Bentuk kepemimpinan dan pemerintahan politik dalam perspektif gender dalam kemunculan Sherly Tjoanda Laos - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Sunday, June 28, 2026

Bentuk kepemimpinan dan pemerintahan politik dalam perspektif gender dalam kemunculan Sherly Tjoanda Laos


Oleh M. Jovan Fadlal NIM : 2310831024Matakuliah : Kepemimpinan dan Pemerintahan PolitikDosen : Mhd Fajri, S.IP., M.IP.




Kepemimpinan bukan sekedar atasan yang menuruh bawahan bekerja lalu atasan menikmati hasilnya sendiri. 

Lebih dari itu, kepemimpinan merupakan sebuah kemampuan yang muncul dari pribadi seseorang dalam mempengharui, mengarahkan, dan menggerakkan orang lain untuk meraih tujuan ataupun cita-cita bersama. Sayangnya makna dari pemimpin tersebut cenderung buruk, dimana kepemimpinan tidak sepenuhnya netral karena di pengharuhi oleh konstruksi sosial dan termasuk persoalan gender. Indonesia sendiri dalam politik dan pemerintahan dilakukan dengan mengadakan pemungutan suara melalui pemilu atau pilkada untuk mendapatkan pemimpin yang sesuai dengan tujuan masyarakat secara luas. Pemimpin akan selalu dekat dengan harapan masyarakat, maka dari itu segala pertimbangan bisa dipikirkan oleh masyarakat dalam menentukan pilihan pemimpinnya, baik itu berdasarkan aspek sosiologis, psikologis, ataupun rasional sesuai apa hal yang bisa menjawab kepuasan masyarakat dalam menentukan pilihan apalagi kepemimpinan pada tingkat lokal.Bukan hanya itu, pada sisi kekuasaan ditingkat lokal sangat fleksibel dan transisi kekuasaan di tingkat lokal seringkali dipicu oleh peristiwa luar biasa diluar prediksi atau dugaan umum, yang pada akhirnya memaksa untuk melakukan penyusunan Kembali kepemimpinan secara instan. Seperti di Maluku Utara, naiknya Sherly Tjoand Laos sebagai Gubernur Maluku Utara pada 20 Februari 2025 memberikan paradigma atau sudut pandang yang baru sebagai tonggak Sejarah baru yaitu sebagai Gubernur Perempuan pertama di Provinsi ini. Disini terlihat bahwa jalan untuk mendapatkan kursi kekuasaan ini tidak melalui proses kaderisasi politik konvensional. Sherly didorong ke arena pemilihan gubernur menyusul tragedi ledakan kapal cepat Bella 72 pada tanggal 12 October 2024 yang menewaskan suaminya, Benny Laos, yang saat itu merupakan calon gubernur dominan dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah 2024.Gebrakan yang berani dilakukan oleh delapan koalisi partai politik untuk menerobos paradigma yang sudah bertahan dengan mencalonkan Sherly sebagai pengganti mendiang suaminya menunjukkan adanya pergeseran dinamika pragmatism elite dan mobilisasi simpati publik yang sangat kuat. Stigma yang berkembang dalam dinamika politik lokal Maluku Utara yang bercorak maskulin, patriarkal, dan dinamis, mulai runtuh dengan hadirnya Sherly sebagai pemimpin eksekutif yang menghadirkan paradoks sosiologis yang kompleks. Fenomena ini memberikan kemenerikan untuk dibedah kepemimpinan Sherly Tjoanda melalui lensa teori gender dan kepemimpinan (gender and leadership).Kondisi dinamika politik di Maluku Utara memperlihtkan bagaimana sempitnya ruang politik bagi Perempuan atas stigma-stigma yang ada dan posisi yang dihadapi oleh Sherly saat ini memberikan salah antitesis bahwa kehadiran Perempuan bisa ambil peran sebagai pemimpin. Dijelaskan pada teori yang diberikan oleh Michelle K. Ryan dan S. Alexander Haslam pada tahun 2005, yang menjelaskan bahwa munculnya pemimpin Perempuan bukan murni atas keberpihakan ataupun dukungan masyarakat, melainkan sering kali diberi kesempatan ketika moment-moment kritis atau situasi yang mendesak saja, yang dalam hal ini berorientasikan pada guncangan politik pasca wafatnya Benny Laos (Suami Sherly). Pada kasus lainnya juga bisa dilihat pada fenomena politik di Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, bahwa kemenangan Annisa Suci Ramadhani didasari karena hanya menjadi calon Tunggal atau hanya melawan kotak kosong. Pada sisi lainnya juga walaupun sudah memiliki jabatan, mereka masih memiliki posisi yang rentan ketika dihadapi kesulitan dan gagal dan kegagalan itu sering kali di diatribusikan pada gender (Perempuan), bukan pada sajian kondisi kompleksitas krisisnya.Dalam kondisi seperti ini kritik yang muncul dan menjadi kewaspadaan terletak pada aspek politik yang terjadi, yatu pada lingkaran elit politik yang mengusungnya atau koalisi partai politik. Kenapa demikia? Ada kemungkinan resiko nyata yang bisa terjadi berupa "sandera politik" oleh kehadiran oligarki lokal yang Menyusun alur berpikir yang mengatakan bahwa anggapan terhadap gender perempuan akan lebih mudah dikontrol atau disetir disbanding mendiang suaminya. Langkah yang dilakukan oleh Sherly harus tepat untuk menghadapi kondisi yang sulit ini agar tidak berakhir sebagai anomali atau pemanis Sejarah, melainkan menjadi cetak biru baru. Sejauh ini kinerja yang dilakukan Sherly sudah baik dengan salah satu program unggulan seperti BOSDA atau reaktivasi infrastruktur, namun beliau harus mengejar penggiringan kondisi sosial dengan mengonversi modal sosial berupa simpati publik menjadi legitimasi teknokratis.Sherly Tjoanda Laos telah melewati fase paling menentukan dalam proses transisi kepemimpinan politik di Indonesia khususnya di Provinsi Maluku Utara. Namun, tantangan sesungguhnya baru dimulai ketika persoalan utamanya bukan lagi bagaimana memperoleh legitimasi publik di tengah duka yang mengiringi kemunculannya sebagai pemimpin, melainkan bagaimana membangun kepemimpinan yang mampu menembus kuatnya budaya patriarki yang masih mengakar dalam birokrasi Maluku Utara. Keberhasilannya tidak hanya akan diukur dari capaian program pemerintahan, tetapi juga dari kemampuannya membuktikan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak ditentukan oleh jenis kelamin ataupun kemampuan meniru gaya kepemimpinan laki-laki. Jika ia mampu menghadirkan tata kelola pemerintahan yang inklusif, responsif, dan berorientasi pada kepentingan publik, maka kepemimpinannya akan menjadi bukti bahwa perempuan tidak perlu mengadopsi karakter maskulin untuk menjalankan kekuasaan secara efektif. Pada titik itulah, kepemimpinan Sherly tidak hanya menjadi kisah tentang pergantian kepala daerah, tetapi juga menjadi penanda bahwa politik Indonesia perlahan bergerak menuju ruang kekuasaan yang lebih setara dan lebih terbuka bagi siapa pun yang memiliki kapasitas untuk memimpin.REFERENSIBaker, K., & Palmieri, S. (2023). Can women dynasty politicians disrupt social norms of political leadership? A proposed typology of normative change. International Political Science Review, 44(1), 122-136.Nisa, B. S. H., Putri, S. S., & Indriyany, I. A. (2026). Triple minority dalam ruang patriarki: Gendered leadership Sherly Tjoanda sebagai Gubernur Maluku Utara. Journal of Gender Equality and Social Inclusion (gesi), 5(1), 1-16.Widiyanti, A., Damayanti, N. A., & Indriyani, I. A. (2026). Identity-Based Challenges in the Political Leadership of Sherly Tjoanda in North Maluku. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, 3(8), 56-68.Muhtadi, B. (2026, January 29). Indonesia's regional elections (Pilkada) as democracy's last line of defence. Fulcrum.

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS