seperti manggis dan kopi-serta 20 persen tanaman kayu untuk kelestarian hutan.
Lebih jauh, pemerintah tidak hanya melepas masyarakat setelah memberikan bibit, tetapi juga memfasilitasi proses hilirisasi.
"Tugas pemerintah bukan hanya sampai di situ, tetapi juga dilakukan proses pengembangan hilirisasi hasil dari tanaman pohon yang berbuah menjadi dampak usaha produsen yang lebih produktif lagi," ungkapnya.
Dengan pendekatan ini, Ferdinal optimis ekonomi di sekitar hutan akan tumbuh. "Sehingga ekonomi sekitar hutan itu hidup. Dengan keyakinan kita, ketika ekonomi mereka hidup, hutan di sekitar masyarakat akan terjaga dengan baik, dan masyarakat tidak merusak hutan aktivitasnya," pungkas Ferdinal.(Obral Chaniago).





No comments:
Post a Comment