Murai Batu di Persimpangan: Ketika Perburuan Menggerus Populasi dan Keragaman Genetik Terancam Hilang - Jurnalis Sumbar | Portal Berita

Breaking

" Dewan Komisaris PT.Piliang intermaya Media Beserta Wartawan/ i JurnalisSumbar mengucapkan " Selamat Ramadhan 1447 | 2026"

Thursday, June 25, 2026

Murai Batu di Persimpangan: Ketika Perburuan Menggerus Populasi dan Keragaman Genetik Terancam Hilang

 


 Oleh : Putri Widya Astuti


Murai batu salah satu burung yang sangat digemari, kicaunya yang unik dan menarik serta tarian ekornya yang aktraktif membuat harga jualnya melonjak tinggi. Hal ini membuat ladang bisinis yang menjanjikan karena bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah.


Tingginya minat pasar dan harga jual yang mahal membuat perburuan burung murai batu dialam meningkat. Ancaman serius bagi kelangsungan hidupnya dialam karena berdasarkan data IUCN tahun 2020 statusnya terus mengalami penurunan drastis di alam liar. Tanpa disadari kegaitan perburuan ini mengancam populasi burung murai batu. Untuk itu, diperlukan upaya konservasi melalui program penangkaran. Banyak orang yang mulai mencoba mengembangbiakan burung murai ini, mulai dari para hobbies sampai dari penangkaran. Akan tetapi, kecilnya populasi di penangkaran mencadi topik serius mengenai genetik terutama keragaman genetik. karena keragamangenetik sendiri berperan langsung untuk ketahanan fisik dan kesehatan burung. Keragaman yang rendah akan mengancam kepada kepunahan karena bisa memunculkan berbagai penyakit serius pada burung. Selain itu, perlunya informasi genetik dalam program penangkaran untuk membuat rencana breeding dan menjaga keragaman genetik. 

Penelitian yang dilakukan oleh Putri (Mahasiswa program studi S1 Biologi Universitas Andalas), menggunakan tiga kelompok burung yang diteliti yaitu dari burung yang dijual (kios burung), burung yang dilombakan (pencinta burung) serta burung yang ditangkarkan (penangkaran burung) didapatkan hasil bahwa keragaman genetik burung murai batu di kota padang tergolong sangat rendah dengan nilai 0,2 (Kategori nilai keragaman genetik). Nilai ini berada di ambang batas paling menghawatirkan. 

Nilai yang rendah ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Misalnya saja burung yang ditangkap di alam liar, rendahnya nilai keragaman genetik bisa disebabkan karena adanya kerusakan hutan tempat burung murai batu hidup. Hutan yang rusak menyebabkan fragmentasi habitat burung yang mengarah pada kecilnya populasi burung mutai di hutan. Nilai keragaman yang rendah di penangkaran disebabkan karena individu yang terbatas pada penangkaran dan kesalahan dalam strategi perkawinan burung murai batu. Yang mana burung murai batu hanya dikawinkan dengan individu di penangkaran tersebut, tidak dengan burung dari berbagai asal. Kedua hal tersebut mengarah pada resiko inbreeding (perkawinan berkerabat dekat). Terjadinya inbreeding tersebut merupakan kesalahan dalam program penangkaran. Tentu saja ini sangat menghwatirkan karena rendahnya nilai keragaman genetik berpengaruh pada banyak hal, seperti fisik, kesehatan dan juga penampilan dari burung murai batu. 

Dengan demikian, dari penelitian yang dilakukan penjualan burung murai batu liar hasil tangkapan di hutan harus dihentikan, karena populasinya terancam sehingga terus menurun setiap tahun. Untuk itu, upaya yang dapat dilakukan agar tetap memenuhi permintaan pasar adalah dengan melakukan penjualan burung murai batu hasil tangkaran, dengan catatan penangkar harus mempelajari bagaimana sistem perkawinan yang berasal dari berbagai sumber indukan agar meningkatkan keragaman genetik burung murai batu. 

No comments:

Post a Comment

Kota Padang



"Prakiraan Cuaca Sabtu 24 Januari 2026"




"BOFET HARAPAN PERI"



SELAMAT DATANG DI SEMOGA ANDA PUAS